Doa agar Tidak Menyimpan Dendam, Bersihkan Hati dari Kebencian
Endra Kurniawan August 21, 2026 04:19 AM

TRIBUNNEWS.COM - Setiap orang tentu pernah merasa sakit hati karena ucapan, sikap, atau perlakuan orang lain.

Luka tersebut terkadang tidak mudah dilupakan hingga muncul keinginan untuk membalas, bahkan setelah peristiwa itu berlalu.

Dalam ajaran Islam, dendam adalah rasa marah atau kebencian yang terus disimpan dalam hati disertai keinginan untuk membalas keburukan kepada orang yang dianggap telah menyakiti.

Perasaan kecewa memang manusiawi, tetapi membiarkannya tumbuh menjadi kebencian dapat merusak ketenangan hati dan hubungan dengan sesama.

Islam justru mengajarkan seorang Muslim untuk berusaha menahan amarah dan memaafkan.

Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Karena itu, ketika hati masih dipenuhi sakit hati dan sulit memaafkan, kita dapat memohon pertolongan Allah SWT agar diberi kekuatan untuk melepaskan dendam dan membersihkan hati dari kebencian. 

Dalam Al-Quran terdapat ayat yang dapat dibaca untuk memohon agar Allah SWT selalu melindungi dari kedengkian dan dendam.

Doa agar Tidak Menyimpan Dendam

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا ۚ رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Rabbanaghfir lanā wa li ikhwāninallażīna sabaqūnā bil-īmān, wa lā taj'al fī qulūbinā ghillal lillażīna āmanū. Rabbanā innaka ra'ūfur raḥīm.

Artinya: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki (hasad) terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr: 10)

Baca juga: Doa agar Selalu Bertakwa dan Diberi Petunjuk dalam Kebaikan

Bahaya Menjadi Orang yang Pendendam

Setiap orang tentu pernah merasa sakit hati karena perkataan atau perlakuan orang lain.

Ada luka yang cepat dilupakan, tetapi ada pula yang terus tersimpan hingga berubah menjadi kemarahan dan keinginan untuk membalas.

Perasaan tersebut memang manusiawi, tetapi ketika seseorang sengaja memelihara kebencian dan terus berharap orang yang menyakitinya mendapatkan keburukan, perasaan itu dapat berubah menjadi dendam.

Dendam bukan sekadar rasa kecewa atau marah sesaat. Dendam adalah keinginan yang terus dipelihara untuk membalas perlakuan buruk orang lain, bahkan dengan memberikan penderitaan yang sama atau lebih berat.

Jika dibiarkan, dendam dapat menguasai hati, merusak hubungan dengan sesama, bahkan mendorong seseorang melakukan perbuatan yang justru merugikan dirinya sendiri.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Allah SWT berfirman: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa membalas keburukan dengan kebaikan merupakan jalan yang lebih baik untuk menghentikan permusuhan. Lantas, apa saja bahaya yang dapat muncul ketika seseorang terus memelihara dendam?

1. Membuat Hati Dipenuhi Kebencian

Orang yang menyimpan dendam biasanya terus mengingat perlakuan buruk yang pernah diterimanya.

Peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu dapat kembali muncul dalam pikiran sehingga kemarahan pun seolah-olah terus hidup.

Akibatnya, hati menjadi sulit merasa tenang. Seseorang dapat menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana membalas orang yang telah menyakitinya, padahal orang tersebut mungkin sudah tidak lagi memikirkan kejadian tersebut.

Karena itu, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan tersebut terus menguasai hati dan kehidupan kita.

Baca juga: Doa Memohon Petunjuk dalam Kesulitan dan Diberi Kemudahan

2. Dendam Dapat Memicu Permusuhan Berkepanjangan

Dendam yang tidak diselesaikan dapat membuat masalah kecil menjadi konflik yang semakin besar.

Ketika seseorang membalas keburukan, pihak lain dapat merasa tersakiti dan kembali membalas, hingga siklus tersebut akhirnya terus berulang.

Allah SWT telah memberikan petunjuk agar keburukan dihentikan dengan cara yang lebih baik:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik...” (QS. Fussilat: 34)

Dalam keadaan tertentu, memilih menahan diri, memaafkan, atau menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik justru dapat menghentikan permusuhan.

3. Dapat Memutus Silaturahmi

Dendam juga dapat membuat seseorang enggan bertegur sapa, bertemu, atau menjalin hubungan kembali dengan orang yang dianggap telah menyakitinya.

Jika berlangsung lama, hubungan keluarga, persahabatan, maupun persaudaraan dapat menjadi renggang.

Padahal, Islam memberikan peringatan keras mengenai memutus hubungan kekerabatan.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (Muttafaq ‘alaih)

Karena itu, jangan sampai rasa sakit hati membuat seseorang mengambil keputusan untuk memutus silaturahmi tanpa alasan yang dibenarkan.

4. Dendam Dapat Berkembang Menjadi Iri dan Dengki

Dendam yang dipelihara dalam hati sering kali tidak berhenti pada keinginan untuk membalas. Ketika melihat orang yang dibenci mendapatkan kebahagiaan, kesuksesan, rezeki, atau nikmat dari Allah SWT, seseorang dapat merasa tidak senang.

Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi hasad, yaitu keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang.

Rasulullah SAW mengingatkan: “Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak membiarkan kebencian berkembang menjadi iri dan dengki yang pada akhirnya merusak dirinya sendiri.

5. Membuat Seseorang Sulit Memaafkan

Memiliki dendam membuat seseorang terus menempatkan dirinya sebagai korban dari kesalahan masa lalu. Akibatnya, setiap kali mengingat orang yang pernah menyakitinya, rasa marah dapat kembali muncul.

