Menbud Fadli Zon di Hadapan Cendekiawan Malaysia: Indonesia-Malaysia Bukan Entitas Budaya Terpisah
Eko Sutriyanto August 22, 2026 10:38 AM

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah dan budaya karena sama-sama tumbuh dari akar kebudayaan Rumpun Melayu.

Menurut Fadli, kedua negara bukanlah dua entitas budaya yang sepenuhnya terpisah. Hubungan Indonesia dan Malaysia telah terjalin sejak masa lalu melalui interaksi sosial, bahasa, perdagangan, hingga tradisi.

"Secara historis dan geopolitik, kedua negara tumbuh dari rahim kebudayaan yang sama, yakni Rumpun Melayu. Lautan yang terbentang di antara kedua negara sejak ribuan tahun lalu tidak pernah menjadi penghalang, melainkan jalan yang menghubungkan interaksi sosial, bahasa, perdagangan, dan tradisi Nusantara," ujar Fadli.

Pernyataan tersebut disampaikan Fadli saat menghadiri Welcoming Dinner bagi delegasi Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) ke-2 di Museum Kebangkitan Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (21/8/2026) malam.

Kegiatan bertema "Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya" tersebut berlangsung selama empat hari, 20-23 Agustus 2026.

Baca juga: Menbud Fadli Zon Usul Proklamasi Jadi Pilar Pertama Kebangsaan, Sebelum Pancasila dan UUD 1945

Kebudayaan Dijamin Konstitusi

Fadli mengatakan keberagaman budaya di Indonesia memiliki landasan konstitusional. Ia merujuk Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan negara untuk memajukan kebudayaan nasional sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai budayanya.

"Ada amanat dalam konstitusi yang selalu saya kutip, Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai kebudayaannya," ujarnya.

Menurut Fadli, amanat tersebut menunjukkan bahwa pemajuan kebudayaan nasional berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat.

"Jadi memajukan kebudayaan nasional, tapi memberikan jaminan kebebasan bagi masyarakat yang berbeda-beda suku, agama, dan lain-lain untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya masing-masing," tambahnya.

Ia mengatakan Kementerian Kebudayaan terus mempercepat upaya pemajuan kebudayaan sejak kementerian tersebut berdiri secara khusus.

Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia

Menurut Fadli, Welcoming Dinner Madani Malindo bukan sekadar jamuan bagi para delegasi. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Malaysia.

Para delegasi disuguhkan berbagai kekayaan budaya Indonesia, mulai dari pertunjukan tari tradisional, kuliner Nusantara, pantun, musik, hingga wastra.

Berbagai unsur budaya tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia yang memiliki kedekatan dengan kebudayaan Malaysia.

Acara tersebut dihadiri antara lain Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Din Syamsuddin, serta Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Dato' Mohamed Azam bin Mohamed Adil.

Hadir pula 59 cendekiawan dan tokoh delegasi dari Indonesia serta 40 delegasi dari Malaysia.

Dari Kementerian Kebudayaan, hadir Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, serta Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin.

Melalui forum tersebut, para pemikir, akademisi, ulama, dan pakar lintas disiplin dari kedua negara diharapkan dapat memperkuat kerja sama yang inovatif dan solutif.

Dialog tersebut juga diarahkan untuk membangun pemahaman bersama, merayakan keberagaman, serta mendorong kemajuan peradaban yang memberikan manfaat di tingkat regional maupun internasional.

Fadli menilai Museum Kebangkitan Nasional menjadi lokasi yang tepat untuk membicarakan kebudayaan dan peradaban. Menurutnya, tempat tersebut memiliki sejarah penting dalam tumbuhnya gagasan kebangsaan Indonesia.

"Karena memang di tempat inilah cita-cita tentang kemerdekaan dan pembangunan berasal, karena cita-cita Budi Utomo adalah memajukan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan," tutup Fadli.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.