Lebaran Masyarakat Bangka dan Macrosystem Pendidikan Inklusif bagi Anak
suhendri August 26, 2026 12:03 PM

Oleh: Dr. Sriyati Dwi Astuti, M.Pd.I. - Dosen Program Studi PIAUD IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

DI Bangka, lebaran bukan sekedar penanda perayaan sebuah ritual keagamaan. Lebaran adalah praktik sosial yang membuat pintu-pintu rumah terbuka, jalan-jalan kampung menjadi ruang perjumpaan. Masyarakat Bangka memiliki lima momentum lebaran dalam satu tahun yang diselenggarakan bertepatan dengan momen keagaam Islam yang penting. Hal ini telah menjadi bagian dari ritme kehidupan sosial masayarakat Bangka.

Hal yang menarik adalah perayaan ini bukan hanya tentang makanan dan minuman yang tersaji, tetapi juga aktivitas bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Masyarakat datang, duduk, berbincang, menikmati hidangan dan begitu seterusnya ke rumah masyarakat yang lain. Inilah sesuatu yang tampak sederhana namun sesungguhnya ada aktivitas pedagogis dalam praktik tersebut, yakni anak-anak belajar tentang bagaimana hidup bersama dengan orang lain selain komunitas keluarga intinya. Di sinilah dapat dikatakan bahwa lebaran adalah sekolah sosial untuk anak.

Nasihat pada anak bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan manusia karena perbedaan etnis, status sosial atau bahkan latar belakang budayanya sering kali kita ucapkan sebagai pendidik, namun pada tradisi lebaran  masayarakat Bangka, nilai inklusi ini bukan saja diucapkan namun diperagakan secara langsung. Anak mengikuti orang tuanya berkunjung dari rumah ke rumah. Begitu pula rumahnya menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut tamu yang datang pada hari lebaran. Tidak melihat latar belakang budaya atau status sosial, semua diterima sebagai tamu yang dihormati.

Yang lebih menarik, praktik ini melintasi batas-batas etnis. Orang Tianghoa berkunjung ke rumah orang Melayu dan sebaliknya. Tidak ada yang aneh dalam praktik tersebut yang telah menjadi kelumrahan sosial pada aktivitas lebaran masyarakat Bangka. Di sinilah pendidikan berlangsung dalam bentuk yang paling natural. Anak belajar inklusi tidak karena membaca teori inklusivitas, namun karena anak melihat dan memahami bagaimana orang dewasa mempraktikkannya dalam ruang sosial masyarakat Bangka. Anak belajar bahwa orang lain adalah bagian dari lingkungan sosial yang patut disapa, dikunjungi, dihormati dan diterima.

Sepintu sedulang masayarakat Bangka adalah sistem kebersamaan yang diwariskan. Salah satunya melalui tradisi silaturahmi yang terbaca sebagai manifestasi filosofis masyarakat Bangka mengenai pentingnya kebersamaan bagi mereka. Secara simbolik sepintu sedulang menggambarkan kesetaraan dan kesediaan berbagi dalam kehidupan masyarakat Bangka. Selanjutnya lebaran  menjadi salah satu arena tempat nilai tersebut terus dipraktikkan. Pierre Bourdieu seorang sosiolog dari Perancis membahasakannya dengan istilah reproduksi budaya. Dalam hal ini budaya tidak hanya diwariskan melalui buku, pelajaran formal atau instruksi orang tua, tapi budaya justru bertahan dan eksis karena masyarakat mengulang praktik-praktik sosial tertentu, sampai praktik ini menjadi sebuah kebiasaan yang terasa alami.

Anak yang mengikuti orang tuanya bersilaturahmi pada momen lebaran akan menyimpan pengalaman tersebut sebagai disposisi. Bourdieu mengatakan praktik yang dilakukan berulang-ulang ini akan menjadi habitus. Anak belajar melatih disposisinya ketika bertemu orang lain kita menyapa, dan belajar bahwa rumah orang lain adalah ruang yang boleh kita masuki dengan cara yang hormat tanpa melihat perbedaan. Selanjutnya anak belajar bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang harus dilakukan bukan sekadar dibicarakan sebagai wacana. Pada saat inilah habitus inklusif terbentuk pada anak.

