Oleh: Felix Sugar *
Hiruk-pikuk warga kampung pecah begitu guncangan pertama datang. Orang-orang berlarian ke pinggir lapangan.
Sebagian berlindung di bawah pohon besar, sebagian lagi hanya bisa berjongkok sambil memeluk tubuh masing-masing. Tanah masih bergetar ketika suara jeritan terdengar dari berbagai penjuru.
Guncangan belum juga benar-benar berhenti. Kampung yang sehari sebelumnya dipenuhi tawa mendadak berubah menjadi kesunyian yang diselingi tangis.
Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan sebagian besar roboh. Dinding bata runtuh, atap seng terlempar, dan barang-barang berserakan di antara debu. Orang-orang hanya tahu satu hal: gempa telah merenggut hampir semua yang mereka miliki.
Hari demi hari mereka hidup dalam trauma. Setiap suara keras membuat tubuh menegang. Malam menjadi waktu yang paling ditakuti.
Sedikit saja terdengar suara dari kejauhan, orang-orang segera terbangun dan bersiap berlari. Guncangan demi guncangan datang seperti bayangan yang tak diketahui dari mana asalnya.
Baca juga: Cerpen: Boneka Pink Muda
Anak-anak tak lagi bermain di lapangan tengah kampung seperti biasanya. Mereka tak lagi mencari ikan di sungai, berangkat ke sekolah pagi-pagi dengan seragam, atau membawa bekal nasi yang dibungkus daun bambu.
Sekarang mereka berkumpul di tenda pengungsian. Semua menunggu bantuan dari pemerintah dan orang-orang yang masih peduli. Namun bantuan tak kunjung tiba.
*****
Lima hari setelah gempa dahsyat melanda desa itu, kehidupan yang nyaman belum juga kembali.
Aktivitas mencari nafkah berhenti total. Orang-orang takut meninggalkan tempat pengungsian karena khawatir guncangan kembali datang.
Rumah-rumah bambu kehilangan atap sengnya. Rumah-rumah bata berubah menjadi tumpukan puing. Kandang-kandang babi roboh, sebagian ternak mati dan sebagian lainnya tak diketahui ke mana perginya. Hidup mereka seperti kehilangan arah.
Beberapa orang mengalami patah tulang. Ada yang dahinya robek, bahunya terluka, dan tubuhnya penuh memar. Mereka yang kelaparan hanya bisa tidur di tenda sederhana sambil menunggu bantuan.
Lima hari mereka bertahan dengan air sumur yang penuh kapur dan ubi bakar tanpa bumbu. Lima hari pula mereka menunggu bantuan. Namun tak ada yang datang.
*****
Linus, anak berusia delapan tahun, terus memeluk ayahnya. Lengan kanan ayahnya patah tertimpa bagian atap rumah ketika gempa terjadi. Meski kesakitan, lelaki itu berusaha tersenyum di hadapan kedua anaknya.
Niko, adik Linus yang masih kecil, duduk di dekat kaki ayahnya. Jemarinya memijat tangan sang ayah perlahan. Mereka hanya memiliki ayah.
Dua tahun sebelumnya, ibu mereka meninggal dalam kecelakaan ketika sedang memetik cengkeh di kebun.
Sejak saat itu, ayahlah satu-satunya tempat mereka bergantung. Kini lelaki itu harus berpura-pura kuat.
“Jangan takut,” katanya kepada kedua anaknya. “Ayah masih ada di sini.”
Di luar tenda, warga bergotong royong membangun tempat perlindungan seadanya. Daun kelapa dijadikan atap, sedangkan bambu digunakan sebagai tiang.
Sedangkan korban dari desa tetangga mulai berdatangan. Ada yang terluka di kepala, bahu, dan kaki.
Baca juga: Cerpen: Bayangan Cemara di Dinding
Tak banyak yang mereka punya selain pakyan di tubuh. Namun mereka masih memiliki satu sama lain. Dengan perlengkapan seadanya, mereka saling membantu.
Makan ubi dengan daun singkong. Tidur beralaskan terpal. Berbagi air yang tersisa. Solidaritas menjadi satu-satunya kekuatan yang membuat mereka bertahan hidup.
