NTB Kirim Bantuan Personel hingga Alat Berat Bantu Penanganan Gempa NTT
Acos Abdul Qodir August 19, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengirim bantuan logistik, tim medis, alat berat, dan kendaraan untuk membantu penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026). Bantuan NTB diberangkatkan sehari kemudian, setelah Pemprov NTB berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT mengenai kebutuhan di wilayah terdampak.

Pelepasan armada dan tim bantuan dipimpin Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Mataram, Minggu (16/8/2026).

Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak instruksi diberikan, Pemprov NTB menyiagakan hampir 30 armada kendaraan serta mengalokasikan anggaran operasional dan logistik sebesar Rp1 miliar.

Iqbal mengatakan Pemprov NTB langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk mengetahui kebutuhan di wilayah terdampak.

“Beberapa saat setelah gempa, kami sudah langsung berkomunikasi dengan Gubernur NTT, Pak Melki, untuk menyampaikan kesiapan NTB membantu,” kata Iqbal, Selasa (18/8/2026).

Sebagian bahan makanan pokok dibeli di Kota Bima, sementara bantuan dari Mataram didominasi obat-obatan dari Universitas Mataram, rumah sakit, dan lembaga terkait.

NTB juga mengirim alat berat dan kendaraan penggerak empat roda (4WD) untuk membersihkan reruntuhan dan membuka akses yang terputus akibat longsor. Bantuan disalurkan melalui posko di Ende dan Labuan Bajo, dengan fokus penanganan di wilayah Manggarai bagian utara. Selain itu, turut menerjunkan tim pemulihan trauma dan tim medis lapangan untuk membantu penanganan korban di wilayah terdampak.

Baca juga: Kapal SAR Antareja 223 Dikerahkan ke Lokasi Gempa NTT, Bawa 40 Tim Medis TNI AD

Iqbal mengatakan pengalaman menangani gempa NTB pada 2018 menjadi salah satu pelajaran dalam merespons bencana di NTT.

“Kecepatan mengambil keputusan dan ketepatan bantuan menjadi sangat penting,” kata Iqbal.

Pengalaman penanganan bencana juga pernah dijalani Iqbal saat menjabat Duta Besar RI untuk Turki. Ketika gempa Turki-Suriah pada 2023, ia terlibat dalam penanganan dan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) terdampak. Sebanyak 123 WNI dievakuasi dari empat titik.

“Pengalaman 2018 mengajarkan kita bahwa pembersihan pemukiman dan pemulihan trauma, khususnya bagi anak-anak, sangat vital agar kehidupan warga bisa segera bangkit,” ujar Iqbal.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Selasa (18/8/2026), gempa NTT menyebabkan 70 orang meninggal dunia dan 40.040 warga mengungsi.

Sebanyak 11.925 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan. Kerusakan rumah paling banyak tercatat di Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.

Penanganan di wilayah terdampak masih mencakup pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi serta pemulihan akses yang terdampak gempa dan longsor. (Tribunnews.com/Tribunlombok.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.