TRIBUNNEWS.COM - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momentum yang banyak dimanfaatkan umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan kepada Beliau.
Maulid Nabi sendiri merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang secara tradisi populer dikaitkan dengan 12 Rabiul Awal.
Peringatan ini berkembang dalam sejarah Islam beberapa abad setelah Rasulullah wafat dan kemudian hadir dalam beragam bentuk sesuai tradisi masyarakat Muslim di berbagai daerah.
Sejumlah catatan sejarah menyebut tradisi Maulid mulai dikenal dalam lingkungan pemerintahan Islam pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-11 Masehi, dikutip dari Baznas.go.id.
Dalam perkembangannya, tradisi tersebut menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam dan beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, termasuk di kawasan Asia, Afrika, dan Eropa.
Dalam berbagai komunitas Muslim, peringatan Maulid kemudian tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga diisi dengan aktivitas keagamaan dan sosial.
Kegiatan tersebut antara lain pembacaan sirah Nabi, pengajian, pembacaan selawat, pemberian makanan, sedekah, hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.
Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan perkembangan peringatan Maulid adalah Muzhaffaruddin Gökböri, penguasa Irbil di wilayah yang kini menjadi bagian dari Irak, dikutip dari https://kotasemarang.baznas.go.id/.
Pada masa pemerintahannya, peringatan Maulid diselenggarakan dalam skala besar dan diisi dengan kegiatan keagamaan serta sosial.
Dari sisi pandangan keagamaan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai bentuk peringatan Maulid.
Sebagian ulama memandang peringatan tersebut dapat menjadi sarana mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah selama diisi dengan kegiatan yang tidak bertentangan dengan syariat.
Baca juga: 2 Teks Khutbah Jumat 21 Agustus 2026 Tema: Makna Maulid Nabi di Kehidupan Modern
Imam Jalaluddin al-Suyuti, misalnya, membahas Maulid dalam Husnul Maqsid fi Amalil Maulid dan mengaitkannya dengan amalan-amalan baik seperti pembacaan Al-Qur'an, selawat, serta pengajian.
Pandangan serupa juga dikaitkan dengan Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, meskipun pembahasan mengenai Maulid memiliki konteks dan rincian yang perlu dipahami secara utuh.
Yang perlu diketahui, tidak terdapat perintah eksplisit dalam Al-Qur'an atau hadis untuk menyelenggarakan perayaan Maulid sebagai sebuah perayaan khusus, dan peringatan tersebut memang tidak dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Seiring waktu, masyarakat Muslim di berbagai wilayah mengembangkan bentuk peringatan Maulid dengan tradisi masing-masing.
Ada yang mengadakan pengajian dan pembacaan riwayat kehidupan Nabi, ada pula yang mengisinya dengan selawat, ceramah, sedekah, pembagian makanan, serta kegiatan sosial lainnya.
Pada 2026, Maulid Nabi diperingati pada Selasa, 25 Agustus 2026, sehingga berbagai persiapan untuk menyambutnya mulai dilakukan, termasuk menyampaikan ucapan dan informasi kegiatan melalui media sosial.
Salah satu bentuk yang banyak digunakan adalah poster Maulid Nabi yang dapat memuat ucapan selamat, pesan tentang keteladanan Rasulullah, informasi acara, hingga ajakan untuk memperbanyak selawat.
Secara umum, poster Maulid Nabi merupakan media visual bertema Islami yang dibuat untuk menyampaikan pesan atau informasi berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Poster dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari dibagikan melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya, hingga dicetak dan dipasang sebagai bagian dari dekorasi kegiatan di masjid, sekolah, pesantren, maupun lingkungan masyarakat.
Selain menjadi sarana penyampaian informasi, poster juga dapat menjadi pengingat agar momentum Maulid diisi dengan kegiatan yang bernilai positif dan sesuai dengan ajaran Islam.
Berikut Tribunnews rangkum 50 poster Maulid Nabi Muhammad SAW:
(Tribunnews.com/Farra)