Laporan Wartawan Sripoku.com, Mat Bodok
TRIBUNSUMSEL.COM, PALI – Tingginya suhu panas yang melanda Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak langsung terhadap masyarakat.
Sejumlah sumur warga dan debit sungai mulai mengalami kekeringan, Jumat (21/8/2026).
Selain itu, rerumputan dan semak belukar menjadi sangat mudah terbakar.
Kondisi tersebut membuat Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PALI terus menyiagakan Tim Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Bumi Serepat Serasan.
Di beberapa desa di Kecamatan Talang Ubi, Abab, dan Penukal, warga mengaku sumur gali mereka mulai keruh dan debit airnya menyusut.
Begitu juga dengan anak-anak sungai yang biasanya menjadi sumber air untuk kebun dan ternak. Kini, sumber air tersebut mulai sulit dimanfaatkan karena mengalami kekeringan.
"Air sumur sudah kering, tidak bisa disedot dengan mesin pada pagi hari," kata Ahmad, warga Perumahan Alam Pendopo, Kelurahan Handayani Mulya.
Kondisi sumur yang mengering membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air galon guna memenuhi kebutuhan memasak dan keperluan lainnya.
Baca juga: Damkarmat dan BPBD Padamkan Karhutla di Tanjung Raya OKU Selatan, Tiga Jam Api Berhasil Dikendalikan
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD PALI, Jon Faizar mengatakan, kombinasi suhu panas, angin kencang, dan kondisi lahan yang kering sangat mudah memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Apalagi, banyak terdapat lahan gambut dan semak belukar di wilayah PALI, termasuk di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) dan perkebunan.
"Kita sudah masuk siaga. Api kecil bisa cepat besar kalau ada pemicu. Kemarin di TPA Talang Ubi, sekitar 2 hektare lahan warga juga terbakar," jelas Jon Faizar.
Selain itu, eks gudang minyak yang sudah tidak terurus juga dilaporkan terbakar.
Pemkab PALI, jelas Jon Faizar, telah menginstruksikan para camat dan kepala desa untuk aktif melakukan patroli serta menyosialisasikan larangan membakar lahan.
"Mari sama-sama jaga lingkungan. Setetes api bisa menghabiskan hektaran lahan. Setetes air sangat berarti saat kemarau," ucapnya.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com