TRIBUNJOGJA.COM – Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola kemitraan di SMK untuk meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan atau link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Peningkatan Kapabilitas SDM Kemitraan SMK dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara SMK dengan DUDI yang digelar pada 18-20 Agustus 2026 di Hotel Grand Mercure.
Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta yang merupakan perwakilan unsur manajemen SMK, khususnya Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri (Waka Hubin) atau pejabat yang ditunjuk untuk mengelola kemitraan dengan DUDI dan lembaga mitra lainnya di wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kasubdit Mitras DUDI, Sartana, mengatakan penguatan SDM pengelola kemitraan menjadi bagian penting dalam mendorong pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, SMK tidak cukup hanya membangun kerja sama dengan industri untuk pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kemitraan perlu dikembangkan dalam berbagai aspek, mulai dari penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, guru tamu, sertifikasi kompetensi, magang guru, rekrutmen lulusan, hingga pengembangan Teaching Factory (TEFA).
"SDM yang mengelola kemitraan di SMK harus memiliki kompetensi dalam membangun, mengelola, mengembangkan, dan mengevaluasi kerja sama yang berkelanjutan," ujar Sartana.
Ia menilai penguatan kemitraan menjadi semakin penting seiring perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung cepat. Karena itu, lulusan SMK dituntut tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan daya saing.
Dalam pelaksanaannya, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi SMK. Di antaranya belum meratanya pemahaman mengenai tata kelola kemitraan, keterbatasan dalam menyusun dan menjalankan program kolaborasi, belum optimalnya pemanfaatan jejaring DUDI, serta perlunya peningkatan kemampuan dalam melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.
Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Subdit Mitras DUDI, Lia Amalia, menekankan pentingnya setiap SMK menyusun langkah konkret sesuai tantangan dan potensi masing-masing.
"Di setiap SMK pasti punya tantangan berbeda-beda dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Rencanakan dan langsung tindak lanjuti gebrakan apa yang akan dibikin," kata Lia.
Menurutnya, sekolah juga perlu memanfaatkan jejaring alumni untuk memperkuat komunikasi dengan orangtua dan peserta didik mengenai peluang kerja setelah lulus.
Lia mencontohkan, alumni yang telah bekerja di luar daerah maupun luar negeri dapat dihadirkan ke sekolah untuk memberikan gambaran langsung mengenai pengalaman dan peluang karier yang tersedia.
"Jika perlu, datengin alumninya untuk meyakinkan orangtua bahwa bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri adalah sebuah kebanggaan," ujarnya.
Kegiatan peningkatan kapabilitas tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, dunia industri, praktisi pendidikan, dan perwakilan SMK.
Materi yang diberikan mencakup kebijakan pendidikan vokasi, strategi penguatan kemitraan, budaya kerja industri, pemanfaatan teknologi digital, personal branding sekolah, hingga literasi finansial bagi lulusan SMK.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan Didik Suhardi, Ph.D., memberikan materi Pesan Kunci. Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Tatang Muttaqin, Ph.D., menyampaikan kebijakan Ditjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus.
Baca juga: 18.850 Mahasiswa Baru UNY Ikuti PKKMB 2026, Maba Dituntut Berwawasan Global dan Berkarakter
Direktur Sekolah Kejuruan Arie Wibowo Khurniawan juga menjadi narasumber dengan materi kebijakan dan program prioritas Direktorat SMK. Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY memberikan materi mengenai kebijakan dan program prioritas pemerintah daerah dalam mendukung transformasi SMK.
Dari unsur industri, kegiatan menghadirkan Zulfah Haifah R dari Bnet Academy dan Petrus Tedja Hapsoro dari PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri. Keduanya membahas budaya kerja industri di SMK serta strategi penguatan dan pengelolaan kemitraan industri yang berkelanjutan.
Adapun dari unsur praktisi pendidikan hadir Indra Hadiwidjadja dari KOMISI dan Sulistio dari Aflatoun. Materi yang diberikan antara lain pemanfaatan teknologi digital bagi humas dan penguatan personal branding SMK serta literasi finansial bagi lulusan SMK.
Perwakilan Waka Hubin SMKN 3 Yogyakarta juga berbagi praktik mengenai strategi penguatan dan pengelolaan kemitraan yang berkelanjutan.
Sartana mengatakan, melalui kegiatan tersebut peserta diharapkan mampu menyusun strategi kemitraan, membangun komunikasi dan jejaring dengan mitra, mengembangkan program kerja sama yang sesuai kebutuhan industri, serta melakukan evaluasi dan tindak lanjut.
"Kemitraan SMK dengan dunia kerja harus memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran, kompetensi peserta didik, dan penyerapan lulusan," katanya.
Program tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan rencana tindak lanjut (RTL) yang dapat diterapkan di masing-masing SMK. Dengan demikian, hasil bimbingan teknis tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi berlanjut pada implementasi program kemitraan di sekolah.
Melalui penguatan tersebut, kemitraan SMK dengan DUDI diharapkan semakin efektif dan berkelanjutan sehingga mampu mendukung penyelarasan kurikulum, peningkatan kompetensi pendidik dan peserta didik, pembelajaran berbasis dunia kerja, serta peningkatan mutu dan daya saing lulusan SMK. (*)