TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keinginan untuk menurunkan berat badan dengan cepat kerap membuat berbagai produk pelangsing yang menawarkan hasil instan terlihat menggiurkan. Produk semacam ini juga semakin mudah ditemukan, termasuk melalui penjualan online dan promosi di media sosial.
Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang penanganannya membutuhkan proses. Dokter mengingatkan agar upaya menurunkan berat badan tidak dilakukan dengan diet ekstrem atau sembarangan mengonsumsi obat yang belum jelas keamanannya.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, Sp.GK, mengatakan salah satu kesalahan yang masih dilakukan dalam upaya menurunkan berat badan adalah memangkas asupan makanan secara ekstrem.
Pola tersebut antara lain makan hanya satu kali sehari atau menghilangkan kelompok makanan tertentu seperti karbohidrat.
"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," ujar Prinindita dalam Health Corner, dikutip, Rabu(19/8/2026).
Menurutnya, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi dengan baik. Karbohidrat dibutuhkan sebagai salah satu sumber energi, sementara protein berperan sebagai zat pembangun. Lemak, serat, vitamin dan mineral juga tetap diperlukan.
Pola makan dalam program penurunan berat badan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan energi dan protein dapat berbeda berdasarkan kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.
"Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu," katanya.
Sementara itu Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha Tarliman mengatakan anggapan bahwa obesitas hanya terjadi karena kurang disiplin juga perlu diluruskan.
Ada faktor genetik, ketidakseimbangan hormonal dan berbagai faktor lain yang dapat berperan. Kondisi tersebut membuat penyebab obesitas perlu dicari terlebih dahulu agar penanganannya dapat disesuaikan.
“Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter," kata dia.
Baca juga: Obesitas di Indonesia Capai 23,4 Persen, Wamenkes Dante Sebut 1 dari 4 Orang Mengalaminya
Karena itu, pihaknya membuka ruang konsultasi agar masyarakat memiliki akses ke informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik, sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat.
Novo Nordisk berkomitmen lebih dari 20 tahun di Indonesia melalui edukasi, kolaborasi, dan inovasi bersama pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Prinindita menjelaskan obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis. Kondisi tersebut berkembang secara perlahan dan berkaitan dengan kelebihan lemak dalam tubuh.
Penyebabnya juga beragam. Obesitas dapat dipengaruhi faktor gaya hidup, penggunaan obat tertentu hingga gangguan hormonal seperti hipotiroid dan sindrom Cushing.
Karena itu, penanganannya perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat angka pada timbangan, tetapi juga perlu menilai komposisi tubuh dan kemungkinan adanya penyakit penyerta.
Penanganan obesitas memiliki beberapa pilar. Riyanny menjelaskan modifikasi gaya hidup menjadi bagian penting, kemudian terapi farmakologi dapat diberikan bila memang diperlukan. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi bariatrik juga dapat menjadi pilihan.
Penentuan terapi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing. Dokter perlu melihat komposisi tubuh serta penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular sebelum menentukan penanganan.
"Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," kata Riyanny. Karena itu, ketika upaya menurunkan berat badan secara mandiri sudah dilakukan tetapi tidak berhasil, konsultasi dengan dokter sebaiknya dilakukan. Evaluasi diperlukan untuk melihat faktor yang masih terlewat dan menentukan penanganan yang sesuai.
Keinginan mendapatkan hasil cepat juga dapat membuat produk penurun berat badan yang beredar secara online menjadi pilihan. Padahal, tidak semua produk yang dipasarkan telah memenuhi ketentuan keamanan dan memiliki izin edar.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, termasuk yang dilakukan influencer.
Baca juga: Obesitas Pada Perempuan Bisa Picu Risiko Penyakit Kardiovaskular dan Reproduksi
Menurutnya, promosi di media sosial terkadang disertai klaim berlebihan atau overclaim. Karena itu, informasi dari review tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menggunakan obat penurun berat badan.
Taruna juga mengingatkan agar penggunaan obat penurun berat badan disesuaikan dengan ketentuan. Bila obat tersebut membutuhkan resep, penggunaannya perlu melalui konsultasi dengan dokter.
Hal serupa juga disampaikan Prinindita. Ia mengingatkan masih ada obat yang telah ditarik dari peredaran sejak 2010 tetapi menurutnya masih ditemukan beredar.
Penggunaan obat yang sudah ditarik tentu membawa risiko karena produk tersebut tidak lagi diperbolehkan beredar.
Untuk menghindari produk ilegal atau bermasalah, Taruna mengingatkan masyarakat agar menerapkan Cek KLIK sebelum membeli obat maupun produk kesehatan. Cek KLIK mencakup kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa.
Kemasan perlu diperiksa untuk memastikan kondisinya sesuai. Label juga perlu dibaca, termasuk informasi mengenai indikasi atau peruntukan produk.
Selanjutnya, pastikan produk memiliki izin edar dan masih dalam masa berlaku. Produk yang telah melewati tanggal kedaluwarsa juga tidak boleh digunakan.
"Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa," ujar Taruna.
Taruna juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dengan barcode pada kemasan. Jika setelah dipindai justru mengarah ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.
Penurunan berat badan pada obesitas membutuhkan proses. dr Riyanny mengatakan obesitas berkembang dalam waktu panjang sehingga penanganannya juga tidak dapat diharapkan selesai dalam waktu singkat.
"Namanya kronis tidak dari kemarin tiba-tiba hari ini saya obes, maka penyelesaiannya juga tidak kemudian hari ini besok saya selesai. Pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan dampak dan manfaat jangka panjang (long-term health)," tuturnya.
Perubahan gaya hidup perlu dilakukan secara bertahap agar dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.
Pada kondisi tertentu, misalnya ketika sudah mengalami gangguan lutut, jenis olahraga perlu disesuaikan agar perubahan gaya hidup tetap dapat dilakukan tanpa memperburuk keluhan yang ada.
Prinindita menekankan konsistensi juga diperlukan dalam menjalani terapi obesitas. Tujuannya tidak berhenti pada penurunan berat badan, tetapi juga mempertahankan hasil dan mencegah berat badan kembali meningkat.
"Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istiqomah, dan juga komitmen," kata Prinindita.