TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Puluhan warga yang merupakan para wali pelajar menggeruduk Sekolah Dasar Negeri (SDN) Hargomulyo di Padukuhan Tonobakal, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo pada Jumat (21/08/2026) pagi.
Mereka datang sambil membawa spanduk hingga kertas berisi kata-kata protes, menolak rencana regrouping atau penggabungan SDN Hargomulyo dan SDN Banjaran.
Ketua Komite SDN Hargomulyo, Pardiyono mengatakan penolakan muncul karena warga merasa sama sekali tidak ada sosialisasi soal rencana regrouping sekolah.
"Soal rencana regrouping tidak ada komunikasi, sosialisasi, bahkan persetujuan dari komite, tapi tahu-tahu kami mendapat info mau regrouping," katanya ditemui di SDN Hargomulyo.
Pardiyono mengatakan aksi protes sengaja dilakukan bertepatan dengan kunjungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo untuk membahas rencana itu.
Warga pun langsung bertemu dengan Sekretaris Disdikpora Kulon Progo untuk menyampaikan penolakan.
Menurut informasi, keputusan untuk menggabungkan SDN Hargomulyo dan SDN Banjaran karena bangunan dan lahan SDN Hargomulyo akan terkena proyek Tol Yogyakarta-YIA. Namun warga menolak karena SDN Banjaran dirasa lebih jauh dibandingkan SDN Hargomulyo yang berada di tengah keramaian.
"Tak hanya itu, sudah sekitar 5 tahun terakhir ini SDN Hargomulyo tidak ada kepala sekolah, seolah sengaja diombang-ambingkan," ujar Pardiyono.
Usai pertemuan dengan Disdikpora Kulon Progo, akhirnya disepakati bahwa regrouping SDN Hargomulyo batal dilakukan. Selain itu Disdikpora juga berjanji akan memberikan kepala sekolah.
Meski dibatalkan, Pardiyono mengaku pihaknya tetap mengawal keputusan itu. Terutama memastikan bahwa regrouping benar-benar dibatalkan, dan SDN Hargomulyo hanya akan direlokasi jika terkena proyek tol.
"Lurah juga sudah memastikan akan mencarikan lahan untuk relokasi SDN Hargomulyo jika terkena tol," jelasnya.
Dukuh Tonobakal, Widodo mengatakan baru tahu rencana regrouping pada April lalu. Saat itu ia hadir dalam suatu pertemuan membahas hal tersebut, mewakili kalurahan dan warga, tanpa ada komite sekolah.
Ia sendiri menilai rencana regrouping tersebut tidak transparan karena terkesan tiba-tiba. Padahal SDN Hargomulyo menjadi tujuan sekolah bagi warga di 3 Padukuhan yaitu Tonobakal, Banjaran, dan Dumpoh di Kapanewon Temon.
"SDN Hargomulyo posisinya justru di tengah-tengah, punya halaman, dan punya akses jalan sendiri," kata Widodo.(alx)