Dari Hasil Mentah ke Produk Bernilai Tambah: Transformasi Tani dan Nelayan Desa Tiberias
Chintya Rantung August 22, 2026 10:38 AM

 

Teknologi produksi, pembukuan digital, dan pemasaran daring menjadi jalan barubagi kelompok tani dan nelayan untuk memperkuat usaha berbasis potensi lokal. 

Oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Manado:  Jaqueline E. M. Tangkau, Revolson Alexius Mege, Sandra A. Korua, Pricilia Joice Pesak, Judion Arjuna Kalare, Andreina Dien, Surya Masengi, dan Stevani Panggit

TRIBUNMANADO.CO.ID -  Potensi jagung dan hasil perikanan di Desa Tiberias selama ini belum sepenuhnya memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Sebagian hasil panen dan tangkapan masih dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul. 

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun pendanaan 2026, tim Universitas Negeri Manado bersama kelompok tani dan nelayan mulai memperkuat rantai usaha dari produksi, pengolahan, pencatatan biaya, hingga
pemasaran digital.

Desa Tiberias memiliki dua kelompok mitra utama, yakni Kelompok Tani Berkat Dua dan Kelompok Nelayan Ronphodang.

Keduanya mempunyai sumber daya produktif, tetapi menghadapi persoalan yang hampir sama: teknologi pascapanen masih terbatas, pencatatan keuangan belum tertib, harga pokok produksi belum dihitung secara konsisten, dan pemasaran masih bergantung pada jalur konvensional.

PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia.
PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia. (Ist/Unima)

Bagi petani, menjual jagung pipil memang lebih cepat, tetapi nilai tambah dari proses pengolahan belum dinikmati kelompok. 

Situasi serupa terjadi pada nelayan. Hasil tangkapan yang dijual segar memiliki waktu simpan terbatas dan posisi tawarnya mudah melemah ketika pasokan melimpah.

Karena itu, pengabdian tahun kedua diarahkan untuk membantu masyarakat bergerak dari produsen bahan mentah menjadi pengelola usaha agroindustri skala desa. 

Teknologi yang Menjawab Kebutuhan Mitra 

Program tidak berhenti pada penyerahan alat. Setiap teknologi dipilih berdasarkan kebutuhan yang diidentifikasi bersama mitra. 

Kelompok Tani Berkat Dua memperoleh dukungan alat penanam jagung dan mesin penepung. Alat penanam membantu mempercepat pekerjaan budidaya serta menjagajarak dan kedalaman tanam agar lebih seragam. 

Mesin penepung membuka peluang pengolahan jagung menjadi tepung jagung dan bahan baku pakan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Kelompok Nelayan Ronphodang memperoleh mesin penepung ikan untuk mengolah ikan bernilai jual rendah atau hasil olahan menjadi tepung ikan dan bahan baku pakan.

Peralatan pengemasan vakum juga digunakan untuk membantu menjaga kebersihan dan memperpanjang daya simpan produk. 

Pemanfaatan teknologi pengering berbasis energi surya yang telah dibangun pada tahap sebelumnyaterus dioptimalkan untuk mendukung pengolahan ikan secara lebih higienis. Penyerahan peralatan disertai demonstrasi, pelatihan pengoperasian, keselamatan kerja, sanitasi, danperawatan berkala.

Pendekatan ini penting agar alat benar-benar menjadi aset produktif kelompok, bukan sekadar barang bantuan yang berhenti digunakan setelah kegiatan berakhir.

Hasil Mulai Terlihat 

Pada tahun pelaksanaan 2026, hasil kegiatan mulai dapat dilihat secara kuantitatif.

Kelompok Tani Berkat Dua menghasilkan jagung sebanyak 6 ton dalam satu periode panen.

Dengan harga jual Rp 6.600 per kilogram, nilai produksinya mencapai sekitar Rp39,6 juta. 

Capaian tersebut menjadi dasar penting untuk melanjutkan hilirisasi sebagian jagung menjadi produk tepung. 

Pada kelompok nelayan, pemanfaatan rumah pengering berbasis energi surya mampu menampung empat boks ikan teri.

Setiap boks berkapasitas 32 liter sehingga satu siklus pengeringan menghasilkan 128 liter ikan teri kering. 

