Laporan Wartawan TribunBanten.com, Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL - Atin, warga Kampung Cilalung, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten diduga menjadi korban penipuan dengan modus hipnotis.
Akibatnya, perhiasan emas milik Atin senilai Rp15 juta diduga dibawa kabur oleh dua orang terduga pelaku yang semuanya merupakan perempuan.
Atin menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (18/8/2026), sekitar pukul 14.00 WIB.
Saat itu, kata dia, dua orang terduga pelaku tersebut datang ke lingkungan tempat tinggalnya dengan mengaku sebagai sales elektronik, mulai mulai dari telepon seluler hingga laptop.
Baca juga: Dorong Minat Baca Pelajar, Maria Teresa Bagikan 2.500 Buku ke Sekolah di Tangsel
"Kejadiannya pas banget sih sekitar pukul 16.30 WIB, tapi kalau datengnya sekitar pukul 14.00 WIB karena sempat ngobrol juga sampe diseduin kopi," ujarnya, saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/8/2026).
"Mereka (teduga pelaku) bawa brosur. (warga) yang ngeliat banyak, karena ada yang mau ambil HP, ada juga yang mau laptop," sambungnya.
Menurut Atin, kedua perempuan tersebut kemudian menawarkan barang kepada dirinya.
Namun, untuk mendapatkan barang yang ditawarkan, pelaku disebut meminta barang berharga sebagai jaminan.
Salah satu pelaku bahkan menunjukkan sebuah perhiasan yang diklaim merupakan jaminan milik orang lain yang telah mengambil barang.
"Dia bilang, 'Ini juga saya sudah punya nih, megang punya orang.' Di situ diperlihatkan perhiasan milik orang yang di atas," kata Atin.
Atin mengaku, sempat curiga dengan cara tersebut. Ia bahkan menolak ketika ditawari telepon seluler karena merasa tidak membutuhkan barang tersebut.
"Saya bilang, 'Saya enggak mau HP. Bukannya enggak butuh, saya punya HP. Tapi saya enggak ngerti ini urusannya bagaimana. Masa saya enggak ngasih duit tapi dapat HP?'," tuturnya.
Namun, pelaku terus membujuk dan meminta Atin memberikan perhiasan sebagai jaminan.
Atin pun mengaku mulai merasa linglung saat itu.
"Lama-lama saya jadi kayak orang enggak sadar, kayak linglung dan bolak-balik," katanya.
Dalam kondisi tersebut, salah satu perempuan itu kemudian membantu membuka kalung yang dikenakan Atin.
Pelaku juga disebut hendak memasukkan kalung tersebut ke dalam kantong plastik.
Atin pun mengaku, sempat mempertanyakan tindakan tersebut karena kalung yang dikenakannya merupakan emas.
"Katanya kalungnya mau dimasukkan ke kantong keresek. Saya bilang, 'Masa emas ditaruh kantong keresek?'" ujarnya.
Menurut Atin, saat itu dirinya sempat menolak dan berbicara dengan nada keras.
Namun demikian, setelah itu dirinya merasa semakin tidak sadar dengan apa yang dilakukan pelaku.
"Setelah itu saya benar-benar jadi enggak sadar. Anak saya sampai melihat saya saat kalung itu dilepas," ungkapnya.
Kalung yang dibawa pelaku merupakan satu set dengan liontin dan dibeli Atin dengan harga sekitar Rp15 juta.
Setelah kalung tersebut dibawa, salah satu pelaku kemudian mengajak teman Atin pergi untuk mengambil barang yang disebut telah dipesan.
Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kejadian.
Di sana, barang jaminan tersebut kemudian dititipkan kepada teman Atin.
Pelaku beralasan perhiasan itu hendak difoto terlebih dahulu oleh atasannya yang disebut menunggu di dalam mobil.
Atin pun awalnya mengira perhiasannya akan dikembalikan setelah proses tersebut selesai.
Namun, saat perhiasan itu kembali, Atin menyadari ada kejanggalan.
Perhiasan yang diterima ternyata bukan kalung emas miliknya.
"Saya pikir kalau sudah difoto sama atasannya, dikembalikan lagi ke saya. Eh, ternyata pas dikembalikan perhiasannya sudah beda, ditukar," katanya.
Atin baru benar-benar menyadari perhiasan miliknya telah ditukar setelah kembali ke rumah.
Ia membandingkan kalung yang diterimanya dengan kondisi kalung emas miliknya yang biasa dikenakan.
"Pas saya sampai rumah, Astagfirullahaladzim, ternyata punya saya sudah ditukar. Kalung saya yang asli agak hitam karena kena keringat, sedangkan yang dikembalikan ini sudah beda," ungkapnya.
Atin menduga, dirinya dan temannya menjadi korban penipuan dengan modus hipnotis.
Ia pun berharap, kejadian tersebut tidak kembali dialami warga lainnya, terutama oleh masyarakat yang didatangi orang tidak dikenal dengan modus menawarkan barang elektronik.