Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Momen yang Memalukan?
Muhammad Fatoni August 21, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Pernah tiba-tiba teringat kejadian memalukan yang terjadi bertahun-tahun lalu?

Misalnya ketika salah menyebut nama seseorang, salah menjawab pertanyaan di depan kelas, atau mengirim pesan ke orang yang salah. 

Padahal, kejadian tersebut mungkin sudah lama berlalu dan tidak lagi dipikirkan oleh orang lain.

Entah mengapa, otak masih bisa memunculkan kembali kejadian tersebut, bahkan ketika kita sedang melakukan aktivitas lain.

Berbagai pengalaman menyenangkan justru terkadang lebih mudah dilupakan. 

Pujian yang pernah diterima beberapa waktu lalu mungkin sudah tidak terlalu diingat, tetapi kesalahan kecil yang membuat malu masih bisa terasa jelas.

Lantas, mengapa hal memalukan lebih mudah melekat dalam ingatan?

Yuk Tribunners simak penjelasannya dibawah ini.

21082026 membanggakan
Ilustrasi seseorang sedang mengingat hal yang membanggakan dalam hidupnya

Otak Lebih Memperhatikan Pengalaman Negatif

Salah satu penjelasannya berkaitan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif.

Kecenderungan ini membuat seseorang lebih mudah memperhatikan sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, kesalahan, atau pengalaman tidak menyenangkan.

Dari sudut pandang evolusi, kemampuan tersebut dapat membantu manusia mengenali situasi yang berpotensi membahayakan dan menghindarinya di kemudian hari.

Misalnya, ketika seseorang pernah mengalami kejadian yang membuatnya takut atau tidak nyaman, otak dapat menyimpan informasi mengenai pengalaman tersebut agar orang tersebut lebih berhati-hati jika menghadapi situasi serupa.

Hal yang sama dapat terjadi pada pengalaman sosial.

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompok. 

Karena itu, pengalaman yang membuat seseorang merasa ditolak, dipermalukan, atau melanggar norma sosial dapat menimbulkan respons emosional yang kuat.

Rasa Malu Membuat Pengalaman Lebih Berkesan

Rasa malu merupakan salah satu emosi yang berkaitan erat dengan penilaian sosial.

Ketika melakukan sesuatu yang dianggap memalukan, seseorang biasanya tidak hanya mengingat peristiwa yang terjadi, tetapi juga memikirkan bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain.

Misalnya, ketika seseorang salah berbicara di depan banyak orang, ia mungkin terus memikirkan ekspresi orang-orang yang melihatnya, apa yang sebenarnya ingin ia katakan, hingga bagaimana seharusnya ia bersikap saat itu.

Perhatian yang besar terhadap kejadian tersebut dapat membuat pengalaman terasa semakin kuat dalam ingatan.

Dalam proses pembentukan memori, bagian otak seperti amigdala berperan dalam memproses emosi, sementara hipokampus berperan penting dalam pembentukan dan pengorganisasian ingatan.

Ketika sebuah pengalaman disertai emosi yang kuat, pengalaman tersebut dapat terasa lebih menonjol dibandingkan kejadian sehari-hari yang tidak memiliki muatan emosional sebesar itu.

Itulah salah satu alasan mengapa kejadian memalukan bisa terasa begitu jelas meskipun sudah berlalu bertahun-tahun.

Baca juga: Baca Materi Pelajaran lewat Handphone atau Buku, Mana yang Lebih Efektif?

Kenapa Sering Terpikir Kembali?

Pernah merasa tiba-tiba teringat kesalahan lama saat sedang berbaring sebelum tidur?

Hal tersebut bisa terjadi karena memori tertentu dapat muncul kembali ketika seseorang berada dalam situasi yang mengingatkan pada pengalaman tersebut. 

Tidak jarang, seseorang juga sengaja mengingat kembali kejadian itu untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Masalahnya, semakin sering sebuah memori diingat kembali, semakin besar kemungkinan memori tersebut terasa familier dan mudah muncul.

Akibatnya, seseorang bisa terus memikirkan kejadian yang sama sambil membayangkan berbagai kemungkinan.

“Seharusnya waktu itu aku ngomong apa, ya?”

“Kenapa aku melakukan itu?”

“Kalau waktu itu aku tidak mengatakan hal tersebut, apa yang akan terjadi?”

Padahal, orang lain mungkin sudah lama melupakan kejadian tersebut.

Bukan Berarti Otak Ingin Menyiksa Kita

Meskipun terasa mengganggu, munculnya kembali kenangan memalukan tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dengan otak.

Dalam kondisi tertentu, mengingat pengalaman negatif dapat membantu seseorang belajar dari kesalahan.

Ketika seseorang memahami apa yang membuatnya malu, ia dapat menggunakan pengalaman tersebut sebagai bahan untuk memperbaiki perilaku di masa depan. 

Dengan kata lain, ingatan tersebut dapat membantu seseorang mengenali situasi sosial yang ingin dihindari atau diperbaiki.

Namun, jika seseorang terus-menerus memikirkan kejadian masa lalu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hal tersebut tentu perlu diperhatikan. 

Terlalu lama terjebak dalam pikiran negatif juga dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan pengalaman tersebut.

Jadi, Tribunners, kalau tiba-tiba teringat momen memalukan dari bertahun-tahun lalu, tidak perlu langsung menganggap diri sendiri aneh.

Bisa jadi, otak hanya sedang mengingat pengalaman yang dianggap penting karena memiliki muatan emosi yang kuat.

Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, pengalaman tersebut bisa dijadikan bahan untuk belajar. 

Sebab, kejadian memalukan memang tidak selalu bisa dihapus dari ingatan, tetapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya.

Dan satu hal yang perlu diingat, kemungkinan besar orang lain tidak mengingat kesalahan kita selama kita mengingatnya. (MG Eka Robiatul A)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.