Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Aldi Bimantara
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masih berlangsung dilaporkan menyelimuti masyarakat di Distrik Bomberai dan Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Asap tersebut membuat jarak pandang sempat terbatas dan warga setempat terancam mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat menilai Karhutla pada 2026 lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Papua Barat, luasan Karhutla di Kabupaten Fakfak mencapai 2.171,35 hektare. Angka tersebut menjadi yang terbesar di Papua Barat.
Baca juga: Kantah Fakfak Komitmen Ciptakan Kepastian Hukum, Tuntaskan Masalah Pertanahan
Warga bersama petugas berwenang tidak hanya berjibaku memadamkan titik api yang menyebar, tetapi kini juga harus menghadapi asap pekat.
Asap tersebut menyebar ke seluruh kampung di kedua distrik terjauh di Kabupaten Fakfak tersebut.
Akibat asap yang begitu pekat, cahaya matahari terlihat kemerahan di kedua distrik tersebut.
"Sudah sekitar 4 hari asap tebal begini, kebakaran di mana-mana," ujar salah satu warga Distrik Tomage, Andri kepada TribunPapuaBarat.com membeberkan kondisi saat ini.
Ia mengatakan suhu udara terasa sangat panas dan sudah hampir tiga bulan tidak turun hujan.
"Pokoknya kering kerontang saja begitu dan hari-hari memang panas," tandasnya.
Andri dan keluarga saat ini masih bertahan di rumah dengan kondisi asap tebal, sembari memohon turunnya hujan.
"Kami harap dan berdoa turun hujan secepatnya," ujarnya penuh harap.
Sekitar 4.000 jiwa yang mendiami Distrik Bomberai dan Tomage, berdasarkan data BPS Fakfak, mengalami krisis air bersih selama tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut dipicu musim kemarau panjang yang disebut berkaitan dengan El Nino, sehingga masyarakat setempat mengalami kekeringan berkepanjangan.
Kondisi air di sungai ataupun kali juga mengering termasuk sumur yang menjadi harapan masyarakat.
"Air biasanya kami mau tidak mau beli, untuk harganya relatif sesuai jarak tempuh, kalau dari SP3 beli air di SP2 itu harga bisa sampai Rp200.000 per profil, tetapi kalau SP6 bisa Rp150.000," bebernya.
Baca juga: Jaga Kamtibmas, Kapolres Teluk Bintuni Rangkul Pemuda Moskona dan Salurkan Bantuan Beras
Meskipun asap pekat sudah berhari-hari menyelimuti Distrik Bomberai dan Tomage di Kabupaten Fakfak Papua Barat, namun tak signifikan mengganggu aktivitas masyarakat secara menyeluruh.
Aktivitas sejumlah sekolah pada kedua wilayah itu dilaporkan masih berjalan seperti biasanya dan pasar sebagai pusat ekonomi juga masih ramai dan aktif.
"Memang kabut asap saat ini menyelimuti Bomberai-Tomage, tetapi secara umum jarak pandang masih relatif baik dan belum terlalu mengganggu masyarakat luas tetapi memang perlu diantisipasi," ujar Kapolsek Bomberai, IPTU Aldin La Adi kepada Tribun saat dikonfirmasi.
IPTU Aldin La Adi mengemukakan, aktivitas masyarakat baik itu pendidikan, kesehatan hingga ekonomi masih berjalan normal seperti biasa.
"Anak-anak masih bersekolah dan aktivitas perekonomian di pasar masih berjalan baik," bebernya menggambarkan situasi di lokasi tempatnya bertugas.
Sebagai antisipasi gangguan kesehatan akibat asap pekat Karhutla, Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak melalui Puskesmas Bomberai mulai mendistribusikan masker gratis kepada masyarakat.
Kepala Puskesmas Bomberai, Abdul Azis Alzubaidy mengatakan pembagian masker akan dilakukan pada 3 titik lokasi yakni Satuan Permukiman (SP) 3, SP4, dan SP6.
"Kami sudah mendapatkan tambahan masker dari Dinas Kesehatan di ibu kota kabupaten dan siap didistribusikan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan kita terhadap gangguan kesehatan akibat asap Karhutla," jelasnya.
Baca juga: Lakotani Dorong IBCA MMA Papua Barat Perkuat Pembinaan Atlet dan Karakter Generasi Muda
Dikatakannya, total ada 2 karton berisikan masker yang siap disalurkan kepada masyarakat untuk saat ini.
Imbauan untuk Masyarakat Fakfak
Menyikapi kejadian Karhutla yang masih terus berlangsung hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Fakfak mengimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat menjaga lingkungan dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan percikan api.
Belum lama ini, Bupati Fakfak Samaun Dahlan mengeluarkan 10 imbauan penting untuk warganya sebagai berikut :
1. Jangan membuka lahan dengan cara membakar, karena api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan
2. Jangan membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang kering dan mudah terbakar
3. Hindari membakar sampah saat cuaca panas dan angin kencang
4. Jika terdesak melakukan pembakaran untuk keperluan tertentu, pastikan api benar-benar padam dan jangan meninggalkannya sebelum aman
5. Waspadai lahan, semak, dan hutan yang mulai mengering, terutama saat musim kemarau
6. Jika melihat asap atau titik api, segera laporkan kepada aparat kampung atau kelurahan, pemadam kebakaran, BPBD, atau pihak berwenang terdekat
7. Jangan melakukan pemadaman sendiri jika api sudah membesar. Utamakan keselamatan dan segera menjauh dari lokasi
8. Saat terjadi asap pekat, gunakan masker, kurangi aktivitas di luar ruangan, dan lindungi anak-anak serta kelompok rentan
9. Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai titik kebakaran agar tidak menimbulkan kepanikan
10. Mari bersama-sama menjaga lingkungan karena mencegah Karhutla jauh lebih baik daripada menanggulangi kebakaran yang sudah meluas.
Orang nomor 1 di Fakfak itu juga mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi liar berujung hoaks terkait penyebab kebakaran lahan. (*)