BMKG Catat 4.258 Gempa Susulan Pasca-Gempa Flores, Warga Diminta Waspadai Bangunan Retak
Anita K Wardhani August 21, 2026 10:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Warga di wilayah terdampak gempa utama magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih harus mewaspadai guncangan susulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.258 gempa susulan telah terjadi hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB.

Baca juga: Kapal RS Apung Malahayati Bertolak ke NTT, Sasar Bantuan Ibu Hamil dan Anak Balita

Dari ribuan gempa tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sementara itu, 31 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5,0.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di wilayah Flores masih berlangsung dinamis setelah gempa utama.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung selama 3 hingga 4 minggu ke depan.

Gempa Susulan Belum Menunjukkan Peluruhan Signifikan

Wijayanto menjelaskan, aktivitas gempa susulan pada fase awal masih cukup tinggi.

Pola gempa yang terjadi dari hari ke hari juga belum menunjukkan peluruhan yang sederhana.

Ia memaparkan jika aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan. 

"Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam,” kata Wijayanto pada siaran pers yang diterima, Jumat (21/8/2026).

Data tersebut menunjukkan jumlah gempa susulan tidak terus menurun secara bertahap.

Setelah sempat berada pada angka 627 kejadian pada hari kelima, aktivitas gempa kembali meningkat menjadi 802 kejadian pada hari keenam.

Karena itu, masyarakat terdampak masih perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya guncangan susulan dalam beberapa pekan ke depan.

Dua Hari Berturut-turut Terjadi Gempa M5,8

Sejumlah gempa susulan juga tercatat cukup signifikan dan dirasakan kuat oleh masyarakat.

BMKG mencatat guncangan dengan intensitas IV-VI MMI terjadi pada beberapa kesempatan.

Pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB, terjadi gempa berkekuatan M5,6.

Kemudian pada 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB, kembali terjadi gempa berkekuatan M5,8.

Tidak berhenti di sana, guncangan signifikan kembali terjadi pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB dengan kekuatan M5,8.

Gempa tersebut memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan dan jembatan yang sebelumnya telah terdampak.

Gempa juga menimbulkan bencana tanah longsor di sejumlah titik.

Kondisi ini menjadi perhatian karena bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan dapat kembali terdampak ketika terjadi guncangan berikutnya.

Aktivitas Gempa Tidak Menyebar Merata

Hasil relokasi BMKG menunjukkan gempa susulan tidak menyebar secara homogen.

Aktivitas tersebut justru membentuk beberapa klaster atau kelompok sumber gempa.

Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa utama M7,7 di utara Nagekeo.

Zona tersebut membentang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust.

Sementara itu, klaster gempa susulan lainnya muncul di bagian barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai.

Pergerakan pusat aktivitas gempa juga mengalami perubahan dari hari ke hari.

Pada hari pertama hingga keempat setelah gempa utama, aktivitas gempa terlihat menyebar di seluruh klaster, dari wilayah timur hingga barat.

Namun, memasuki hari kelima dan keenam, aktivitas seismik mulai bergeser.

Aktivitas lebih banyak terpusat di klaster bagian barat, sementara aktivitas pada klaster bagian timur mulai menurun secara bertahap.

BMKG Pantau Gempa 24 Jam

Untuk mengetahui perkembangan aktivitas gempa susulan, BMKG terus melakukan pemantauan secara real-time.

Sistem pemantauan tersebut beroperasi 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan.

Petugas BMKG tidak hanya menghitung jumlah gempa yang terjadi.

Analisis juga dilakukan terhadap magnitudo, persebaran sumber gempa, arah pergerakan aktivitas hingga karakteristik sumber gempa.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk menghasilkan informasi yang akurat dan dapat disampaikan kepada masyarakat serta instansi terkait secara tepat waktu.

Warga Diminta Hindari Bangunan Retak

Di tengah masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan, masyarakat terdampak diminta tetap tenang.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai gempa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Hal yang tidak kalah penting adalah memperhatikan kondisi bangunan setelah gempa.

Masyarakat diminta menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa serta tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.

BMKG juga menyediakan pembaruan informasi aktivitas gempa susulan secara berkala.

“Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG mempublikasikan pembaruan data aktivitas gempa bumi susulan secara rutin dua kali sehari, yaitu setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB. Informasi resmi ini dapat diakses publik secara luas melalui kanal media sosial resmi BMKG seperti di Instagram, Facebook, dan WhatsApp Channel,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.