TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PEMANGKAT – PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Singkawang memperkuat kesiapsiagaan personel dalam menghadapi Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) melalui Simulasi Tanggap Darurat yang digelar di Kantor PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Pemangkat pada 11–12 Agustus 2026.
Melibatkan sekitar 50 peserta, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PLN memperkuat budaya keselamatan, pengamanan aset dan operasional, serta memastikan kontinuitas pelayanan kelistrikan kepada masyarakat.
Simulasi melibatkan unsur kepolisian, tenaga medis, petugas pengamanan, serta tim internal PLN dengan menguji sejumlah skenario kondisi darurat.
Skenario tersebut meliputi penanganan aksi premanisme, pencurian aset kelistrikan, penyebaran informasi hoaks, hingga kebakaran yang membutuhkan proses evakuasi dan penanganan korban secara cepat dan terkoordinasi.
Dalam salah satu skenario, peserta menghadapi gangguan kelistrikan akibat pencurian kabel yang berdampak pada terhentinya pasokan listrik.
Tim kemudian melakukan penanganan sesuai prosedur, mulai dari identifikasi gangguan, pengamanan lokasi, koordinasi dengan aparat kepolisian, hingga langkah pemulihan.
Simulasi juga menguji kesiapan personel menghadapi kebakaran di lingkungan kerja, termasuk aktivasi sistem alarm, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), proses evakuasi melalui jalur yang telah ditentukan, penanganan korban, hingga memastikan seluruh personel berada di titik kumpul dalam kondisi aman.
Baca juga: PLN Perkuat Elektrifikasi Industri Sawit, Dukung Operasional Truk Listrik di Kalimantan Barat
Manager PLN ULP Pemangkat, Adi Kurnia Wijayanto, mengatakan latihan tersebut menjadi sarana untuk memastikan prosedur tanggap darurat tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dapat dijalankan dengan tepat ketika menghadapi kondisi sebenarnya.
“Simulasi ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya keselamatan dan kewaspadaan di lingkungan kerja. Kami menguji kesiapan SOP, instruksi kerja, sarana dan prasarana darurat, sekaligus memastikan setiap personel memahami peran dan tanggung jawabnya ketika menghadapi kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan maupun operasional perusahaan. Dan kami dapat mempraktikkan secara langsung penggunaan fasilitas tanggap darurat, mulai dari sistem alarm, APAR, jalur evakuasi, hingga prosedur berkumpul di titik aman. Latihan ini membuat kami semakin memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana berkoordinasi ketika menghadapi kondisi darurat” ujar Adi.
Dari Tim Kepolisian, Setiawan menyampaikan bahwa koordinasi antara perusahaan dan aparat keamanan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi gangguan.
“Sinergi antara perusahaan dan aparat keamanan sangat diperlukan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan tangguh menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan perlu terus dilatih agar koordinasi, komunikasi, dan langkah penanganan dapat berjalan cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi sebenarnya,” katanya.
Manager PLN UP3 Singkawang, Made Hary Palguna, menjelaskan bahwa simulasi menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan personel, prosedur, sistem komunikasi, hingga sarana pendukung tanggap darurat di unit pelayanan.
“Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan tersedianya prosedur dan peralatan. Personel harus memahami tindakan yang harus dilakukan dan mampu berkoordinasi dengan cepat. Karena itu, latihan seperti ini penting dilakukan secara berkala agar respons terhadap kondisi darurat semakin teruji,” tambah Made.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) UID Kalimantan Barat, Maria G.I. Gunawan, menegaskan bahwa penguatan kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko merupakan bagian dari strategi PLN dalam menjaga ketahanan operasional sekaligus memastikan kontinuitas pelayanan kelistrikan kepada masyarakat.
“Pengelolaan risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya PLN menjaga keandalan pelayanan. Kesiapsiagaan menghadapi AGHT harus dibangun melalui penguatan sistem, kompetensi personel, disiplin terhadap prosedur, serta kolaborasi yang kuat dengan aparat keamanan dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan mitigasi yang baik, setiap potensi risiko dapat diantisipasi dan ditangani secara cepat sehingga dampaknya terhadap operasional maupun pelayanan kepada pelanggan dapat diminimalkan,” ujar Maria.
Melalui Simulasi Tanggap Darurat tersebut, PLN terus memperkuat kesiapan personel, efektivitas prosedur, serta koordinasi dengan kepolisian dan pemangku kepentingan dalam menghadapi berbagai potensi kondisi darurat. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen PLN untuk membangun operasional yang tangguh sekaligus menjaga kontinuitas pelayanan kelistrikan kepada masyarakat. (*)