Padahal, Allah SWT justru memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Allah berfirman yang artinya: “...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Memaafkan memang tidak selalu mudah, terutama ketika luka yang ditinggalkan sangat dalam.

Namun, belajar melepaskan dendam dapat menjadi bentuk ketaatan sekaligus cara menjaga hati agar tidak terus dibebani kebencian.

6. Membuat Diri Sendiri Terus Terikat pada Masa Lalu

Salah satu bahaya terbesar dari dendam adalah seseorang bisa terus hidup dalam kejadian yang sebenarnya sudah berlalu.

Hari ini seharusnya menjadi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan tenang, tetapi pikiran justru terus kembali pada kesalahan orang lain di masa lalu.

Pada akhirnya, orang yang menyimpan dendam dapat kehilangan banyak hal: ketenangan, hubungan baik, kesempatan untuk menikmati kebahagiaan, bahkan waktu yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri.

Karena itu, ketika mendapatkan perlakuan buruk, seorang Muslim tetap boleh merasa sedih dan kecewa.

Namun, jangan biarkan rasa sakit tersebut berubah menjadi keinginan untuk terus menyakiti orang lain.

Urusan keadilan dapat diserahkan kepada Allah SWT, sementara kita berusaha menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian.

Allah SWT menjanjikan keutamaan bagi orang yang mampu memaafkan:

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang serupa. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya dari Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan.

Justru, ketika seseorang mampu menahan amarah dan memilih jalan yang lebih baik meskipun memiliki kesempatan untuk membalas, ia sedang menunjukkan kekuatan hati dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

5 Cara agar Tidak Menjadi Orang yang Pendendam

Disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil tentu dapat meninggalkan luka di hati.

Perasaan marah dan kecewa adalah hal yang manusiawi, tetapi jika terus dipelihara, perasaan tersebut dapat berubah menjadi kebencian dan dendam.

Karena itu, seorang Muslim perlu berusaha membersihkan hati agar luka yang pernah dialami tidak berubah menjadi keinginan untuk membalas.

Islam mengajarkan agar hati tidak dipenuhi kebencian, berikut ini lima cara yang disarankan oleh Qureish Shihab dalam Tafsir Al Misbah.

1. Berdoa agar Allah Membersihkan Hati

Ketika seseorang menyakiti kita, terkadang hati terus mengingat kejadian tersebut meskipun sudah berlalu.

Semakin sering diingat, semakin besar pula rasa marah dan keinginan untuk membalas.

Daripada membiarkan perasaan itu menguasai diri, mintalah pertolongan kepada Allah SWT. Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah:

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Wa lā taj‘al fī qulūbinā ghillal lilladzīna āmanū rabbanā innaka ra'ūfur rahīm.

Artinya: “Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Jangan malu mengakui kepada Allah bahwa hati kita sedang terluka. Memohon agar hati dibersihkan sedikit demi sedikit merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk melepaskan dendam.

Baca juga: Doa agar Mampu Menjaga Lisan, Jauh dari Perkataan Buruk dan Sia-sia

2. Berusaha Memahami Penyebab Kemarahan

Tidak semua luka muncul karena seseorang benar-benar berniat menyakiti kita. Terkadang rasa sakit muncul karena kesalahpahaman, perkataan yang tidak dipikirkan, atau perbedaan cara pandang.

Karena itu, sebelum membiarkan kebencian tumbuh, cobalah memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Tanyakan kepada diri sendiri apakah orang tersebut memang sengaja menyakiti, atau ada sesuatu yang belum kita pahami?

Bukan berarti kita harus membenarkan kesalahan orang lain. Namun, memahami keadaan dapat membantu kita melihat persoalan dengan lebih tenang sehingga kemarahan tidak berubah menjadi dendam.

3. Belajar Memaafkan dan Menahan Amarah

Memaafkan bukan berarti menganggap perbuatan yang menyakiti kita sebagai sesuatu yang benar. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati kita.

Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain:

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ketika mampu memaafkan, kita tidak lagi memberikan ruang terlalu besar kepada orang yang pernah menyakiti kita untuk mengendalikan ketenangan hati.

4. Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan

Dendam sering kali membuat seseorang berpikir bahwa membalas adalah satu-satunya cara mendapatkan kepuasan. Padahal, membalas keburukan dengan keburukan justru dapat membuat konflik semakin panjang.

Allah SWT memberikan petunjuk: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

Tidak semua perlakuan buruk harus dibalas. Dalam keadaan tertentu, menjauh, menetapkan batasan, atau memilih diam justru lebih baik daripada terus terlibat dalam permusuhan.

5. Alihkan Energi pada Hal yang Positif

Ketika rasa marah kembali muncul, jangan terus-menerus memutar kejadian yang menyakitkan di dalam pikiran.

Alihkan perhatian kepada aktivitas yang bermanfaat, seperti berolahraga, membaca Al-Qur'an, berdzikir, melakukan pekerjaan yang disukai, atau berbicara dengan orang yang bijaksana.

Jika hati masih terasa berat, sampaikan semuanya kepada Allah dalam doa dan sujud. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati kita daripada Allah SWT.

Ingatlah bahwa membersihkan hati dari dendam bukan sesuatu yang selalu bisa dilakukan dalam satu malam. Terkadang diperlukan waktu, doa, dan usaha berulang kali. Yang terpenting adalah terus berusaha agar luka tidak berubah menjadi kebencian.

Allah SWT menggambarkan keadaan penghuni surga dengan firman-Nya:

“Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka menjadi bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa hati yang bersih dari dendam adalah sebuah kenikmatan.

Karena itu, ketika disakiti, jangan berpikir bagaimana membuat orang lain merasakan sakit yang sama, tapi berusaha agar luka tersebut tidak membuat hati kehilangan ketenangan, kasih sayang, dan kedekatan kepada Allah SWT.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.