TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Petani bawang merah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, dan sejumlah pihak melakukan panen raya bawang merah di Bulak Bungkus, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Kamis (20/8/2026).
Ketua Gapoktan Pris Makmur Parangtritis, Kadiso, menyampaikan, luas tanaman bawang merah di lokasi tersebut sekitar 200 hektare (ha) dengan sistem penyiraman menggunakan elektrifikasi atau dengan pompa listrik, sehingga terdapat efisiensi biaya penyiraman sebesar 88 persen dibanding dengan menggunakan pompa BBM.
"Di samping itu, dengan elektrifikasi juga bisa dimanfaatkan oleh petani untuk memasang alat light trap atau pengendali hama dan penyakit yang sangat ramah lingkungan dan murah. Kemudian, di Parangtritis ini diberlakukan dengan sistem pola tanam serentak, kecuali tanaman tumpang hilir atau tumpang seri cabai," ucapnya.
Selain itu, pada 20 Juli semua tanaman cabai, terong, dan tomat harus bersih dari lahan di Parangtritis dengan tujuan untuk memutus siklus hidup hama maupun penyakit. Adapun, potensi hasil bawang merah bersih atau tidak ada akar bisa mencapai 21 ton per hektare.
Sementara itu, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengucap rasa syukurnya atas hasil panen bawang merah yang melimpah di wilayahnya.
Menurutnya, komoditas hortikultura ini telah menjadi salah satu sumber utama kesejahteraan para petani, khususnya yang berada di kawasan Bantul bagian selatan.
"Hortikultura bawang merah ini menjadi salah satu andalan pertanian di Kabupaten Bantul yang berkontribusi terhadap total produksi di DIY sebesar 70 persen. Rasa syukur ini merupakan hasil dari kolaborasi berbagai stakeholder yang ada," kata Halim.
Disampaikannya, sektor pertanian di Bumi Projotamansari dinyatakan sebagai salah satu sektor strategis yaitu dari segi sektor industri pertanian dan pariwisata.
Sektor pertanian ini memberikan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kedua setelah sektor industri.
Artinya, sektor pertanian di Bantul telah memberikan kesejahteraan yang signifikan terhadap mayoritas warganya.
Seiring dengan elektrifikasi pertanian yang dilakukan oleh Bantul atas dukungan pemerintah pusat dan provinsi DIY, produksi pertanian di Bantul dari waktu ke waktu semakin naik.
"Hari ini, kita berada di Bulak Bungkus Parangtritis yang sedang melakukan panen seluas 200 hektare bawang merah dengan produksi 21 ton per hektare. Berarti lebih dari 4 ribu ton panen hari ini kita dapatkan," terang Halim.
Lanjutnya, jika harga bawang merah di tingkat petani Rp18 ribu per kilogram, maka hari ini petani memperoleh total pendapatan dari penjualan bawang merah senilai Rp72 miliar.
Menurutnya, hasil panen tersebut patut disyukuri dan diharapkan membawa kesejahteraan petani Bantul.
Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, mewakili Gubernur DIY berujar bahwa panen bawang merah kali ini menyimpan pelajaran bahwa tanah tidak sekadar tentang geografis.
"Di tangan mereka yang tekun, tanah adalah ruang kehidupan, tempat pengetahuan diuji, harapan ditanam, dan kesejahteraan diperjuangkan. Terlebih petani di pesisir selatan memiliki tantangan sendiri," tuturnya.
"Lahan berpasir yang dulu dipandang kurang menjanjikan, melalui pengalaman panjang para petani, dukungan ilmu pengetahuan dan kebijakan yang tepat dapat tumbuh menjadi kawasan pertanian produktif.
"Inilah sesungguhnya wajah pertanian yang perlu terus kita bangun. Pertanian yang tidak hanya mengejar berapa banyak dipanen, tetapi juga memastikan seberapa baik petani itu dari hasil panennya.
"Karena itu, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan kepastian pasar, stabilitas harga, efisiensi rantai pasok, akses terhadap tekonologi, serta penguatan kelembagaan kepada petani," tandasnya. (nei)