SURYAMALANG.COM, MALANG - Polemik penimpaan mural 'Malang The Glory Land' di tembok Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, Jawa Timur, berbuntut panjang.
Karya seni yang sarat nilai sejarah itu ditimpa oleh panitia Festival Mbois 11 dengan cat baru bertuliskan "Malang Menyala Bersama".
Festival Mbois sendiri merupakan helatan ekonomi kreatif tahunan di Kota Malang yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Agustus 2026 di Stadion Gajayana.
Acara ini mengusung kolaborasi lintas sektor serta menghadirkan panggung musik dari deretan band lokal Malang Raya hingga luar daerah.
Namun, imbas insiden penimpaan mural tersebut, gelombang pengunduran diri melanda para pengisi acara.
Baca juga: Mural Legendaris Karya Tokoh Aremania Hilang Ditimpa Gambar Baru, Panitia Festival Mbois Minta Maaf
Berdasarkan informasi yang dihimpun SURYAMALANG.COM, sebanyak empat band dan seorang pemandu acara (MC) secara resmi memilih mundur dari festival tersebut.
Empat band yang menyatakan batal tampil adalah d'kross, Terraces 88, Flying Dutchman, dan Apa Rapper.
Sementara itu, Sam Dadang yang semula dijadwalkan menjadi MC acara juga mengambil langkah serupa.
Pernyataan pengunduran diri tersebut disampaikan secara terbuka melalui akun media sosial masing-masing.
Gelombang pengunduran diri ini bukan tanpa alasan.
Seluruh deretan pengisi acara yang mundur diketahui memiliki kedekatan emosional yang erat dengan kultur suporter Aremania.
Mural 'Malang The Glory Land' yang bermakna "Malang Tanah Kejayaan" merupakan karya ikonik yang digagas oleh Almarhum Sam Nyek, sosok senior Aremania dari komunitas This Is Arema.
Dibuat sejak tahun 2016 silam, mural ini telah dianggap sebagai bagian dari identitas sejarah serta ikon Kota Malang.
Tak heran jika penimpaan karya seni tersebut memicu kekecewaan mendalam dari kawan-kawan Aremania maupun warga Malang secara luas.
Langkah mundurnya para musisi ini didasari komitmen bersama untuk memberikan penghormatan terhadap karya seni, identitas, sejarah, dan rasa memiliki yang telah melekat pada mural tersebut.
Road Manager d’kross, Rahmat Mashudi Prayoga, menegaskan keputusan d'kross untuk membatalkan penampilan di Festival Mbois 11 merupakan bentuk sikap tegas atas polemik yang berkembang.
"Sebagai band yang lahir dan tumbuh bersama semangat Arek Malang dan Aremania, kami merasa perlu mengambil sikap untuk menghormati terhadap karya, identitas, sejarah," kata Rahmat.
Band yang populer dengan lagu "Malang ke Bulan" ini menegaskan langkah pengunduran diri tersebut bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan wujud solidaritas nyata kepada masyarakat dan suporter yang memiliki keterikatan batin dengan mural tersebut.
Baca juga: Sikap Presidium Aremania Utas Terkait Penutupan Mural Malang The Glory Land di Kota Malang
"Keputusan ini bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kami terhadap kawan-kawan Aremania serta seluruh pihak yang merasa memiliki ikatan dengan Malang The Glory Land," ujarnya.
Sikap yang diambil d'kross menjadi salah satu bentuk ketegasan musisi lokal yang rela mengorbankan panggung festival besar demi membela nilai sejarah Kota Malang.
Kendati mundur, d’kross menyatakan komitmennya untuk tetap merawat semangat kebersamaan di Kota Malang.
"Kami tetap mencintai Malang, Aremania, seni, musik, dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan d’kross," tambahnya.
Sikap serupa turut ditegaskan oleh Terraces 88, grup musik yang salah satu anggotanya merupakan dirigen Aremania, Yuli Sumpil.
Melalui unggahan di akun Instagram resmi @terraces88, manajemen menegaskan pengunduran diri mereka dari line-up panggung dilakukan atas kesadaran penuh internal grup.
'Berdasarkan pertimbangan seluruh crew, kami menyampaikan untuk tidak tampil atau mundur dari line up Festival Mbois 11,' tulis akun resmi @terraces88.