TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Kalimantan Timur terus meningkat di tengah puncak musim kemarau.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, menyebut jumlah hotspot di Kaltim hingga memasuki pekan ketiga Agustus 2026 telah mencapai sekitar 8.000 titik.
Angka tersebut bahkan telah menyamai jumlah titik panas yang tercatat sepanjang Agustus 2025, padahal Agustus 2026 belum berakhir.
“Dari awal hingga akhir Agustus 2025 kita sudah mencapai 8.000 titik. Sedangkan hingga saat ini, kita masih di minggu ketiga Agustus, terpantau juga sudah mencapai 8.000,” kata Carolina dalam Podcast Tribun Kaltim, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kaltim.
Baca juga: BMKG Balikpapan Sebut El Nino Diprediksi hingga Februari 2027, Kaltim Masih Terancam Kekeringan
Hotspot paling banyak terpantau di sejumlah wilayah dengan cakupan lahan yang luas, termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
Carolina menjelaskan, hotspot perlu menjadi perhatian karena kondisi atmosfer saat ini relatif kering.
Apalagi lahan gambut maupun kawasan dengan vegetasi kering akan lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
BMKG bersama stakeholder terkait terus melakukan pemantauan titik panas menggunakan satelit.
Informasi mengenai hotspot tersebut juga diperbarui secara berkala dan disampaikan kepada masyarakat.
“Pemantauan titik panas itu dilakukan dengan satelit. Informasinya kami berikan setiap hari, biasanya update pagi dan malam,” ujarnya.
Baca juga: Kabut Asap Karhutla Kaltim Mengarah ke Kaltara, BMKG Ungkap Kondisi Udara Terkini
Dengan kondisi puncak kemarau yang masih berlangsung, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Termasuk membuka lahan dengan cara membakar serta membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang kering. (*)