Dengan harga jual Rp 20.000 per liter, potensi omzet dalamsatu siklus penuh mencapai Rp 2,56 juta. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengolahan pascapanen dapat mengubah hasil tangkapan menjadi produk dengan daya simpan dan nilai ekonomi yang lebih baik. 

“Teknologi produksi akan memberi manfaat lebih besar ketika didukung pencatatan biaya, pengelolaan usaha, dan akses pasar yang berjalan bersama.”

Pembukuan Beralih ke Sistem Digital

Perubahan juga dilakukan pada aspek manajemen. Sebelumnya, transaksi usaha belum dicatat secara terstruktur dan keuangan usaha berisiko bercampur dengan kebutuhan rumah tangga. 

Kondisi ini membuat kelompok kesulitan mengetahui biaya produksi, keuntungan, persediaan, serta hargajual
yang wajar.

PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia.
PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia. (Ist/Unima)


Tim kemudian memberikan pelatihan pembukuan dan menyediakan akses Accurate Online serta sistem manajemen siklus produksi ProCost.

Accurate Online digunakan untuk mencatat transaksi dan menyusun informasi keuangan, sedangkan ProCost membantu pengelolaan tahapan produksi sertapenghitungan harga pokok produksi. 

Mitra berlatih mencatat arus kas, bahan baku, stok, biaya tenaga kerja, biaya pendukung, hasil produksi, dan transaksi penjualan. 

Dengan data tersebut, pengurus kelompok memiliki dasar yang lebih baik untuk menentukan harga jual.

Keputusan usaha tidak lagi hanya didasarkan pada perkiraan, tetapi dapat mempertimbangkan seluruh biaya yang dikeluarkan. 

Sistem digital juga membantu meningkatkan transparansi karena transaksi dapat ditelusuri kembali dan digunakan sebagai bahan evaluasi kelompok.

Membuka Pasar Melalui Shopee dan Tokopedia

Hilirisasi produk membutuhkan pasar. Oleh karena itu, pelatihan pemasaran diberikan bersamaan dengan pendampingan pembuatan akun e-commerce di Shopee dan Tokopedia. 

Mitra mempelajari penentuan identitas toko, pengambilan foto produk, penyusunan nama dan deskripsi produk, penetapan harga, pengaturan pengiriman, pengelolaan stok, serta komunikasi dengan calon pembeli.

Kehadiran toko digital memungkinkan produk Desa Tiberias diperkenalkan kepada konsumen di luar wilayah desa. 

Saluran ini belum serta-merta menggantikan pasar lokal, tetapi memberi pilihan baru sehingga kelompok tidak sepenuhnya bergantung pada pengepul.

Pemasaran digital juga mendorong mitra memperhatikan kualitas kemasan, konsistensi produk, identitas merek, dan pelayanan pelanggan.

Pemberdayaan yang Dirancang Berkelanjutan

Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta penyiapan keberlanjutan. 

Kelompok tani, kelompok nelayan, pemerintah desa, dosen, dan mahasiswa terlibat dalam proses identifikasi kebutuhan, praktik penggunaan alat, pengelolaan aplikasi, dan evaluasi kegiatan. 

Tahap berikutnya diarahkan pada penguatan produk unggulan berbasis jagung dan ikan, standardisasi proses produksi, penyempurnaan kemasan, pengurusan legalitas usaha, serta pemanfaatan data penjualan dan keuangan untuk pengambilan keputusan. 

PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia.
PELATIHAN - Anggota kelompok mitra mengikuti pelatihan pembukuan digital dan pemasaran melalui Shopee dan Tokopedia. (Ist/Unima)

Keberlanjutan program sangat bergantung pada kedisiplinan kelompok dalam menggunakan alat, merawat teknologi, mencatat transaksi, danmemperbarui informasi produk pada kanal pemasaran digital.

Transformasi di Desa Tiberias menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi desa memerlukan pendekatan yang utuh.

Mesin dapat mempercepat pengolahan, tetapi sistem manajemen memastikanbiaya dapat dikendalikan. 

Produk dapat memiliki nilai tambah, tetapi pemasaran digital diperlukan agar produk menemukan pembeli.

Ketika teknologi, pengetahuan, dan kelembagaan berjalan bersama, peluang menuju kemandirian ekonomi desa menjadi lebih kuat.(Adv)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.