TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Jamuddin (72) hanya bisa duduk termenung menatap puing-puing rumahnya yang telah menjadi abu. Rumah satu-satunya milik lansia di Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar itu ludes dilalap si jago merah, Rabu (19/8/2026) kemarin.
Asap masih mengepul dari sisa-sisa bangunan ketika lelaki tua itu memandangi rumahnya yang kini telah rata dengan tanah.
Rumah sederhana berukuran sekitar 3×5 meter itu berdiri di tengah areal perkebunan warga di Desa Katumbangan.
Baca juga: Kemarau Melanda Sulbar, Ini Tata Cara dan Bacaan Salat Istisqa untuk Memohon Hujan
Baca juga: Kemarau Dua Bulan, Ratusan Warga Mamuju Tengah Gelar Salat Istisqa Minta Hujan
Selama ini, rumah tersebut menjadi satu-satunya tempat bagi Jamuddin untuk berteduh dari hujan dan teriknya matahari.
Rumah itu dibangun Jamuddin dengan susah payah, mengandalkan penghasilannya sebagai penjual sapu lidi.
Awalnya, bangunan tersebut hanya menyerupai sebuah gubuk.
Perlahan, kondisinya menjadi lebih layak setelah mendapat perhatian dari sejumlah relawan yang menggalang dana untuk membantu memperbaikinya.
Namun, rumah yang selama ini menjadi tempat Jamuddin bernaung itu kini tinggal kenangan akibat musibah kebakaran.
Belum diketahui secara pasti sumber api yang menyebabkan rumah tersebut terbakar.
Apalagi saat kejadian rumah dalam keadaan kosong.
Saat api mulai membakar rumanya, Jamuddin sedang pergi mencari pelepah daun kelapa.
Pelepah itu dikumpulkannya untuk dibuat menjadi sapu lidi, yang selama ini menjadi sumber penghasilannya untuk bertahan hidup.
Jamuddin mengaku sempat memasak nasi sebelum meninggalkan rumah. Dia memastikan api di dapur telah dimatikan.
“Sempat masak. Tapi api di dapur sudah saya matikan sebelum meninggalkan rumah,” ucapnya.
Jamuddin kemudian pergi mencari pelepah daun kelapa. Dia tak menyangka, saat dirinya pergi, api justru membakar rumah yang dibangunnya dengan susah payah.
Kabar terjadinya kebakaran diketahui Jamuddin setelah mendengar suara teriakan sejumlah anak.
Mendengar kabar tersebut, Jamuddin sontak kaget. Meski tubuhnya sudah tak sekuat dulu, dia bergegas pulang untuk memastikan kondisi rumahnya.
Namun, sesampainya di lokasi, kobaran api telah membesar dan menyelimuti tempat tinggalnya.
Warga yang berada di lokasi kejadian sempat berupaya memadamkan kobaran api menggunakan alat seadanya.
Jamuddin hanya bisa menyaksikan rumahnya dilalap api. Tak ada satu pun barang yang berhasil diselamatkan.
Bukan hanya rumah, ratusan sapu lidi yang telah selesai dibuat dan siap dijual juga ikut hangus terbakar.
Bagi Jamuddin, sapu lidi itu bukan sekadar barang dagangan. Setiap ikatannya merupakan hasil dari tenaga dan waktu yang dicurahkan untuk menyambung hidup.
Kini, semuanya telah menjadi abu.
Hanya selembar baju usang yang masih menempel di tubuhnya.
Itulah satu-satunya barang milik Jamuddin yang tersisa setelah api menghanguskan rumah dan seluruh harta benda yang dimilikinya.
Di hadapan puing-puing rumahnya, Jamuddin selaman ini tinggal seorang diri hanya bisa pasrah.
Rumah sederhana yang dibangunnya dengan susah payah telah hilang dalam hitungan waktu.
Tak ada lagi tempat untuk berteduh. Tak ada lagi ratusan sapu lidi yang siap dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli