Menjadi Indonesia.
Abdul Azis Alimuddin August 19, 2026 11:20 PM

Oleh: Muhammad Syafitra,S.Pd.,Gr
Guru Pendidikan Pancasila di SMA Islam Athirah Bukit Baruga

TRIBUN-TIMUR.COM - Di antara para presiden di Indonesia, Bung Karno dan Gus Dur dikenal memiliki gagasan yang fundamental mengenai makna menjadi Indonesia.

Bung Karno terkenal dengan gagasan nation-building yang dikristalisasikan dalam konsep Pancasila sebagai weltanscha-uung atau falsafah kehidupan bangsa.

Gus Dur terkenal dengan gagasan keadilan sosial yang hakiki, di mana demokrasi menjadi jalan perwujudan kesetaraan dalam hak dan kewajiban bagi setiap warga serta seluruh bangsa untuk kemakmuran sejati.

Bagi Bung Karno, Indonesia bukan sekadar kumpulan suku, agama, atau daerah, melainkan bangsa yang dibangun melalui kesadaran bersama: senasib dalam kolonialisme, ingin merdeka, dan bersatu dalam cita-cita keadilan.

Ia menggali nilai-nilai yang menghidupi bangsa Indonesia dan menyarikannya menjadi Pancasila yang menjadi sistem nilai negara bangsa.

Ia juga menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia berintegritas, mau kerja keras, punya semangat gotong royong. Karena cita-cita itu, menurut Bung Karno, kita terikat oleh proyek besar membentuk bangsa merdeka yang punya kepribadian, persatuan, dan arah sejarah sendiri.

Ini bukanlah sesuatu yang bisa berjalan secara spontan.

Abad saat ini yang melibatkan arus informasi begitu cepat dapat memudahkan melakukan manipulasi atau rekayasa sosial serta menciptakan tantangan kontestasinya.

Nasionalisme tidak lagi bisa ditabalkan dengan nasab atau jejak genetis, kesamaan geografis, ataupun ikatan primordial lainnya.

Kita perlu memenangi pertarungan nilai dan gagasan, dengan cara-cara yang ramah.

Hari ini, tantangan menjadi Indonesia menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan era para pendiri bangsa.

Abad digital yang kita jalani ditandai dengan arus informasi yang begitu cepat, tanpa batas, dan sering kali tanpa filter.

Kecepatan ini tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga membuka celah lebar bagi manipulasi psikologis, rekayasa sosial, polarisasi identitas, serta perang disinformasi.

Di era modern, nasionalisme tidak lagi bisa diwariskan begitu saja melalui nasab, jejak genetis, kesamaan geografis semata, ataupun ikatan primordial lainnya ditengah meleburnya batas batas geografis negara yang membuat lahirnya suku baru yang disebut dengan “netizen”.

Oleh karena itu, tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana memenangi pertarungan nilai dan gagasan di ruang publik.

Bukan dengan cara-cara koersif atau penutupan diri, melainkan melalui dialog yang mencerahkan, literasi kritis yang tajam, serta pendekatan yang ramah namun tegas dalam mempertahankan prinsip dasar bernegara.

Untuk menjawab tantangan zaman, gagasan nation-building Bung Karno dan semangat keadilan sosial Gus Dur harus direaktualisasikan ke dalam ruang-ruang kelas, bilik-bilik kebijakan, hingga ruang digital.

Pancasila tidak boleh lagi diajarkan sekadar sebagai hapalan doktriner di atas kertas ujian.

Ia harus hidup, dirasakan, dan dipraktikkan dalam keseharian.

Ketika ketimpangan ekonomi masih dirasakan, ketika akses pendidikan yang berkualitas belum merata, dan ketika intoleransi masih kerap mencuat, di situlah tugas sejarah kita untuk kembali pada esensi Pancasila.

Sebagai seorang pendidik di ruang kelas, saya sering merenungkan bagaimana estafet “menjadi Indonesia” ini diterjemahkan oleh generasi Z anak-anak didik kita hari ini.

Mereka adalah digital native yang cerdas, kreatif, dan sangat terkoneksi dengan dunia luar.

Namun, di balik kecepatan adaptasi teknologi itu, mereka juga rentan kehilangan akar budaya dan orientasi kebangsaan jika tidak dibimbing dengan fondasi karakter yang kuat.

Pendidikan di sekolah tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif semata.

Ruang kelas harus menjadi laboratorium kebangsaan tempat siswa belajar berargumentasi secara sehat, menghargai perbedaan pendapat, melatih empati sosial, dan memahami esensi gotong royong dalam proyek-proyek kolaboratif nyata.

Melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa seperti pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis pengalaman (experiential learning) kita ingin menanamkan kesadaran bahwa menjadi warga negara yang baik adalah sebuah proses pembentukan karakter yang berkelanjutan.

Siswa perlu diajak melihat bahwa persoalan sampah plastik, hoaks di media sosial, perundungan (bullying), hingga apatisme politik adalah isu-isu nyata yang menuntut kepedulian mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Menjadi Indonesia adalah sebuah perjalanan tanpa garis akhir. Ia adalah sebuah proses “menjadi” (becoming), bukan “sudah menjadi”.

Setiap generasi memikul tanggung jawab moral untuk mengisi kemerdekaan sesuai dengan tantangan zamannya masing-masing.

Jika Bung Karno mewariskan api semangat revolusi dan kerangka ideologis bangsa, maka tugas kita hari ini adalah merawat api tersebut agar tidak padam.

Mari kita buktikan bahwa bangsa yang besar ini bukan hanya mampu bertahan di tengah badai krisis global, tetapi juga mampu menawarkan teladan tentang bagaimana hidup berdampingan secara damai dalam keragaman yang luar biasa.

Menjadi Indonesia berarti berani bermimpi besar, bekerja keras dengan integritas, dan senantiasa merawat persatuan di atas segala perbedaan.

Sebab, Indonesia adalah rumah kita bersama, dan masa depannya ditentukan oleh apa yang kita kerjakan hari ini.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.