TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tengah menunggu hasil verifikasi untuk menjadi ProKlim Lestari 2026.
Sangurejo masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Dari jumlah tersebut, enam lokasi berada di DKI Jakarta dan 26 lokasi lainnya berasal dari luar DKI Jakarta.
Verifikasi terhadap Sangurejo dijadwalkan berlangsung pada 20-21 Agustus 2026.
Jika berhasil, Sangurejo berpeluang menjadi lokasi pertama di DIY yang meraih predikat ProKlim Lestari. Sebelumnya, kampung tersebut telah memperoleh Trofi ProKlim Utama tingkat nasional pada 2024.
Namun, perjalanan Sangurejo menuju kategori tertinggi ProKlim bukan semata soal mempertahankan program lingkungan di satu wilayah. Salah satu modal utama yang kini dibawa dalam proses verifikasi adalah kemampuan Sangurejo membangun jejaring dan menularkan praktik baik ke wilayah lain.
Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan Sangurejo telah memiliki 12 lokasi mitra binaan. Jumlah tersebut melampaui ketentuan nominasi ProKlim Lestari yang mensyaratkan sedikitnya 10 lokasi mitra binaan.
Baca juga: Beri Apresiasi, Sri Sultan HB X Sebut Paskibraka DIY 2026 Cerminkan Karakter Asli Pemuda Yogyakarta
"Di setiap SMK pasti punya tantangan berbeda-beda dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Rencanakan dan langsung tindak lanjuti gebrakan apa yang akan dibikin," ujar Agus.
Dari Kampung Sendiri ke Wilayah Mitra
Jejaring mitra binaan Sangurejo tersebar di sejumlah padukuhan, antara lain Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo.
Keberadaan mitra binaan tersebut menunjukkan bahwa gerakan ProKlim Sangurejo tidak berhenti pada kegiatan lingkungan di wilayahnya sendiri. Praktik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dikembangkan warga juga diarahkan agar dapat diterapkan di kawasan lain.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, mengatakan kekuatan Sangurejo justru terletak pada kemampuan membangun kolaborasi lintas pihak.
"Ini bukan pekerjaan satu orang. Kami punya banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Sekarang energi dan semangat itu harus kami satukan untuk menghadapi verifikasi ini. Valuasi keanekaragaman hayati dan sosial Kampung Sangurejo sudah semakin menjulang," kata Atus.
Menurut Atus, pengembangan ProKlim Sangurejo melibatkan pemerintah, akademisi, peneliti, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, komunitas, hingga Gerakan Pramuka.
Sejumlah perguruan tinggi juga terlibat dalam pendampingan, penelitian, pengembangan pengetahuan, maupun pemberdayaan masyarakat. Di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Institut Pertanian Stiper Yogyakarta (Instiper), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Islam Indonesia (UII).
Kolaborasi tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman pohon, konservasi tanah dan air, pengelolaan sampah, penelitian keanekaragaman hayati, hingga pengembangan kawasan sekitar Embung Kaliaji.
Dari Kampung Pak Kumis hingga ProKlim Utama
Transformasi Sangurejo menjadi kampung yang aktif dalam gerakan lingkungan tidak berlangsung singkat.
Wilayah tersebut sebelumnya dikenal sebagai kawasan "Pak Kumis" yang padat, kumuh, dan miskin. Perubahan kemudian dilakukan secara bertahap melalui gerakan warga dan kolaborasi berbagai pihak.
Sekitar 2021-2022, Sangurejo mulai merintis Program Kampung Iklim bersama Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) dalam bingkai Kampung Pramuka binaan Kwarda DIY.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Sangurejo meraih Trofi ProKlim Utama tingkat nasional pada 2024. Setelah capaian tersebut, warga tidak berhenti dan terus mengembangkan program agar dapat memenuhi kriteria ProKlim Lestari.
Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, mengatakan penghargaan ProKlim Utama merupakan hasil kerja bersama warga dengan pemerintah, mulai dari pemerintah kalurahan, kapanewon, hingga Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup.
Sangurejo juga sebelumnya memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY.
"Amal saleh ini mari kita perjuangkan bersama. Semua potensi yang ada di kita dan yang sudah pernah kita lakukan mari kita tampilkan semaksimal mungkin. Insya Allah ini menjadi kebanggaan kita semua dan menjadi momentum untuk terus mengembangkan gerakan lingkungan di tingkat DIY maupun nasional," ujar Huda.
Limbah Kulit Salak Jadi Produk Bernilai
Salah satu praktik pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan Sangurejo adalah ecoprint dengan memanfaatkan bahan-bahan dari lingkungan sekitar, termasuk limbah kulit salak.
Produk ecoprint tersebut dikembangkan melalui pelatihan yang pada awalnya melibatkan Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI) DIY dan Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) LDII DIY.
Produk yang kemudian dikenal dengan nama ECSA atau Ecoprint & Craft Sangurejo tersebut tidak hanya menjadi aktivitas pemberdayaan warga. Karyanya telah menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden di Belanda dan mengikuti berbagai pameran tingkat nasional.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan lingkungan Sangurejo. Pendampingan dilakukan melalui berbagai gerakan, di antaranya Kyai Peduli Sampah, Sampah Jadi Jariyah, Jugangan in Omah (Jugangin Om), serta pendekatan Dai ProKlim.
Program tersebut dikembangkan bersama Komisi Dakwah MUI DIY, Kanwil Kemenag DIY dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Jawa pada 2023.
Ekoteologi Jadi Pendekatan
Keunikan lain dalam pengembangan ProKlim Sangurejo adalah penggunaan pendekatan ekoteologi. Gerakan menjaga lingkungan tidak hanya diposisikan sebagai persoalan teknis, tetapi juga dikaitkan dengan nilai agama dan tanggung jawab moral masyarakat.
Konsep tersebut mengintegrasikan nilai fikih lingkungan atau al-bi'ah, amanah, mizan atau keseimbangan, serta larangan melakukan fasad atau kerusakan.
Implementasinya dilakukan melalui berbagai kegiatan nyata, seperti edukasi lingkungan, penanaman pohon, rehabilitasi lahan, pengelolaan sampah, dan konservasi air.
Pendekatan tersebut membuat isu lingkungan tidak hanya dibicarakan dalam ruang-ruang teknis, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat.
Gerakan Sangurejo bahkan telah menjadi bagian dari pembahasan dalam buku Gerakan Green Islam di Indonesia yang diterbitkan UIN Jakarta dan Dakwah Ekologi: Fikih Lingkungan (Al-Bi'ah) untuk Keberlanjutan Peradaban dari Istana Agency Yogyakarta.
Kini, seluruh pengalaman tersebut menjadi modal Sangurejo menghadapi verifikasi ProKlim Lestari.
Agus mengatakan persiapan dilakukan secara gotong royong, mulai dari administrasi, materi presentasi, pameran, penataan lokasi hingga kesiapan berbagai titik kunjungan. Warga dan para mitra mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Bagi Sangurejo, predikat ProKlim Lestari nantinya bukan sekadar penghargaan. Capaian tersebut diharapkan menjadi pengakuan atas proses panjang masyarakat dalam membangun lingkungan sekaligus memperluas gerakan melalui jejaring mitra binaan.
Jika berhasil, Sangurejo tidak hanya mencatat sejarah sebagai ProKlim Lestari pertama di DIY, tetapi juga menunjukkan bahwa gerakan lingkungan berbasis masyarakat dapat tumbuh dari kawasan yang pernah dicap kumuh menjadi model kolaborasi yang direplikasi di wilayah lain. (*)