Talang Air 4 Bumiayu Pringsewu, Peninggalan Kolonial Belanda yang Masih Mengaliri Sawah
Reny Fitriani August 21, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Besi tua masih membentang di Bumiayu, Kecamatan Pringsewu. 

Di balik bentuknya yang sederhana dan konstruksinya yang mulai menua, Talang Air 4 Bumiayu yang diyakini merupakan peninggalan masa kolonial Belanda masih menjalankan fungsi yang sama hingga kini, yakni mengalirkan air untuk kebutuhan pertanian.

Baca Juga: Jejak Kolonisasi 1905 di Desa Bagelen, dari 43 Pendatang hingga Tradisi Kesenian Jawa

Air yang dialirkan melalui talang tersebut berasal dari Bendungan Way Tebu. 

Dari bendungan, air masuk ke jaringan irigasi, melewati talang, kemudian diteruskan menuju wilayah lain untuk mengairi lahan pertanian.

Bagi warga sekitar, keberadaan talang bukan sekadar peninggalan masa lalu. 

Bangunan tersebut masih menjadi bagian dari sistem pengairan yang digunakan masyarakat.

“Kalau diperlukan untuk pengaliran sawah, dibuka. Kalau tidak, ya biasa mengalir,” kata Reni Sulastri, warga Bumiayu, Jumat (21/8/2026).

Reni merupakan salah satu warga yang tinggal di dekat Talang Air 4 Bumiayu. 

Menurutnya, sistem pengaliran tersebut dilengkapi pintu pengatur yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.

Aliran air juga tidak berhenti di sekitar talang, tetapi diteruskan menuju wilayah lain yang membutuhkan pasokan air untuk lahan pertanian.

Fungsi tersebut membuat bangunan tua itu masih memiliki arti bagi masyarakat. 

Namun, di tengah manfaatnya yang masih dirasakan, kondisi fisik talang mulai menjadi perhatian warga.

Aisyah, warga Bumiayu lainnya, mengatakan keberadaan talang telah dikenal masyarakat sejak lama. 

Ia bahkan mengingat bangunan tersebut sudah ada sejak sekitar dekade 1960-an.

“Empat lima juga sudah ada itu,” ujar Aisyah.

Angka itu, kata dia, merujuk pada tahun 1945.

Menurut Aisyah, kondisi talang saat ini mulai membutuhkan perhatian lebih dalam hal perawatan. 

Sejumlah bagian bangunan, terutama beton pada tiang, disebut mulai mengalami kerusakan.

“Untuk perawatannya akhir-akhir ini kurang,” katanya.

Meski demikian, konstruksi baja pada talang masih dinilai kuat dan belum pernah diganti.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena talang masih memiliki fungsi penting bagi pengairan sawah. 

Ketika kebutuhan air meningkat, pintu pengaliran dibuka agar air dari jaringan irigasi dapat diteruskan menuju lahan pertanian.

Persoalan pengairan juga tidak hanya bergantung pada kondisi talang. 

Pada musim kemarau, debit air di Bendungan Way Tebu turut menentukan ketersediaan air yang dapat dialirkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, menurut Reni, aliran air sempat ditutup karena kondisi air di bendungan mengalami penyusutan cukup besar.

“Air di bendungan juga kondisinya surut banyak sih. Kering banget,” ujarnya.

Saat air irigasi tidak tersedia, warga di sekitar kawasan talang memiliki alternatif menggunakan sumur bor. 

Namun, untuk kebutuhan pertanian, keberadaan jaringan irigasi tetap dinilai penting karena air dari Bendungan Way Tebu yang melewati talang menjadi bagian dari sistem pengairan menuju lahan sawah.

Jika terjadi gangguan pada jaringan pengairan, warga biasanya berkoordinasi dengan dinas yang menangani pekerjaan umum.

Aisyah berharap pemerintah tidak hanya melihat Talang Air 4 Bumiayu sebagai bangunan tua atau peninggalan sejarah, tetapi juga memperhatikan fungsi yang masih dijalankannya hingga sekarang.

“Supaya terawat dan masih bisa dimanfaatkan untuk ke depannya,” ujarnya.

Bagi warga Bumiayu, merawat talang bukan sekadar menjaga bangunan bersejarah agar tidak hilang dimakan usia. 

Infrastruktur tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama ketika kebutuhan air untuk lahan pertanian datang.

Di satu sisi, talang menjadi pengingat sejarah masa kolonial. 

Di sisi lain, besi dan konstruksinya masih menjadi jalur bagi air menuju sawah.

Selama air masih mengalir dan lahan pertanian masih membutuhkan pasokan, Talang Air 4 Bumiayu juga masih memiliki fungsi bagi masyarakat hingga hari ini.

(Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.