Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG- Korban gempa Flores di Kampung Ojang, Desa Lante, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengaku mulai kesulitan mendapatkan makanan setelah lima hari mengungsi secara mandiri.
Warga mengaku hingga Kamis (20/8/2026) belum mendapatkan bantuan makanan maupun logistik dari pemerintah.
Hal itu disampaikan warga Kampung Ojang, Paulus Agung, bersama sejumlah warga lainnya saat menghubungi TRIBUNFLORES.COM, Kamis (20/8/2026).
Paulus menuturkan, setelah gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026), warga Kampung Ojang memilih menyelamatkan diri dan membuat posko pengungsian di lapangan umum kampung.
Baca juga: Cerita Korban Gempa Flores di Beamese Manggarai: Khawatir Gempa Susulan, Kini Hujan Turun
Warga kemudian mendirikan tenda secara mandiri dan bertahan di lokasi tersebut hingga hari ini.
"Selama lima malam enam hari kami bertahan di posko, belum mendapatkan bantuan apa pun, apalagi makanan dan minuman," ujar Paulus.
Paulus mengatakan warga masih takut kembali ke rumah maupun pergi ke kebun karena gempa susulan masih terus terjadi.
"Kami takut mau masuk rumah maupun pergi kerja kebun karena gempa susulan terus dan semakin besar sampai hari ini. Kami sangat trauma. Sementara stok makanan kami sudah tidak ada lagi, kami kelaparan," katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan makanan dan kebutuhan lainnya ke Kampung Ojang.
Baca juga: 209 Rumah Rusak Akibat Gempa Flores di Desa Golo Manggarai, Warga Butuh Tenda dan Makanan
"Karena itu, kami berharap pemerintah segera kasi bantuan bahan makanan dan logistik lain untuk kami gunakan makan bertahan di tenda yang kami bangun secara mandiri ini," pinta Paulus.
Selain kesulitan makanan, gempa juga menyebabkan sejumlah rumah warga Kampung Ojang mengalami kerusakan.
Paulus menyebut ada delapan rumah warga yang rusak berat. Rumah tersebut milik Lusianus Jehamat, Martinus Marten Yanto, Thobias Salam, Fidelis Bosko, Vinsensius Karjono, dan Adelbertus Deri Supratno.
Sementara itu, sebanyak 15 rumah lainnya mengalami rusak ringan. Kerusakan berupa retakan pada dinding hingga sebagian tembok runtuh.
Tidak hanya rumah warga, bangunan fasilitas umum berupa gedung SDN Golo Gurung juga dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat gempa.
Warga pun masih memilih bertahan di tenda pengungsian karena khawatir dengan gempa susulan yang masih terjadi.