TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran, kali ini melalui jalur ekonomi setelah konflik kedua negara memasuki fase yang semakin sulit diselesaikan melalui kekuatan militer maupun diplomasi.
Presiden AS Donald Trump menyebut strategi terbaru tersebut sebagai “D-Day ekonomi”.
Kebijakan ini tidak hanya diarahkan kepada Iran, tetapi juga kepada negara, perusahaan, dan lembaga keuangan asing yang masih melakukan transaksi dengan Teheran.
Langkah tersebut muncul setelah konflik berlangsung hampir enam bulan tanpa tanda-tanda kemenangan cepat bagi Washington.
Nantinya kebijakan ini berpotensi membuka babak baru konflik AS-Iran, karena tekanan tidak lagi hanya diarahkan melalui operasi militer, tetapi juga melalui perdagangan, keuangan, dan akses terhadap sistem ekonomi global.
Sejauh ini mekanisme lengkap dari kampanye tekanan ekonomi terbaru AS masih belum dijelaskan secara terperinci.
Namun Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan gambaran mengenai arah kebijakan Washington dalam wawancara dengan CNBC International.
Baca juga: Trump Klaim Selat Hormuz, Iran Balas California! Benarkah Perang Narasi Bisa Jadi Perang Darat?
Ia mengatakan AS siap mengambil tindakan terhadap negara mana pun, termasuk negara yang selama ini menjadi mitra Washington, apabila negara tersebut dinilai memberikan bantuan kepada Iran.
Ancaman tersebut dapat mencakup pihak yang mentransfer uang kepada Iran, membeli minyak dari Teheran, hingga membantu aktivitas perdagangan melalui jalur laut.
Artinya, sasaran kebijakan AS berpotensi meluas jauh melampaui perusahaan atau lembaga yang berada di dalam Iran.
Bank asing, perusahaan perdagangan, jaringan transportasi, serta negara ketiga yang membantu transaksi dengan Iran juga dapat menghadapi tekanan dari Washington.
Kebijakan tersebut menjadi penting karena Iran masih memiliki hubungan perdagangan dengan sejumlah negara meskipun telah menghadapi berbagai sanksi ekonomi selama puluhan tahun.
Pertanyaan utama yang muncul adalah seberapa besar “D-Day ekonomi” Trump dapat menekan Iran.
Sanksi ekonomi pada dasarnya bertujuan membatasi kemampuan suatu negara untuk memperoleh pendapatan, melakukan transaksi internasional, serta mengakses sistem keuangan global.
Jika diterapkan secara luas, kebijakan AS dapat membatasi akses Iran terhadap dolar AS, perbankan internasional, pendapatan ekspor minyak, dan jaringan perdagangan global.
Tekanan tersebut berpotensi mengurangi pemasukan pemerintah Iran dan meningkatkan biaya perdagangan bagi perusahaan yang masih beroperasi dengan Teheran.
Masalahnya, Iran bukan negara yang baru menghadapi sanksi. Teheran telah berada di bawah berbagai bentuk tekanan ekonomi AS sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.
Tekanan tersebut kembali meningkat setelah pemerintahan Trump pada periode pertama menarik AS keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018.
Kesepakatan yang dibuat pada 2015 tersebut bertujuan membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sebagian sanksi ekonomi.
Setelah AS keluar dari kesepakatan, Washington kembali menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Teheran.
Pengalaman panjang tersebut membuat Iran memiliki sejumlah mekanisme untuk beradaptasi terhadap pembatasan ekonomi.
Sejumlah pakar menilai kemampuan Iran dalam menghindari sanksi menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi efektivitas kebijakan baru Washington.
Mohammed Hammouda, manajer pengendalian ekspor dan sanksi di Bursa Efek London, mengatakan Iran selama ini mampu mencari jalur baru ketika saluran perdagangan sebelumnya ditutup.
Salah satu metode yang menjadi perhatian adalah penggunaan “shadow fleet”, yaitu jaringan kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak dengan struktur kepemilikan dan operasional yang sulit dilacak.
Iran juga dapat memanfaatkan perusahaan perantara dan jaringan perdagangan baru untuk melakukan transaksi dengan pihak luar negeri.
Dengan cara tersebut, ketika satu jalur perdagangan berhasil diblokir, Teheran dapat berupaya membuka jalur lainnya.
Kondisi ini membuat penerapan sanksi menjadi seperti perlombaan. Di satu sisi, AS berusaha menemukan dan memutus jaringan perdagangan Iran. Di sisi lain, Teheran berusaha beradaptasi dan mencari mekanisme baru agar aktivitas ekonominya tetap berjalan.
Karena itu, sanksi yang semakin luas belum tentu langsung membuat ekonomi Iran lumpuh.
Efektivitas “D-Day ekonomi” Trump juga sangat bergantung pada sikap negara-negara yang masih memiliki hubungan ekonomi dengan Iran.
Pakar sanksi Michael Parker mengatakan strategi baru Washington kemungkinan diarahkan untuk memperluas dampak sanksi dengan menargetkan negara ketiga yang masih melakukan transaksi dengan Teheran.
Negara seperti Turki, Irak, dan China dapat menjadi bagian penting dalam strategi tersebut karena memiliki kepentingan ekonomi dan perdagangan dengan Iran.
Selama masih ada negara yang bersedia membeli minyak Iran, menyediakan jalur perdagangan, atau memberikan akses terhadap sistem keuangan, Teheran masih memiliki ruang untuk mempertahankan aktivitas ekonominya.
Sebaliknya, jika negara-negara tersebut memilih mematuhi tekanan Washington, kemampuan Iran untuk menghindari sanksi dapat semakin terbatas.
Dengan demikian, keberhasilan strategi Trump tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras AS menjatuhkan sanksi, tetapi juga oleh seberapa jauh negara lain bersedia mematuhi kebijakan Washington.
“D-Day ekonomi” Trump menunjukkan bahwa konflik AS-Iran kini tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer.
Washington berusaha menggunakan sanksi, tekanan perdagangan, sistem keuangan, dan ancaman terhadap negara ketiga sebagai instrumen untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Namun, strategi tersebut belum tentu menghasilkan perubahan cepat.
Iran telah menghadapi sanksi selama puluhan tahun dan memiliki pengalaman dalam mencari jalur alternatif untuk mempertahankan perdagangan serta pendapatan ekspornya.
Karena itu, dampak terbesar dari kebijakan Trump kemungkinan akan sangat bergantung pada respons negara-negara lain.
Jika negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran memilih mematuhi tekanan Washington, ruang gerak ekonomi Teheran dapat semakin menyempit.
Namun, jika negara-negara seperti China dan mitra dagang lainnya tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran, dampak sanksi AS kemungkinan lebih terbatas.
Pada akhirnya, “D-Day ekonomi” Trump dapat menjadi pertarungan panjang di sektor keuangan, energi, perdagangan, dan diplomasi.
Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ekonomi Iran, tetapi belum dapat dipastikan mampu memaksa Teheran menghentikan perlawanannya atau mengakhiri konflik.
(Tribunnews.com / Namira)