Bromo Dibuka Lagi 20 Agustus 2026, Wisatawan Diminta Waspadai Potensi Karhutla
Titis Jati Permata August 19, 2026 01:32 PM

 

 

SURYA.co.id, MALANG – Kabar baik bagi wisatawan yang menantikan kembali perjalanan ke Gunung Bromo. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memastikan kawasan wisata Bromo kembali dibuka mulai Kamis (20/8/2026) pukul 00.01 WIB.

Pembukaan kembali dilakukan setelah kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dinyatakan padam sepenuhnya.

Api sebelumnya melahap lahan seluas 1.121,66 hektare dan membutuhkan waktu 13 hari untuk ditangani.

Keputusan membuka kembali kawasan wisata tersebut merujuk pada pengumuman Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni setelah rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI pada 18 Agustus 2026.

Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan pembukaan dilakukan setelah pihaknya memantau dan mengevaluasi kondisi kawasan dengan mempertimbangkan keselamatan pengunjung maupun petugas.

“Setelah seluruh titik api dinyatakan padam, petugas bersama tim gabungan melaksanakan pendinginan, penyisiran, serta pemantauan di lokasi terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali,” kata Rudijanta, Rabu (19/8/2026).

Wisatawan Diminta Tak Lengah

Meski kawasan wisata kembali dibuka, BB TNBTS mengingatkan masyarakat, wisatawan, pelaku jasa wisata, dan pihak terkait agar tetap mematuhi seluruh ketentuan serta arahan petugas di lapangan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah potensi munculnya kembali titik api akibat aktivitas manusia.

“Jangan melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran, seperti membuat perapian atau api unggun, membuang puntung rokok, maupun benda lain yang berpotensi menjadi sumber api,” tegas Rudijanta.

BB TNBTS juga meminta masyarakat dan wisatawan segera melapor kepada petugas apabila menemukan kepulan asap di kawasan taman nasional.

Rudijanta mengajak seluruh pihak menjaga kawasan Bromo agar kejadian kebakaran serupa tidak kembali terjadi.

“Mari kembali menikmati Bromo dengan tetap menjaga keselamatan dan kelestarian kawasan,” ujarnya.

Medan Ekstrem Jadi Tantangan Pemadaman

Komandan Sektor Penanganan Karhutla, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan TNBTS berlangsung aman, lancar, dan terkendali.

Operasi penanganan berlangsung sejak 3 hingga 17 Agustus 2026. Selama operasi, tidak terdapat situasi menonjol yang mengganggu proses penanganan.

“Operasi dilaksanakan mulai 3 Agustus sampai dengan 17 Agustus 2026. Selama pelaksanaan operasi, tidak terdapat situasi menonjol yang mengganggu jalannya penanganan,” kata Wahyu.

Penanganan melibatkan unsur TNI-Polri, BPBD Provinsi Jawa Timur dan empat wilayah kabupaten, BB TNBTS, BMKG, instansi terkait, relawan, serta masyarakat.

Wahyu juga menilai dukungan media berperan penting dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat selama penanganan karhutla.

“Dukungan media juga sangat penting dalam memberikan informasi kepada masyarakat sehingga dapat mencegah munculnya informasi yang tidak benar atau hoaks,” ujarnya.

Menurut Wahyu, pemadaman karhutla di kawasan TNBTS memiliki tantangan tersendiri. Kondisi medan yang ekstrem, wilayah berketinggian, tebing terjal, serta lokasi yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman tidak mudah.

Kabut juga menjadi kendala, terutama ketika dilakukan pemadaman melalui metode water bombing. Sementara itu, vegetasi berupa semak dan ilalang kering membuat api dapat merambat dengan cepat ketika muncul titik api.

Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan

Pengalaman menangani kebakaran tersebut membuat sistem deteksi dini dinilai perlu diperkuat.

 Menurut Wahyu, keberadaan titik api tidak cukup hanya dipantau melalui patroli dan pengamatan visual.

Teknologi seperti CCTV, kamera pemantau, drone, dan foto udara dinilai dapat membantu mendeteksi titik api lebih cepat.

“Dengan deteksi dini, titik api dapat diketahui lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas,” tegas Wahyu.

Ia menambahkan, penanganan karhutla merupakan tanggung jawab bersama.

Setiap instansi memiliki kemampuan dan peralatan yang berbeda sehingga diperlukan integrasi sumber daya untuk mempercepat penanganan.

“Dengan mengintegrasikan seluruh personel, peralatan, perlengkapan, serta kemampuan yang dimiliki masing-masing instansi, penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat dan komprehensif,” ujarnya.

Faktor Manusia Perlu Diwaspadai

Wahyu menilai faktor alam sebagai pemicu titik api relatif kecil. Karena itu, kewaspadaan terhadap aktivitas manusia di kawasan TNBTS harus terus ditingkatkan.

Masyarakat lokal maupun wisatawan diminta mematuhi seluruh prosedur dan ketentuan yang berlaku. Padamnya kebakaran bukan berarti kewaspadaan terhadap karhutla dapat dihentikan.

“Keberhasilan penanganan karhutla bukan berarti kewaspadaan berakhir. Upaya pencegahan dan deteksi dini harus terus dilakukan,” kata Wahyu.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan TNBTS.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama dan bersinergi dalam penanganan karhutla TNBTS. Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama,” pungkasnya.

Wahyu mengajak seluruh pihak turut menjaga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru agar tetap lestari, tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga generasi mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.