TRIBUNJOGJA.COM - Konon, setiap kelahiran memiliki ceritanya sendiri.
Dalam tradisi Jawa, cerita itu tidak hanya dilihat dari tanggal ketika seseorang dilahirkan.
Hari dan pasaran juga dapat menjadi bagian dari perhitungan untuk membaca berbagai gambaran tentang watak dan perjalanan hidup.
Salah satunya adalah Selasa Wage.
Dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, orang yang lahir pada Selasa Wage dikaitkan dengan Wuku Landep.
Wuku ini memiliki simbol yang cukup menarik.
Ada Batara Ciwa sebagai dewa pelindung, kayu Daru sebagai lambang kayu, serta burung Sriti atau burung layang-layang sebagai lambang burung.
Dari simbol-simbol tersebut, terselip gambaran mengenai karakter seseorang yang lahir dalam Wuku Landep.
Lantas, bagaimana karakter Wuku Landep? Simak penjelasan berikut.
Kalau mendengar kata Landep, mungkin yang terbayang adalah sesuatu yang tajam.
Dalam primbon, gambaran itu ternyata tidak jauh dari karakter Wuku Landep.
Batara Ciwa disebut memiliki penglihatan yang tajam, bahkan tajam mata hatinya.
Ia digambarkan mampu membaca gerak-gerik serta perubahan yang mungkin akan terjadi.
Karena itu, orang yang dikaitkan dengan Wuku Landep dipercaya memiliki kemampuan untuk merasakan firasat dan membaca keadaan di sekitarnya.
Namun, ada satu sifat lain yang juga disebutkan.
Jikalau ada sosok yang banyak cerita, peka terhadap perubahan, dan seolah mudah menangkap sesuatu sebelum benar-benar terjadi.
Dalam gambaran primbon, karakter seperti ini bisa dikaitkan dengan Wuku Landep.
Ada satu simbol yang membuat gambaran Wuku Landep semakin menarik, yakni burung Sriti atau burung layang-layang.
Burung tersebut dikenal dengan gerak terbangnya yang lincah dan banyak tingkah.
Dalam simbol Wuku Landep, burung Sriti dikaitkan dengan kemampuan menghayati firasat yang baik serta kelembutan.
Bayangkan seekor burung yang terus bergerak di udara.
Ia tidak menetap terlalu lama di satu tempat, tetapi terus mengamati keadaan di sekitarnya.
Begitulah kira-kira gambaran simbolik yang dilekatkan pada Wuku Landep.
Baca juga: Jangan Panik! Ini Cara Tepat Sebelum dan Saat Terjadi Gempa
Setiap gambaran dalam primbon tentu tidak hanya berisi sisi baik.
Wuku Landep juga memiliki simbol gedung dengan daun pintu yang terbuka.
Dalam catatan primbon, simbol tersebut dikaitkan dengan sifat suka marah, suka menyombongkan diri, serta membanggakan harta kekayaan.
Ada pula gambaran bahwa perintahnya cenderung keras.
Karena itu, Wuku Landep seperti memiliki dua sisi.
Di satu sisi, seseorang dipercaya peka, lembut, dan memiliki ketajaman membaca keadaan.
Namun di sisi lain, sifat mudah marah dan kecenderungan membanggakan diri disebut menjadi hal yang perlu diwaspadai.
Dalam catatan tersebut, bahaya yang juga dikaitkan dengan Wuku Landep adalah suka bertengkar.
Primbon Jawa tidak hanya mencatat soal watak.
Dalam Primbon Pawukon Bayi Lahir, orang yang lahir pada Wuku Landep juga disebut memiliki gambaran mengenai usaha mencari rezeki.
Salah satunya adalah berdagang kapas dan benang lawe.
Catatan tersebut juga menyebut kain berwarna kuning sebagai bagian dari simbol atau perlengkapan yang berkaitan dengan Wuku Landep.
Berbagai hal tersebut tentu merupakan tafsir dan kepercayaan dalam primbon, bukan kepastian mengenai rezeki seseorang.
Dari kisah Wuku Landep, terlihat bagaimana masyarakat Jawa dahulu menggunakan berbagai simbol untuk menggambarkan kehidupan manusia.
Ada Batara Ciwa dengan ketajaman penglihatannya.
Ada burung Sriti yang lincah di udara.
Ada pula gedung dengan pintu terbuka yang menjadi perlambang sisi kehidupan lainnya.
Semua simbol tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah gambaran mengenai manusia.
Ada kepekaan, kelembutan, keberanian membaca keadaan, tetapi juga ada sifat yang perlu dikendalikan.
Menariknya, gambaran seperti ini tidak harus dianggap sebagai kepastian tentang seseorang.
Primbon merupakan bagian dari warisan pengetahuan dan kepercayaan masyarakat Jawa yang menyimpan cara leluhur dalam memaknai waktu dan kehidupan.
Jadi, membaca Wuku Landep bisa dipandang seperti membuka satu halaman kecil dari cerita panjang tentang bagaimana masyarakat Jawa memahami manusia sejak hari kelahirannya.
Kalau Wuku Landep punya burung Sriti sebagai salah satu simbolnya.
Kira-kira seperti apa simbol dan gambaran watak wuku lainnya?
Tulis di kolom komentar ya!
(MG Natasya Aulia)