Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MBAY – Pengalaman menegangkan dialami Patta Daeng, seorang nelayan Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, saat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8/2026) pagi.
Saat gempa terjadi, Patta Daeng tidak berada di daratan.
Ia bersama 14 orang rekannya sedang berada di tengah laut menggunakan kapal lempara untuk mencari ikan.
Gempa yang berpusat di koordinat 8,33 Lintang Selatan (LS) dan 121,32 Bujur Timur (BT), atau sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, itu dirasakan sangat kuat oleh Patta Daeng dan para nelayan lainnya.
Baca juga: Relawan Kawan Gibran Salurkan Bantuan Bagi Pengungsi Mandiri di Sikka, Warga Sampaikan Terima Kasih
Gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Bagi Patta Daeng, kejadian itu mengingatkannya kembali pada pengalaman gempa besar yang pernah dirasakannya sekitar 34 tahun silam.
Saat ditemui di pinggir Pantai Nangadhero, Rabu (19/8/2026) pagi, raut wajah Patta Daeng masih menyiratkan trauma ketika menceritakan kembali detik-detik menegangkan tersebut.
Puluhan tahun menjadi nelayan membuatnya terbiasa menghadapi berbagai kondisi laut.
Namun, apa yang dialaminya pada Sabtu pagi itu disebutnya berbeda dari pengalaman selama melaut.
Patta Daeng menceritakan, ia bersama 14 rekannya berangkat ke laut menggunakan kapal lempara pada Jumat (14/8/2026) sore.
Mereka biasanya berangkat sekitar pukul 16.00 WITA karena perjalanan menuju rompong cukup jauh.
Para nelayan kemudian bermalam di sekitar rompong sebelum melanjutkan aktivitas menangkap ikan pada pagi hari.
Pagi itu, mereka bersiap melingkar jaring pukat.
Namun, sebelum aktivitas tersebut dilakukan, sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Seekor ikan berukuran sangat besar tiba-tiba muncul ke permukaan laut di dekat kapal mereka.
Menurut Patta Daeng, ukuran ikan tersebut bahkan diperkirakan sebesar kapal lempara yang mereka tumpangi.
Nelayan Sulawesi mengenal ikan tersebut dengan sebutan “dede”.
“Kami akhirnya tidak jadi lingkar pukat karena takut. Kalau dipaksakan lingkar pukat pasti rusak,” ujar Patta Daeng.
Selama puluhan tahun melaut, ia mengaku memang pernah melihat ikan tersebut. Namun, kemunculannya sangat jarang.
Karena itu, kemunculan ikan berukuran besar tersebut membuat Patta Daeng dan rekan-rekannya memilih untuk tidak melanjutkan aktivitas menangkap ikan.
“Pernah lihat ikan itu, tapi dia jarang muncul. Pada saat kami mau lingkar pukat, tiba-tiba muncul ke permukaan dekat pembakar kalau lempara. Mungkin itu sudah ada tanda-tanda bencana,” tuturnya dengan aksen khas Sulawesi.
Mereka pun memutuskan meninggalkan lokasi dan kembali menuju daratan.
Tak lama setelah perjalanan pulang dimulai, pengalaman yang jauh lebih menegangkan terjadi.
Di tengah perjalanan, kapal lempara yang mereka tumpangi tiba-tiba bergetar hebat.
Awalnya mereka mengira terjadi kerusakan pada mesin kapal.
Mesin kemudian dimatikan.
Namun, getaran justru tetap terasa.
“Saat dalam perjalanan pulang, kapal bergetar seperti mesin rusak. Kami matikan mesin, sama juga, kapal tetap bergetar,” kata Patta Daeng.
Saat itulah juragan kapal menyadari bahwa getaran tersebut bukan berasal dari mesin.
Menurut Patta Daeng, juragan kapal mengatakan bahwa mereka sedang merasakan gempa bumi.
“Tidak lama juragan kapal bilang ini bukan mesin rusak, tapi ini gempa karena air laut mendidih,” tuturnya.
Yang membuat mereka semakin heran, kondisi laut ketika itu tidak menunjukkan gelombang besar seperti yang mereka bayangkan.
“Untungnya tidak ada ombak di tengah laut, mungkin gelombang hanya di dekat daratan saja,” katanya.
Patta Daeng memperkirakan getaran yang mereka rasakan berlangsung selama kurang lebih lima menit.
Ia menggambarkan getaran tersebut seperti sedang berada di dalam kendaraan yang melaju melewati jalan rusak dan dipenuhi batu.
