TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Abrasi di sepanjang Sungai Unda, Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Bali mengancam keberadaan belasan rumah warga.
Pihak desa pun berinisiatif melakukan penanganan darurat, Jumat (21/8/2026) dengan menormalisasi alur sungai atau menggeser jalur aliran sungai menjauh dari kawasan permukiman
Tokoh masyarakat Desa Tangkas, Ketut Sujana mengatakan, dalam normalisasi ini pihak desa sampai bekerjasama dengan pihak swasta untuk ketersediaan alat berat agar normaliasi dapat dilakukan sesegera mungkin.
Baca juga: Pendangkalan di Sungai Unda Bali, Petani di Kecamatan Dawan Klungkung Khawatir Gagal Panen
Langkah tersebut merupakan langkah darurat untuk mengurangi hantaman arus yang selama ini menggerus bantaran sungai.
Abrasi Sungai Unda bukan persoalan baru bagi warga setempat. Sejumlah bangunan sebelumnya mengalami kerusakan hingga ambrol akibat terus terkikis arus sungai.
Kini, sekitar 15 rumah warga masih berada di zona yang dinilai rawan jika abrasi kembali meluas.
"Ada belasan rumah warga yang terancam. Kalau terus dikikis aliran sungai, bangunan warga bisa roboh," ungkapnya.
Baca juga: Dipicu Hujan Deras, Debit Air di Kali Unda Klungkung Tiba-tiba Meninggi, Truk Terseret Arus
Pembuatan alur sungai baru diharapkan dapat menjadi solusi awal dengan mengarahkan aliran agar tidak lagi terlalu dekat dengan rumah penduduk.
Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk memberikan perlindungan dalam jangka panjang.
Ketut Sujana mengatakan, pembangunan tanggul permanen menjadi kebutuhan mendesak untuk mengamankan permukiman sekaligus kawasan di sekitar Sungai Unda.
Tanggul baru nantinya diharapkan dapat terhubung dengan bangunan pengaman sungai yang sebelumnya telah dibangun pemerintah pusat di hilir, yakni di kawasan PKB.
“Normalisasi alur sungai merupakan langkah awal, yang perlu dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur pengaman sungai yang permanen,” kata Sujana.
Sujana menambahkan, dampak abrasi tidak hanya dirasakan warga yang rumahnya berada di sekitar bantaran.
Kondisi tersebut juga mulai mengancam kawasan embung yang diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan air di kawasan Pusat Kebudayaan Bali.
Saat musim hujan, debit air yang masuk ke kawasan embung disebut cukup besar. Di sisi lain, sejumlah akses menuju lokasi tersebut juga mulai terdampak pengikisan.
“Kalau musim hujan, air masuk sampai ke kawasan embung. Bahkan jalan-jalan pintas menuju embung sudah terkikis,” ungkapnya. (*)