TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kekeringan mulai menjadi persoalan serius bagi sejumlah wilayah di Kota Makassar.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memprediksi fenomena El Nino berada pada level sangat kuat.
Puncak El Nino bahkan telah terjadi sejak Juni lalu dan diprediksi berlangsung hingga November mendatang.
El Niño adalah fenomena global memanasnya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas batas normal.
Perubahan suhu ini mengganggu sistem angin dan tekanan udara, yang memicu perpindahan pusat pertumbuhan awan jauh dari wilayah Indonesia ke arah Pasifik Tengah.
Dampak utama El Nino di Indonesia diantaranya musim kemarau datang lebih panjang dan ekstrem, curah hujan menurun drastis dan menyebabkan kekeringan, serta suhu udara harian terasa lebih panas.
Di tengah ancaman musim kemarau panjang tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menyiapkan langkah antisipasi.
Pemkot berupaya memperluas fasilitas penyediaan air bersih bagi warga.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kelurahan Cambaya, Kecamatan Ujung Tanah, Rabu (19/8/2026).
Dalam kunjungannya, Munafri mendatangi rumah-rumah warga.
Ia mengecek langsung efektivitas SPAM tersebut.
Munafri memastikan sendiri dengan memutar keran air milik warga setempat
"Saya datang langsung ke lokasi melihat SPAM ini. Tujuannya memastikan ketersediaan air pompa ini berjalan dan manfaat untuk warga di sini," ujar Munafri.
SPAM Cambaya berada di sekitar RW 03 dan menjadi salah satu sumber air alternatif bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan akses air terbatas.
Fasilitas tersebut mengandalkan lima sumur bor sebagai sumber air bagi warga.
Tiga di antaranya merupakan sumur bor bantuan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar.
Di SPAM Cambaya, air dari sumur bor dengan kedalaman sekitar 180 meter dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Air tersebut kemudian didistribusikan secara mandiri oleh warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Awalnya, jaringan SPAM itu diproyeksikan hanya melayani sekitar 83 rumah warga.
Namun, setelah berjalan dan dikelola secara swadaya, cakupan pelayanan meningkat hingga 109 rumah.
"Ini mengaliri, target awalnya kurang lebih hanya 83 rumah, tapi akhirnya menjadi 109 rumah yang mereka layani," kata Munafri.
Fasilitas tersebut telah diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola secara mandiri sejak sekitar empat bulan terakhir.
Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan dan distribusi air.
Kondisi tersebut menjadi penting karena kebutuhan air biasanya meningkat ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Terlebih, sejumlah kawasan di Makassar selama ini memang memiliki persoalan ketersediaan air, yang semakin terasa ketika kondisi cuaca semakin kering.
Munafri mengatakan pembangunan SPAM menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menghadapi kondisi tersebut.
"Ini adalah salah satu antisipasi kita untuk bagaimana mengantisipasi kemarau panjang," tegasnya.
Pmkot Makassar melalui Dinas PU menyiapkan pembangunan SPAM di 13 titik di Makassar.
Lokasi tersebut akan diarahkan ke wilayah yang dinilai paling membutuhkan dukungan fasilitas air bersih.
"Di beberapa wilayah tahun ini, Dinas PU juga sudah merencanakan membuat SPAM seperti ini di 13 titik tambahan lagi yang harus kita maksimalkan di wilayah-wilayah yang sangat terdampak," jelas eks CEO PSM Makassar tersebut.
Menurut Munafri, kondisi musim kemarau tahun ini perlu diantisipasi sejak dini karena periode kering diperkirakan cukup panjang.
"Hitungan kita ini lumayan panjang musim keringnya dan sangat kering," ungkapnya.
Karena itu, pemerintah akan melakukan pemetaan kebutuhan untuk menentukan lokasi pembangunan SPAM berikutnya.
Munafri juga meminta jajaran kecamatan memberikan masukan terkait wilayah yang paling membutuhkan fasilitas air bersih.
Data BPBD Kota Makassar per 5 Agustus 2026 mencatat 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Kondisi itu tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
Kecamatan Biringkanaya Paling Terdampak
Dari enam kecamatan, Biringkanaya mencatat jumlah warga terdampak terbesar dengan 14.787 jiwa (sekitar 4.084 rumah tangga).
Kecamatan Biringkanaya berfungsi sebagai gerbang utara masuk ke kota.
Wilayah ini memiliki luas sekitar 48,22 km⊃2; dengan jumlah penduduk yang sangat padat, serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros.
Menurut data BPBD Kota Makassar, sebagian besar warga terdampak di Kecamatan Biringkanaya sangat bergantung pada sumur bor dan air tanah.
Ketika kemarau panjang melanda, pasokan air bawah tanah menyusut drastis sebelum jaringan PDAM sepenuhnya merata.
Wilayah terdampak lainnya yakni di Kecamatan Tallo dengan 10.672 jiwa, Tamalanrea 9.947 jiwa, Manggala 7.601 jiwa, Ujung Tanah 2.921 jiwa, serta Panakkukang 1.324 jiwa.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat pemerintah menempatkan pemenuhan kebutuhan air bersih sebagai prioritas utama selama masa tanggap darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar M Fadli Tahar menegaskan, respon terhadap kekeringan harus dilakukan sebelum dampaknya berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
"Kekeringan datang perlahan, tetapi dampaknya langsung menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat," kata M Fadli Tahar, Jumat (14/8/2026).
"Karena itu kita tidak boleh menunggu kondisi menjadi lebih berat. Ketika masyarakat kesulitan air, pemerintah harus hadir," imbuhnya.
Sebagai bagian dari respon awal, tandon air telah ditempatkan di sejumlah wilayah terdampak. (*)