Selanjutnya Urie Bronfenbrenner membantu kita melihat bahwa pendidikan anak tidak saja berhenti di ruang kelas, keluarga, dan masyarakat. Dalam teori ekologi perkembangan, Bronfenbrenner, macrosystem merupakan lapisan lingkungan yang mencakup nilai budaya, norma , keyakinan tradisi, dan struktur sosial yang lebih luas. Sesuatu yang mungkin tidak secara langsung berinteraksi dengan anak, namun nilai kebersamaan, penerimaan terhadap perbedaan, keramahan ini menjadi semacam kurikulum budaya yang tidak tertulis. 

Sekolah melalui guru telah mengajarkan pendidikan karakter dan toleransi. Selanjutnya anak di ruang-ruang sosialnya mempraktikkan nilai yang sama, maka pesan pendidikan menjadi lebih kuat. Di sini pendidikan inklusif tidak hanya diproduksi oleh lembaga sekolah, namun ekosistem budaya masyarakat juga turut membentuk.

Di sinilah konsep reproduksi budaya Bourdieu menjadi penting. Tradisi lebaran tidak hanya mengulang aktivitas yang sama setiap tahun. Ia juga mereproduksi cara masyarakat Bangka memahami hubungan sosial. Generasi tua mengajarkan kepada generasi muda melalui tindakan. Anak kemudian membawa pengalaman itu ke masa dewasanya. Ketika kelak memiliki keluarga sendiri, ia berpotensi melakukan hal yang sama. Maka yang direproduksi bukan hanya tradisinya, tetapi juga nilai yang berada di balik tradisi tersebut. Jika yang terus direproduksi adalah praktik saling mengunjungi, menerima, menghormati, dan tidak membeda-bedakan, maka masyarakat sebenarnya sedang mereproduksi habitus harmoni dan inklusivitas.

Ini menarik karena konsep reproduksi budaya Bourdieu sering kali digunakan untuk menjelaskan bagaimana ketimpangan sosial dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, mekanisme reproduksi yang sama secara teoretis juga dapat digunakan untuk membaca bagaimana nilai-nilai positif seperti inklusivitas, solidaritas, dan harmoni dipertahankan secara lintas generasi dalam masyarakat Bangka. Artinya, masyarakat tidak hanya mewariskan budaya. Masyarakat Bangka juga mewariskan cara memperlakukan manusia lain pada anak-anak.

Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan anak di Bangka, kita tidak seharusnya hanya melihat apa yang terjadi di ruang kelas. Ada ruang pendidikan yang jauh lebih luas: rumah, halaman tetangga, jalan kampung, meja makan, tempat ibadah, dan seluruh ruang sosial tempat anak menyaksikan bagaimana orang dewasa berinteraksi. Tradisi lima lebaran masyarakat Bangka menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana budaya lokal dapat berfungsi sebagai ekosistem pendidikan.

Di tengah dunia yang makin mudah membangun sekat berdasarkan identitas, tradisi sederhana berkunjung dari rumah ke rumah justru mengajarkan sesuatu yang sangat fundamental yakni manusia tidak harus sama untuk dapat hidup bersama. Anak-anak Bangka mungkin belum mengenal istilah macrosystem, habitus, reproduksi budaya, atau pendidikan inklusif. Tetapi hebatnya mereka telah melihatnya, mengalami, dan mempraktikkannya.

Maka, barangkali tugas pendidikan di Bangka bukan menggantikan tradisi-tradisi lokal dengan konsep-konsep pendidikan baru. Sebaliknya, pendidikan perlu membaca, merawat, dan menguatkan kearifan yang telah hidup di tengah masyarakat. Sebab bisa jadi, salah satu guru terbaik bagi anak-anak Bangka bukan hanya guru yang berdiri di depan kelas. Ia adalah masyarakat yang membuka pintu rumahnya, sesungguhnya ia sedang belajar satu pelajaran penting tentang kehidupan bahwa kebersamaan tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan kesediaan untuk datang, mengenal, dan menerima satu sama lain. Itulah pendidikan inklusi pada anak dalam budaya masyarakat sebagai macrosystem pendidikan yang tidak selalu terdengar sebagai pelajaran, tetapi diam-diam membentuk manusia. (*)
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.