TRIBUNNEWS.COM - Video yang memperlihatkan seorang camat mengamuk memarahi petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) gegara bantuan korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral lewat media sosial.
Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, dalam video tersebut bahkan mengaku stres dan tidak sanggup lagi karena bantuan yang diterima dinilai masih kurang.
Ia mengaku bingung mengatur pembagian logistik yang terbatas untuk 21.171 jiwa yang tersebar di 11 desa di Kecamatan Lamba Leda Utara. Wilayah tersebut terdampak gempa Flores berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan itu pada Sabtu (15/8/2026).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Timur, Winsensius Tala, menjelaskan persoalan tersebut pada dasarnya dipicu oleh miskomunikasi dan koordinasi di lapangan yang belum berjalan secara optimal.
Ia menegaskan, Pemkab Manggarai Timur tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi persepsi yang lebih luas atau ditafsirkan sebagai pertentangan antarinstansi.
Baca juga: Sosok Ahmad Zaki Ali, Relawan Gempa NTT Gugur saat Salurkan Bantuan, Founder Yayasan Gerak Bareng
"Pertama-tama kami ingin menegaskan bahwa situasi tersebut pada dasarnya merupakan persoalan komunikasi dan koordinasi di lapangan yang belum berjalan secara optimal," kata Winsensius Tala dalam video klarifikasi resmi Pemkab Manggarai Timur, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, dinamika di lapangan sangat mungkin terjadi dalam situasi tanggap darurat karena setiap unsur bekerja di bawah tekanan, keterbatasan informasi, serta tuntutan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
"Dalam kondisi demikian, perbedaan pemahaman terhadap informasi atau mekanisme koordinasi sangat mungkin terjadi," ujarnya.
Winsensius mengatakan, hal yang lebih penting saat ini bukan memperbesar persoalan, melainkan meluruskan komunikasi dan memperkuat koordinasi antarpihak.
Tujuannya, kata dia, agar seluruh unsur tetap memiliki orientasi yang sama, yakni memberikan pelayanan dan bantuan terbaik kepada masyarakat terdampak.
"Kami tidak ingin persoalan ini berkembang menjadi persepsi yang luas ataupun ditafsirkan sebagai pertentangan antarinstansi," katanya.
Ia menjelaskan, Camat Lamba Leda Utara sebagai unsur pemerintah di wilayah memiliki tanggung jawab dalam pelayanan pemerintahan dan masyarakat.
Sementara itu, unsur lain yang hadir di lapangan juga memiliki peran masing-masing dalam mendukung penanganan kondisi darurat.
"Karena itu, setiap perbedaan yang terjadi hendaknya ditempatkan dalam kerangka koordinasi, bukan konflik personal maupun institusional," tegasnya.
Pemkab Manggarai Timur, lanjut Winsensius, telah mendorong pihak-pihak terkait untuk melakukan komunikasi dan klarifikasi secara langsung agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut.
Pemerintah kabupaten juga memastikan koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat agar setiap langkah penanganan di lapangan memiliki pemahaman dan tujuan yang sama.
Selain itu, ia mengimbau seluruh pihak agar tidak memperkeruh suasana dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
"Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan ketenangan, kepastian, dan kerja sama semua pihak," ucapnya.
Baca juga: 5.012 Gempa Susulan Terjadi di NTT, 124 Dirasakan Warga, Ini Kata Pakar
Winsensius menegaskan, pemerintah tidak hadir untuk mencari siapa yang menang atau kalah dalam dinamika yang terjadi di lapangan.
"Pemerintah hadir bukan untuk mencari siapa yang menang atau siapa yang kalah. Yang harus kita menangkan adalah kepentingan masyarakat," katanya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk menyudahi perbedaan yang muncul dan kembali bekerja bersama demi masyarakat Manggarai Timur.
"Kita tidak sedang berhadapan satu sama lain. Kita sedang berdiri di sisi yang sama, di sisi masyarakat," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Winsensius juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi di lapangan.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, saya sekali lagi mohon maaf untuk ketidaknyamanan di lapangan. Saya bertanggung jawab untuk semuanya," pungkasnya.
Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) viral di media sosisal adu mulut dengan Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Supratman.
Keduanya bertukar kata-kata saat membahas pembagian bantuan bagi warga terdampak gempa.
Peristiwa itu terekam dalam sebuah video berdurasi 6 menit 23 detik diterima TribunFlores.com, Jumat (21/8/2026).
Dalam rekaman tersebut, Agustinus tampak mempersoalkan pembagian bantuan yang harus disalurkan kepada warga di 11 desa.
Agustinus mengaku tertekan karena harus membagi bantuan yang jumlahnya terbatas kepada warga terdampak gempa di 11 desa.
"Saya harus bagi ke sebelas desa, Pak," kata Agustinus dalam rekaman tersebut.
Ia mengatakan, kondisi itu membuat dirinya mendapat tekanan dari warga. Menurut dia, sejumlah desa terus mempertanyakan bantuan yang masuk ke wilayah mereka.
"Semua desa sekarang protes ke saya, semua pada teriak, Pak. Semua pada bilang masuk bantuan," ujarnya.
Agustinus kemudian menjelaskan bahwa bantuan yang tersedia harus dibagi kepada warga di seluruh desa dalam wilayah Kecamatan Lamba Leda Utara.
Ia menyebut jumlah warga yang harus dilayani mencapai 21.171 jiwa.
"21.171 jiwa di Lamba Leda Utara. Harus bagi rata. Saya buat begitu, Pak," katanya.
Dalam video tersebut, Agustinus berulang kali meminta agar bantuan dibagikan secara merata. Ia juga menyampaikan keberatan jika ada pihak yang menyebut bantuan yang masuk ke wilayahnya dalam jumlah banyak.
Menurutnya, bantuan yang tersedia masih harus dibagi kepada banyak warga yang terdampak gempa.
Baca juga: Hari Ini Dijadwalkan ke NTT, Presiden Prabowo Bakal Kunjungi Posko Pengungsi hingga RSUD
"Saya bagi rata ke sebelas desa," katanya berulang kali.
Situasi dalam video kemudian semakin emosional. Agustinus beberapa kali mengaku tidak sanggup menghadapi tekanan dalam mengurus warga terdampak bencana.
"Saya stres. Saya sudah tidak kuat lagi," ucapnya.
Ia juga meminta agar Kepala Dinas datang ke lokasi untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
Agustinus mengatakan dirinya berada dalam posisi sulit karena harus memenuhi kebutuhan warga di sejumlah desa, sementara bantuan yang tersedia terbatas.
Ia kemudian meminta agar pihak yang membawa bantuan ikut melihat langsung kondisi warga di desa-desa lain.
"Kita ke desa. Kita ke sana. Mereka belum makan," katanya.
Namun, ia juga mengakui bahwa warga di desa lain mengalami kondisi yang sama dan membutuhkan bantuan.
"Sebelah desa juga sama, Pak. Sama, sebelah desa," ujarnya.
(Tribunnews.com/Endra/Erik S)(Tribunflores.com/Cristin Adal)