Para peneliti Amerika Serikat telah lama meneliti penguin Adélie Antarktika melalui satelit yang diluncurkan beberapa dekade lalu. Data dari citra satelit yang terkumpul menunjukkan adanya perubahan warna kotoran penguin dari waktu ke waktu. Apa penyebabnya?
Studi yang terbit di Current Biology pada 20 Juli 2026, mengungkapkan korelasi antara kotoran dan volume es laut yang ada di dekat koloni mereka. Temuan menjelaskan bahwa penurunan umum es laut di Samudra Selatan selama periode penelitian dikaitkan dengan peningkatan jumlah krill (krustasea mirip udang) dalam makanan penguin.
Hal ini, pada gilirannya, dikaitkan dengan penurunan prospek kelangsungan hidup anak penguin dan penurunan ukuran koloni.
"Tidak ada yang bermaksud agar satelit-satelit ini digunakan untuk memantau penguin, tetapi sekarang kita dapat menggunakannya dengan cara-cara baru ini," kata Dr Casey Youngflesh, asisten profesor di Clemson University, South Carolina, AS, dikutip dari BBC Science Focus.
Pola Makan Penguin yang Memengaruhi Warna Kotoran
Dr Youngflesh dan tim dapat mendeteksi spektrum khas dari kotoran penguin, yaitu pola radiasi elektromagnetik yang dapat menunjukkan suatu zat kimia atau senyawa, untuk kemudian disimpulkan apa yang telah dikonsumsi dan menjadi pola makan penguin-penguin tersebut.
Para peneliti juga sempat mengambil kotoran penguin secara langsung, mengumpulkannya, kemudian mencocokkan warnanya dengan sumber makanan yang tersedia di sekitar penguin. Hasilnya, peneliti menemukan perubahan yang tampak 'aneh'.
Penguin yang mengonsumsi ikan akan menghasilkan feses yang cenderung berwarna putih. Sementara penguin yang mengonsumsi krill, sejenis udang yang hidup di perairan bebas, akan menghasilkan feses dengan warna cenderung merah muda.
Krill merupakan salah satu makanan yang lazim bagi penguin. Namun, mangsa tersebut dinilai memiliki jumlah kalori yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan mangsa utama penguin, yaitu ikan tenggiri.
Satelit Bantu Pengamatan dari Waktu ke Waktu
Bagi peneliti, citra satelit bisa digunakan untuk mengamati perubahan dari satu dekade ke dekade yang lain. Ini membantu para peneliti untuk mengetahui perkembangan tanpa harus mengunjungi setiap lokasi penguin di Antarktika.
Adapun terkait jumlah es yang berada di lokasi penguin, faktor utamanya adalah pemanasan global. Saat semakin banyak es yang meleleh, semakin banyak pula krill yang muncul.
Kondisi ini sekaligus membuat ikan yang menjadi mangsa utama penguin semakin sedikit. Ini karena ikan-ikan mengentaskan telurnya menggunakan media es di laut, sehingga pengembangbiakan dan kesehatan populasi ikan akan terganggu.
"Penguin merupakan spesies yang ikonik sekaligus dapat menjadi indikator bahaya. Memfokuskan penelitian pada perubahan pola makan penguin memiliki manfaat yang lebih luas bagi pemahaman kita tentang ekosistem Antartika." jelas salah seorang peneliti, Dr Michael Polito.
Menurut temuan dalam studi terakhir pada 2013, krill akan menjadi mangsa utama bagi penguin Adélie hingga beberapa waktu ke depan.