*****
Hari berikutnya, kabar tentang bantuan mulai terdengar. Kepala desa mengumpulkan warga di depan tenda pengungsian.
“Saudara-saudara,” katanya,
“pemerintah pusat, melalui pemerintah daerah, akan mengirim bantuan untuk desa kita.”
Warga mulai berbisik.
“Apa bantuannya, Pak?”
“Beras?”
“Obat-obatan?”
Kepala desa mengangguk.
“Bantuan akan segera datang. Ada dana sekitar satu miliar rupiah untuk penanganan bencana dan kebutuhan warga.”
Wajah-wajah lelah itu perlahan berubah.
“Kita akan makan nasi lagi,” kata kepala desa. “Akan ada mie, roti, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya.”
“Terima kasih, Pak Kades!”
Suara warga menggema. Linus yang sedang merawat ayahnya ikut tersenyum lebar.
“Nanti kita makan mie, ayah.”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Iya.”
“Banyak?”
“Kalau bantuan datang, kamu boleh makan banyak.”
Linus tertawa kecil. Ia menggenggam tangan ayahnya.
“Ayah juga harus makan.”
Ayahnya terdiam cukup lama.
“Linus, panggil adikmu.”
Niko mendekat. Ayah mereka memandang kedua anaknya.
“Maafkan Ayah.”
Linus menggeleng.
“Ayah tidak salah.”
“Seharusnya Ayah bisa menjaga kalian.”
Lelaki itu menahan air mata.
“Kalau saja semua ini tidak terjadi, Ayah ingin memberikan yang terbaik untuk kalian. Yang penting kalian selamat.”
Ia menarik kedua anaknya ke dalam pelukan.
“Jangan saling meninggalkan yah, jaga adikmu baik-baik.”
*****
Beberapa hari kemudian, suara aneh terdengar dari kejauhan. Warga yang berada di sekitar tenda langsung panik.
“Gempa!”
Semua berlarian keluar. Namun suara itu semakin keras. Bukan suara tanah berguncang.
Bunyi itu datang dari udara. Sebuah benda besar perlahan muncul di balik pepohonan. Benda itu memiliki baling-baling yang terus berputar dan sebuah bendera merah putih berkibar di bagian tubuhnya. Niko menunjuk ke langit.
“Itu apa?”
“Burung!” teriak seorang anak.
Anak-anak berlarian mendekat. Barulah mereka tahu bahwa benda itu adalah helikopter. Mereka belum pernah melihatnya secara langsung.
Baca juga: Cerpen: First Love
Di kampung itu listrik saja belum selalu tersedia. Televisi hanya dimiliki beberapa keluarga, sedangkan internet hampir tidak pernah mereka gunakan. Helikopter itu mendarat. Debu berputar di sekitar lapangan.
Warga menutup wajah dengan tangan. Tentara turun membawa kotak-kotak bantuan. Beras, mie, roti, telur, buah-buahan, air minum, obat-obatan. Warga bersorak gembira.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, kampung itu kembali dipenuhi suara gembira.
“Besar sekali!” kata Niko.
Seorang gubernur turun dari helikopter mengenakan batik. Ia menyalami warga dan menyampaikan belasungkawa.
“Bantuan ini untuk bapak dan ibu semua,” katanya.
“Terima kasih, Pak Gubernur!” gumam salah satu warga.
Roti, mie dan makanan dibagikan. Niko makan mie dengan lahap. Linus membawa sebungkus roti kepada ayahnya.
“Ayah, makan.”
Ayahnya tersenyum.
“Terima kasih, Nak.”
Untuk sesaat, mereka lupa bahwa kampung mereka telah hancur. Dan hanya tahu untuk menghabiskan makanan yang ada.
******
Anak-anak berkumpul di sekitar helikopter. Mereka mengamatinya dari dekat.
“Besar sekali burung ini,” kata seorang anak.
“Gagah sekali.”
“Ini punya siapa?”
“Punya Pak Gubernur!”
Mereka menggeleng-gelengkan kepala.
Niko bahkan berani mendekat dan menyentuh bagian luar helikopter yang dingin. Seorang ajudan yang melihat tingkah mereka ikut tertawa.
“Maklum, anak-anak. Mereka baru pertama kali melihat helikopter.”
