TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Enam fakta cekcok masalah batas tanah yang berakhir pembacokan dialami pegiat budaya asal Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya dilakukan oleh tetangganya menggunakan golok.
Kejadian berdarah ini terjadi di Kampung Ciaren RT 10/10, Desa Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (19/8/2026) pagi.
Fakta pertama sebelum kejadian, korban Tata (45) sempat menegur ke Sanusi perihal batas tanah dimiliki korban yang telah dijual ke warga lain.
Fakta kedua, sempat cekcok korban dengan ayah terduga pelaku hingga adu jotos.
Kemudian fakta ketiga, usai adu jotos, anak terduga pelaku E (30) mengetahui kejadian dan menghampiri ke lokasi hingga melakukan pembacokan.
Fakta keempat korban adalah pegiat budaya yang kesehariannya melakukan pementasan dan ikut kegiatan budaya.
Baca juga: Surat Terbuka Ojol Sukabumi untuk Kapolres:Tak Tenang Cari Nafkah hingga Jadi Korban Pembacokan
Fakta kelima terduga pelaku dan ayahnya masih satu kampung dengan korban.
Fakta keenam, usai melakukan pembacokan, terduga pelaku tidak kabur dan diamankan polisi bersama ayahnya ke Polres Tasikmalaya Kota.
Diketahui korban bernama Tata Hendro (45) alias Ki Danu ditemukan sudah tidak bernyawa di area kebun singkong.
"Informasi awal adanya permasalahan tentang perbatasan tanah. Untuk terduga pelaku dan korban masih satu kampung hanya beda RT saja," kata Kepala Desa Karangjaya Soni Ruswandi kepada TribunPriangan.com, Rabu (19/8/2026).
Namun, terduga pelaku pembacokan ini sebenarnya sedang berkunjung ke rumah orang tuanya karena sudah pindah domisili ke Bandung.
"Kalau Ki Danu (korban) RT 10, untuk orang tua pelaku berasal dari RT 09. Sedangkan E (terduga pelaku) asli bandung sudah pindah domisili," jelasnya.
Ditanyai soal pembacokan adanya dendam lama, ia mengklaim tidak ada dan murni spontan dilakukan terduga pelaku.
"Kayanya spontan, bukan ada permasalahan dari awal. Tapi memang ada pembicaraan bersifat bercanda, yang mengakibatkan ketersinggungan," kata Soni.
Soni menambahkan sosok korban sebagai pegiat budaya, bahkan akan menggelar acara rangkaian 17 Agustus pekan depan.
"Kalau korban pegiat budaya, malah mau bikin acara di kampungnya. Sedangkan terduga pelaku sedang pulang, kan sudah tinggal di Bandung," pungkasnya.
Senada dikatakan Ketua RT 10 Nanang Nurhidayat mengaku, pihaknya dapat informasi kejadiannya sekira pukul 09.30 WIB dan langsung menuju lokasi untuk melihat kondisi korban.
Nanang menyebut, bahwa korban dan terduga pelaku saling mengenal karena masih satu kampung, hanya beda RT.
"Kenal keduanya juga, hanya beda RT saja. Dan keseharian korban ini sebagai pegiat budaya, sedangkan terduga pelaku pengusaha tahu bulat," jelasnya.
Ia menuturkan, pada saat kejadian pelaku tidak kabur malah akan menyerahkan diri ke polisi. Tapi polisi keburu ke lokasi untuk membawa korban dan pelaku.
"Pas saya datang aja terduga pelaku masih ada dengan didampingi kakak ipar dan orang tuanya, sedangkan korban tergeletak dan bersimbah darah," jelas Nanang.(*)