Jejak Raden Tumenggung Yudanegara II, Leluhur Presiden Prabowo Berprinsip Teguh
Daniel Ari Purnomo August 21, 2026 05:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Sosok leluhur Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto, senantiasa dikenang sebagai figur pemimpin yang memegang teguh komitmen dan integritas moral saat menakhodai Kabupaten Banyumas.

Tokoh bersejarah yang menjabat sebagai Bupati ke-7 Banyumas tersebut bernama Raden Tumenggung Yudanegara II.

Budayawan Banyumas, Nasirrun Purwokartun, menguraikan bahwa rekam jejak kepemimpinan sang adipati terpatri secara nyata dalam manuskrip Babad Banyumas.

Baca juga: UCAPANNYA Viral dan Sakiti Hati Publik, Keponakan Prabowo Subianto Mundur dari Anggota DPR

Silsilah Garis Keturunan

Raden Tumenggung Yudanegara II memiliki seorang putri bernama Raden Ayu Kertanegara yang dipersunting oleh Tumenggung Kertanegara.

Garis keturunan dari trah tersebut kemudian berlanjut melintasi generasi hingga melahirkan Prof Soemitro Djojohadikoesoemo sampai ke figur Prabowo Subianto.

"Jadi silsilahnya tertulis jelas dalam Babad Banyumas. Kalau ditarik ke atas lagi, bertemunya ke Raden Joko Kaiman (Bupati Pertama Banyumas)," kata budayawan yang akrab disapa Kang Nass.

Kang Nass memaparkan bahwa Raden Tumenggung Yudanegara II dalam catatan Babad Banyumas digambarkan sebagai ksatria yang teguh pendirian serta pantang berkompromi terhadap prinsip kebenaran.

Tokoh berwibawa tersebut hidup mengabdi pada era dinamika Keraton Mataram Kartosuro di bawah tampuk kekuasaan Sri Susuhunan Pakubuwono II.

Geger Pecinan Kartosuro

Dinamika politik bermula saat kebijakan represif kompeni Belanda memicu gelombang perlawanan etnis Tionghoa dari Batavia menuju arah timur hingga menyentuh Semarang.

Kala itu, patih keraton membujuk Pakubuwono II agar memanfaatkan momentum perlawanan kaum Tionghoa sebagai peluang emas melepaskan diri dari hegemoni Belanda.

"Awalnya, Pakubuwono II menyetujui untuk mendukung pasukan China dengan harapan akan terbebas dari beban hutang dan beban mengirimkan upeti ke Batavia (kompeni Belanda)."

"Tapi setelah melihat pemberontakan China bisa dikalahkan, Pakubuwono II berbalik arah memerangi China," ungkapnya.

Prinsip Teguh Pemimpin

Nassirun mengungkapkan bahwa inkonsistensi sikap politik penguasa takhta membuat Tumenggung Yudanegara II terperangkap dalam pergolakan nurani yang mendalam.

Menyaksikan tabiat kepemimpinan rajanya yang plin-plan, ia memutuskan enggan bertugas mengawal Keraton Kartosuro dari serbuan laskar Tionghoa dan memilih bertolak kembali menuju Banyumas.

Sang adipati berkeyakinan teguh bahwa kawan yang kemarin bersama dalam satu barisan tidak selayaknya dibantai demi kepentingan sesaat.

"Yang akhirnya Keraton Kartosuro berhasil diduduki oleh pasukan China. Pakubuwono II melarikan diri ke Ponorogo," jelasnya.

Nassirun melanjutkan, setelah Pangeran Cakra Ningrat asal Madura berhasil memukul mundur pasukan penyerbu, Pakubuwono II pun kembali menduduki keraton.

Gelar Sedo Pendopo

Setibanya di keraton, raja mendapati Raden Tumenggung Yudanegara II tidak berada di tempat tugasnya.

Lantaran dituduh mangkir melarikan diri dari kewajiban, Pakubuwono II lantas menjatuhkan vonis hukuman mati kepada sang bupati.

Namun, putra Yudanegara II yang tengah menjalani magang di lingkungan keraton sigap mengutus kurir guna mengabari sang ayah lebih awal.

"Yudanegara II ketika membaca surat dari anaknya dia tiba-tiba mati, dimungkinkan serangan jantung. Dia meninggal dunia di pendopo sehingga dikenal dengan nama Tumenggung Yudanegara Sedo Pendopo," katanya.

Tatkala delegasi utusan raja tiba di tlatah Banyumas, raga Raden Tumenggung Yudanegara II didapati telah berpulang ke hadirat Sang Khalik.

Bagi Nassirun, sikap penarikan diri sang adipati dari intrik keraton tersebut merupakan perwujudan ksatria yang setia pada prinsip kebenaran.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.