Gubernur mendekat.
“Nak, ini namanya helikopter, bukan burung.”
Niko mengangguk.
“Helikopter punya Bapak?”
Gubernur tersenyum.
“Bukan.”
“Kalau begitu, Bapak beli di mana?”
Beberapa orang tertawa. Namun gubernur hanya tersenyum tipis. Ia tidak menjawab.
*****
Menjelang sore, helikopter masih terparkir di lapangan. Anak-anak belum bosan melihatnya. Sementara itu, keadaan ayah Linus memburuk. Demamnya tinggi.
Napasnya mulai berat. Luka pada lengannya semakin membengkak. Dokter yang berada di tenda darurat memeriksanya dengan wajah cemas.
“Dia harus dibawa ke rumah sakit,” katanya.
“Secepatnya.”
“Rumah sakitnya jauh?”
“Sekitar enam jam perjalanan.”
Linus terdiam.
“Kalau begitu, pakai helikopter.”
Dokter tidak menjawab. Niko berlari keluar tenda. Ia menerobos kerumunan sampai menemukan gubernur yang sedang berbicara dengan warga.
“Pak!”
Gubernur menoleh.
“Ada apa nak?”
“Bantu Ayah saya.”
Niko menunjuk ke tenda.
“Ayah sakit. Kata dokter harus ke rumah sakit.”
Ia menarik napas.
“Bisa pakai helikopter Bapak?”
Suasana mendadak hening. Gubernur memandang anak itu.
“Sabarlah, Nak. Bantuan kesehatan akan segera datang.”
“Tapi Ayah saya sekarang sakit.”
“Tenang. Dokter sedang menangani.”
Niko menatap gubernur dengan mata berkaca-kaca. Karena melihat dokter hanya seorang diri. Apalagi mengurus begitu banyak pasien di tenda pengungsian.
“Tapi kalau menunggu... Ayah saya bisa meninggal.”
Gubernur terdiam sesaat. Kemudian ia mengusap kepala Niko.
“Semua akan baik-baik saja, Nak.”
*****
Beberapa jam kemudian, mesin helikopter kembali menyala. Anak-anak berlari ke lapangan. Baling-baling berputar semakin cepat.
Helikopter perlahan terangkat. Gubernur dan rombongannya meninggalkan kampung.
“Bantuan kesehatan dan logistik berikutnya akan segera datang!” teriaknya dari kejauhan. Warga melambaikan tangan. Linus tidak ikut melambaikan tangan.
Ia tetap berada di dalam tenda, menggenggam tangan ayahnya. Napas lelaki itu semakin berat.
*****
Hari berganti hari. Bantuan kesehatan yang dijanjikan belum datang. Sehari setelah helikopter gubernur pergi, warga kembali menunggu lagi kedatngannya.
Mereka percaya bantuan kesehatan akan datang seperti yang dijanjikan. Pagi itu, beberapa warga berdiri di pinggir jalan. Mata mereka terus mengarah ke jalan utama yang tertutup longsoran, sambil berharap helikopter itu datang lagi.
“Katanya hari ini dokter dari kota datang,” kata seorang warga.
“Katanya begitu,” jawab yang lain.
Mereka menunggu. Matahari naik semakin tinggi. Tidak ada ambulans. Tidak ada dokter. Tidak ada kendaraan bantuan. Menjelang siang, kepala desa datang membawa sebuah telepon genggam. Wajahnya terlihat gelisah.
“Ada kabar dari pemerintah?” tanya seorang warga.
Kepala desa mengangguk ragu.
“Bantuan sedang dalam perjalanan.”
“Dari mana?”
“Dari kota.”
“Jam berapa sampai?”
Kepala desa terdiam.
“Mereka masih mengurus pendataan korban.”
Warga saling berpandangan.
“Bukankah kemarin Pak Gubernur bilang bantuan kesehatan segera datang?”
“Iya.”
“Lalu kenapa masih didata?”
Tidak ada yang menjawab. Di dalam tenda, keadaan ayah Linus semakin buruk. Luka di lengannya membengkak. Demamnya semakin tinggi. Napasnya terdengar berat. Linus berlari mencari dokter.
