Penjelasan BMKG Soal Suara Dentuman Keras Saat Gempa Guncang DIY
Hari Susmayanti August 22, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah warga mendengar suara gemuruh dan dentuman keras saat terjadi gempa bumi bermagnitudo 3,5 di wilayah DIY pada Kamis (20/8/2026) sore.

Suara itu terdengar di sekitar pusat gempa yakni di jalur Sesar Opak.

Terus dari mana sumber suara gemuruh tersebut?

Menurut analisis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suara gemuruh dan dentuman keras itu berasal dari pusat sumber gempa.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menjelaskan bahwa suara dentuman dan gemuruh dipicu oleh kedalaman pusat gempa yang tergolong dangkal akibat aktivitas Sesar Opak. 

Suara gemuruh dan dentuman keras ini menurut Ardhianto adalah fenomena yang wajar saat gempa bumi yang berpusat di darat.

Biasanya hal itu terjadi saat kedalaman gempa sangat dangkal.

Saat gempa terjadi, gelombang kegempaan merambat dengan jarak yang sangat dekat dari hiposentrum ke permukaan tanah, sehingga meresonansikan udara di sekitarnya.

​"Gempa bumi dangkal (shallow crustal earthquake) sangat lazim disertai dengan suara gemuruh, dentuman, atau ledakan. Hal ini karena kedalaman pusat gempa yang sangat dekat dengan permukaan membuat gelombang seismik frekuensi tinggi langsung terdengar atau terasa di udara sekitar," kata Ardhianto.

Ardhianto menyebut, Sesar Opak merupakan salah satu sesar aktif di wilayah DIY.

Sesar ini memiliki frekuensi kegempaan yang cukup tinggi.

​"Sesar Opak panjangnya kurang lebih 45 kilometer dari Kabupaten Bantul sampai ke Kabupaten Klaten," ujarnya.

Tidak Boleh Lengah

Ardhianto mengungkapkan, rentetan gempa yang di Sesar Opak ini harus diwaspadai oleh seluruh pihak.

Warga yang seluruh pemangku kepentingan harus memperkuat mitigasi bencana untuk meminimalisir korban dan kerusakan jika terjadi gempa bumi.

Semuanya harus bisa memetik pelajaran dari gempa bumi besar yang juga bersumber dari aktivitas Sesar Opak pada tahun 2006 silam. 

Peristiwa tersebut membawa dampak yang sangat masif, mulai dari kerusakan parah pada infrastruktur bangunan hingga jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

​Sebagai langkah antisipasi ke depan, Stasiun Geofisika Sleman menekankan vitalnya pembangunan infrastruktur yang berbasis mitigasi bencana. 

Hal ini harus dibarengi dengan identifikasi dan pemetaan wilayah rawan bencana secara ketat, serta upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat secara kultural melalui literasi dan edukasi kebencanaan yang berkesinambungan.

​Di tengah situasi pascagempa, potensi munculnya misinformasi di tengah masyarakat juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, Ardhianto meminta warga untuk selektif dalam mengonsumsi informasi terkait aktivitas seismik.

​"Masyarakat perlu mendapatkan informasi gempa bumi melalui kanal terpercaya Info BMKG untuk mendapatkan informasi kejadian gempa bumi," katanya.

Baca juga: Temaram Bawa Semesta Marvel ke Musik Cadas Lewat Tiamut

Mengenal Sesar Opak

Sesar Opak adalah patahan kerak bumi aktif yang membentang di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. 

Sesar darat ini bergerak secara mendatar (strike-slip) hingga mengiri (sinistral), membentang sepanjang kurang lebih 30–40 km dari muara Sungai Opak di Pantai Parangtritis (Bantul), melintasi wilayah Sleman, hingga kawasan Klaten.

Sesar Opak ini tergolong dangkal, biasanya berkisar antara 10–20 km. 

Kedalaman dangkal inilah yang membuat guncangannya sangat destruktif di permukaan.

Salah satu gempa besar yang dipicu oleh Sesar Opak adalah Gempa 27 Mei 2006 silam.

Gempa ini berlangsung selama 57 detik dengan magnitudo 6,3.

Wilayah Terdampak Parah Kabupaten Bantul, Klaten, Gunungkidul, Sleman, dan Kota Yogyakarta.

Gempa dahsyat ini menyebabkan kurang lebih 6.200 orang meninggal dunia dan 37.000 luka. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.