TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Setelah mengalami benturan kepala, sebagian orang mungkin merasa kondisinya sudah membaik karena tidak mengalami luka atau keluhan yang berat. Padahal, benturan akibat terjatuh, kecelakaan, olahraga, maupun aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan perdarahan otak tanpa langsung menimbulkan gejala yang jelas.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi fungsi otak apabila tidak segera ditangani.
Menurut Prof. DR. dr. Satyanegara, Sp.BS dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, salah satu tantangan pada cedera kepala adalah gejala yang tidak selalu muncul segera setelah benturan terjadi.
“Pada beberapa kondisi, perdarahan otak dapat berkembang secara bertahap sehingga keluhan baru dirasakan setelah beberapa waktu. Karena itu, benturan kepala, terutama yang terjadi akibat mekanisme cedera yang kuat atau disertai tanda-tanda gangguan fungsi otak, perlu mendapatkan evaluasi medis untuk menentukan kondisi pasien,” jelas Prof. Satyanegara.
Setelah mengalami benturan kepala, perlu mewaspadai sejumlah tanda bahaya, seperti sakit kepala yang semakin berat, mual dan muntah berulang, mengantuk berlebihan, kebingungan, gangguan keseimbangan, kejang, hingga kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
dr. Dedy Kurniawan, Sp.N(K), FINA dari Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, gejala setelah cedera kepala dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung lokasi dan tingkat keparahan cedera.
"Apabila muncul perubahan kesadaran, gangguan bicara, kelemahan anggota gerak, atau keluhan yang semakin memburuk setelah benturan, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat,” jelas dr. Dedy.
Untuk mengetahui kondisi di dalam kepala, dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh melalui pemeriksaan saraf dan pemeriksaan penunjang, seperti CT Scan atau MRI bila diperlukan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter melihat adanya perdarahan, pembengkakan, atau kelainan lain akibat trauma, sehingga strategi penanganan dapat ditentukan sesuai kondisi pasien.
"Evaluasi pada pasien dengan cedera kepala tidak hanya melihat keluhan yang dirasakan saat datang, tetapi juga mempertimbangkan riwayat kejadian, kondisi neurologis, serta hasil pemeriksaan penunjang. Pendekatan yang komprehensif membantu dokter menentukan langkah penanganan yang paling sesuai bagi setiap pasien,” jelas Dr.dr. Cep Juli, Sp.N (K) dari Mayapada Hospital Bandung.
Selain cedera kepala, prinsip kecepatan penanganan juga menjadi faktor penting pada kondisi neurologis lain, seperti stroke.
Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan otak dan kecacatan.
Pada stroke iskemik atau stroke akibat sumbatan pembuluh darah otak, terdapat protokol penanganan internasional yang dikenal sebagai door-to-needle, yaitu waktu sejak pasien tiba di rumah sakit hingga mendapatkan terapi trombolisis untuk membantu melarutkan sumbatan pembuluh darah otak, dengan standar waktu kurang dari 60 menit.
Semakin cepat terapi diberikan, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko kecacatan dan mendukung pemulihan pasien.
Dalam mendukung penanganan berbagai kondisi neurologis dan kegawatdaruratan, Mayapada Hospital menghadirkan Tahir Neuroscience Center, layanan terpadu untuk menangani gangguan saraf, otak, dan tulang belakang, mulai dari deteksi dini, diagnosis, tindakan neurointervensi dan bedah saraf, hingga neurorehabilitasi.
Layanan ini didukung kolaborasi tim dokter multidisiplin, termasuk dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, serta spesialis terkait lainnya, untuk membantu menentukan diagnosis dan rencana penanganan sesuai kondisi pasien.
Sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan stroke yang cepat, terintegrasi, dan berstandar internasional, Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), Mayapada Hospital Surabaya (MHSB), dan Mayapada Hospital Bandung (MHBD) memiliki kesiapan layanan stroke dengan dukungan tim dokter multidisiplin, layanan Stroke Emergency 24/7, fasilitas diagnostik yang memadai, serta alur penanganan yang terintegrasi.
MHJS juga telah memperoleh akreditasi Joint Commission International (JCI), standar mutu dan keselamatan pasien yang diakui secara internasional.
Informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, Emergency 150990, atau melalui aplikasi MyCare.
Selain itu, Anda juga dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).