“Getarannya seperti saat kita naik mobil di daratan, baru lewat di jalan yang rusak parah dan jalan batu-batu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut terasa sangat berbeda dibandingkan gempa-gempa kecil yang pernah dirasakannya selama melaut.
Menurutnya, meskipun gempa dengan kekuatan sekitar Magnitudo 3 hingga 4 pernah terjadi, ia tidak pernah merasakan kapal lempara bergetar sedahsyat itu.
Saat itu, Patta Daeng dan rekan-rekannya belum mengetahui bahwa gempa yang mereka rasakan merupakan gempa besar yang kemudian memicu ancaman tsunami.
Setelah merasakan getaran hebat, para nelayan tersebut terus melanjutkan perjalanan menuju daratan.
Mereka baru mengetahui besarnya gempa setelah tiba di lokasi yang memiliki jaringan internet dan membuka telepon seluler.
Saat itulah mereka mengetahui bahwa gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 telah mengguncang wilayah Flores dan terdapat potensi tsunami.
Patta Daeng mengatakan, selama perjalanan di tengah laut, mereka sama sekali tidak merasakan adanya tsunami.
Namun, pemandangan berbeda mereka temukan setelah tiba di daratan.
Rumah-rumah mengalami kerusakan. Air dan lumpur masuk ke kawasan permukiman. Kapal serta perahu-perahu kecil terseret hingga ke daratan.
Yang paling mengejutkan bagi Patta Daeng adalah suasana kampung yang tiba-tiba kosong.
“Sudah tidak ada orang lagi. Sudah lari semua,” tuturnya.
Ia tiba di rumahnya sekitar pukul 09.00 WITA.
Begitu sampai, ia mendapati air dan lumpur telah masuk ke dalam serta menggenangi sekitar rumah.
Sejumlah kapal kecil dan perahu juga terseret ke daratan akibat gelombang.
“Masuk rumah lihat keadaan begitu saya pasrah saja. Apa boleh dibuat, ini musibah. Di rumah dan di tetangga-tetangga sudah tidak ada orang semua,” katanya.
Patta Daeng bukan satu-satunya kelompok nelayan yang melaut ketika gempa terjadi.
Masih ada satu kelompok nelayan rompong lainnya yang juga berada di laut.
Mereka akhirnya berhasil kembali ke daratan dalam keadaan selamat.
Setelah seluruh nelayan berkumpul, mereka memilih memasak dan makan bersama.
Bukan karena situasi sudah sepenuhnya aman, tetapi karena mereka merasa lapar setelah berada di tengah laut sejak sekitar pukul 16.00 WITA pada hari sebelumnya.
Mereka bahkan memasak dan makan ketika gempa-gempa susulan masih terus terjadi.
Sementara itu, keluarga Patta Daeng memilih mengungsi ke Desa Aeramo.
Namun, Patta Daeng justru memutuskan tetap tinggal di kampungnya di pesisir Desa Nangadhero.
Kini, kawasan tersebut jauh lebih sepi dibandingkan sebelum gempa. Sebagian besar warga telah mengungsi.
Pada malam hari, suasana kampung bahkan semakin sunyi dan gelap karena aliran listrik hingga Rabu (19/8/2026) belum berhasil dipulihkan.
Bagi Patta Daeng, gempa kali ini bukan pengalaman pertama.
Ia pernah mengalami gempa besar sekitar 34 tahun lalu, pada 1992.
Karena pengalaman tersebut, ia merasa lebih siap menghadapi situasi setelah gempa dan tsunami terjadi.
Patta Daeng mengatakan, setelah air laut naik, kondisi kemudian berangsur membaik meski gempa susulan masih terjadi.
“Saya trauma dan sudah pengalaman waktu gempa 1992. Setelah air naik itu selanjutnya tidak lagi dan gempa susulannya lama-lama hilang,” pungkasnya.
Kisah Patta Daeng menjadi salah satu kesaksian warga yang merasakan langsung dahsyatnya gempa Flores M7,7 dari tengah laut.
Bagi seorang nelayan yang telah puluhan tahun akrab dengan laut, getaran kapal yang tidak kunjung berhenti, kemunculan ikan besar yang jarang terlihat, hingga pemandangan kampung yang mendadak kosong menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Kini, setelah bencana berlalu, Patta Daeng masih memilih bertahan di kampung pesisir Nangadhero sambil menunggu keadaan kembali pulih. (Bet)