Tak Terhalang Disabilitas, Zaman Antusias Belajar Jadi Barista di Kota Mataram
Idham Khalid August 19, 2026 10:04 AM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Sebanyak 32 peserta mengikuti pelatihan barista yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Tamata Persada di Jalan Belibis, Kota Mataram.

Pelatihan berlangsung selama 10 hari dan ditutup pada Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut diarahkan untuk membekali peserta dengan keterampilan di bidang kopi, baik untuk membuka usaha mandiri maupun bekerja sebagai barista profesional.

Pimpinan Tamata Persada, Hidayati Rachman mengatakan, pelatihan barista dipilih karena perkembangan usaha kopi di Lombok terus menunjukkan peluang yang menjanjikan.

“Kenapa memilih Barista ini karena usaha kopi di Lombok ini sedang berkembang, dan kami ingin memberikan semacam pengetahuan bagi anak-anak muda untuk membuat usaha di rumah atau bisa menjadi barista profesional di cafe atau bar,” ungkap Ida sapaan karibnya, Selasa (18/8/2026).

Menurut Ida, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja sekaligus membuka peluang usaha baru. Terlebih, peserta juga diberikan peralatan untuk menunjang usaha kopi dari rumah.

“Setelah pelatihan ini, para peserta diberikan alat untuk membuat usaha kopi di rumah,” kata Ida.

Baca juga: Pelatihan Barista dan Spa Therapist Buka Jalan Karier Bagi Anak Muda NTB

Ia menambahkan, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas sekaligus membantu mengurangi angka pengangguran.

Penyandang Disabilitas Ikut Belajar

Salah satu peserta yang menarik perhatian dalam pelatihan tersebut adalah Zaman, 18 tahun, penyandang disabilitas tuna wicara.

Zaman terlihat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan yang diberikan instruktur. Ia bahkan turut mempraktikkan langsung proses pembuatan kopi.

Dalam salah satu sesi, Zaman mencoba membuat kopi Americano menggunakan 20 gram kopi. Dengan bantuan bahasa isyarat, ia mengikuti tahapan pembuatan kopi hingga menghasilkan secangkir Americano.

Zaman mengaku tertarik mengikuti pelatihan karena ingin meningkatkan kemampuannya membuat kopi.

“Saya suka membuat kopi bapak saya, jadi saya mau belajar untuk membuat kopi yang lebih enak lagi,” ungkapnya melalui bahasa isyarat.

Ia juga menyebut pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru yang menyenangkan.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya, dan sangat menyenangkan.”

Instruktur Kopi Tamata, Syaikhul Abrori, mengatakan kehadiran peserta penyandang disabilitas menjadi pengalaman sekaligus tantangan tersendiri dalam proses pelatihan.

Menurutnya, pada awal pelatihan dirinya sempat kesulitan berkomunikasi karena belum menguasai bahasa isyarat. Ia kemudian belajar menggunakan bahasa isyarat sederhana agar materi dapat tersampaikan dengan baik.

“Untuk teman peserta yang disabilitas, awalnya agak kesulitan menyampaikan materi karena belum bisa bahasa isyarat, jadi terpaksa harus belajar bahasa isyarat,” ungkapnya.

Setelah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat sederhana, Syaikhul justru menikmati proses mengajar Zaman dan peserta lainnya.

“Seru, yang kawan difabel ini sangat aktif antusias mengikuti kelas,” ungkapnya.

Selain mengajarkan teknik membuat kopi, Syaikhul juga memberikan pemahaman mengenai kopi secara menyeluruh. Peserta dikenalkan dengan proses kopi sejak ditanam oleh petani hingga diolah menjadi minuman yang siap disajikan.

“Jadi kita belajar tentang kopi itu mulai dari tanam hingga dinikmati, biar mereka bisa bercerita tentang kopi yang mereka buat,” katanya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.