“Pak Dokter, tolong Ayah saya.”
Dokter segera masuk ke dalam tenda. Ia memeriksa keadaan ayah Linus, kemudian menarik napas panjang.
“Harus dibawa ke rumah sakit.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
“Pakai mobil?”
“Jalannya belum bisa dilewati.”
“Kalau begitu pakai helikopter.” Kata Linus dengan gentar.
Dokter hanya terdiam.
“Helikopternya sudah pergi.”
Linus menunduk. Ia masih mengingat jelas helikopter itu. Kendaraan yang beberapa jam sebelumnya berdiri gagah di tengah lapangan, membawa gubernur dan rombongannya. Kini benda itu sudah jauh. Sementara ayahnya semakin lemah.
*****
Sore harinya, warga kembali berkumpul. Sebuah kabar baru datang. Bantuan ternyata sudah tiba di kota.
Namun belum dapat dikirim ke desa karena kendaraan pengangkut masih menunggu surat pengantar dan hasil pendataan resmi dari pemerintah daerah. Warga mulai gelisah.
“Jadi barangnya sudah ada?”
“Sudah.”
“Dokternya juga ada?”
“Katanya ada.”
“Obat-obatannya?”
“Ada.”
“Lalu kenapa tidak dibawa ke sini?”
Kepala desa hanya menundukkan kepala.
“Masih menunggu.”
Satu kata itu membuat warga terdiam. Menunggu. Mereka sudah menunggu berhari-hari.
Menunggu makanan. Menunggu obat. Menunggu dokter. Menunggu jalan dibuka. Menunggu pemerintah datang. Sementara orang-orang yang terluka tidak dapat menunggu lebih lama.
****
Malam semakin larut. Linus duduk di samping ayahnya.
“Ayah, besok dokter datang.”
Ayahnya tersenyum lemah.
“Jangan khawatir.”
“Ayah akan sembuh.”
“Iya.”
Namun suara ayahnya semakin lirih tak terdengar seperti biasanya. Di luar tenda, warga masih membicarakan bantuan yang tertahan di kota.
Di atas kertas, bantuan itu sudah tersedia. Dalam kenyataan, tidak ada satu pun yang sampai ke tangan mereka. Malam itu, Linus menggenggam tangan ayahnya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia takut bukan karena gempa. Ia takut karena bantuan yang mereka tunggu mungkin datang ketika semuanya sudah terlambat.
Persediaan makanan kembali menipis. Tenda pengungsian yang sebelumnya ramai perlahan menjadi sunyi. Malam itu, Linus duduk di samping ayahnya. Ia menggenggam tangan yang semakin dingin.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
“Ayah, bangun.”
Niko mulai menangis. Dokter yang berada di tenda memeriksa denyut nadi lelaki itu. Kemudian ia menundukkan kepala. Linus mengerti. Ayah mereka telah pergi. Tangis Niko pecah. Linus hanya memeluk tubuh ayahnya yang kaku dan pucat.
“Maafkan Linus, Yah.”
Ia menunduk di telinga ayahnya.
“Linus akan menjaga Niko, meskipun kehilangan ayah dan ibu.”
*****
Pemakaman berlangsung sederhana. Tanpa rumah. Tanpa ibu. Tanpa ayah. Linus dan Niko kini benar-benar menjadi yatim piatu.
Mereka berdiri di depan tanah merah yang baru ditimbun. Kampung masih menyisakan puing-puing rumah.
Jalan menuju kota masih terputus. Listrik belum kembali. Jaringan komunikasi belum tersedia. Puskesmas hanya memiliki peralatan seadanya.
Namun ada satu hal yang terus terngiang di kepala Linus. Janji bantuan. Satu miliar rupiah. Obat-obatan. Rumah sakit. Dan helikopter yang pernah mendarat tepat di depan mata mereka.
Linus menggenggam tangan Niko. Mereka berjalan kembali menuju tenda penuh air mata dalam kesepian dan ketakutan.
-Mereka anak-anak, masih cukup kecil untuk mengerti apa itu gempa, tetapi sudah cukup besar untuk merasa takut dan trauma dengan gempa. Lekas sembuh ibu bumi Flores. (*)
*) Felix Sugar berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero.
Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).