Parade Cikar Kabupaten Kediri Makin Diminati di Tahun Kelimanya, 43 Peserta Ikut Pawai
Alga W August 22, 2026 02:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, parade cikar di Kabupaten Kediri kembali digelar.

Tradisi yang mengandalkan sapi sebagai penarik cikar tersebut semakin diminati masyarakat, memasuki tahun kelima pelaksanaannya.

Baca juga: Warga Keluhkan Tarif Parkir Rp10.000 saat Karnaval di Desa-desa, Dishub Ingatkan Ada Perda

Di tahun ini, sebanyak 43 peserta ambil bagian dalam Parade Cikar Kabupaten Kediri.

Jumlah tersebut bertambah dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang diikuti 40 peserta.

Parade dimulai dari depan Taman Totok Kerot, sekitar pukul 10.00 WIB.

Puluhan cikar kemudian bergerak ke arah selatan, memutar di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), hingga akhirnya finis di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M Solikin yang mewakili Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, saat pemberangkatan mengatakan, parade cikar bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap keberadaan transportasi tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

"Ini sudah kelima kali. Niat dan tujuan kegiatan ini tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi mengingatkan bahwa kita punya memori publik tentang transportasi," kata Solikin saat memberikan sambutan, Sabtu (22/8/2026) pagi. 

Solikin juga menilai, keberadaan sapi tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi memiliki nilai ekonomi yang besar.

Menurutnya, sapi merupakan salah satu simbol kemakmuran masyarakat karena memiliki potensi ekonomi yang masih sangat dibutuhkan.

"Kebutuhan daging dan susu masyarakat hari ini sangat tinggi. Kita belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan tersebut," jelasnya.

Oleh karena itu, Pemkab Kediri terus mendorong masyarakat untuk melihat peternakan sebagai salah satu potensi ekonomi.

Parade cikar dan kontes sapi dinilai menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan potensi tersebut kepada masyarakat luas.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih mengatakan, dari 46 cikar yang mendaftar, hanya 43 peserta yang akhirnya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti parade.

Sebelum mengikuti kegiatan, sapi-sapi yang digunakan telah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan hewan.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit hewan menular, mengingat parade berlangsung di ruang publik dan melibatkan masyarakat.

"Dari pendaftaran terakhir ada 46, kemudian setelah pemeriksaan ada tiga yang tidak memenuhi syarat sehingga yang ikut 43. Semua sapi kami cek kesehatannya," jelas Tutik.

Dengan jumlah 43 cikar, setidaknya terdapat sekitar 86 ekor sapi yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Peserta berasal dari sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri, dengan Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah yang mengirimkan peserta terbanyak.

Baca juga: Komisi VIII DPR RI Minta Nasib Guru Madrasah Juga Diperhatikan Soal Wacana Kebijakan Guru PPPK

Selain peternak dan komunitas pelestari cikar, Pemkab Kediri juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut merasakan langsung pengalaman menaiki transportasi tradisional tersebut.

Sekitar 50 siswa dari SDN 1 Wonosari Pagu turut dilibatkan dalam parade.

Sebelum menaiki cikar, mereka mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengkonsumsi produk peternakan, mulai dari telur, daging, hingga susu.

DKPP Kabupaten Kediri juga membagikan sekitar 2.000 butir telur rebus kepada masyarakat yang berada di sepanjang rute parade.

Pembagian tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan produk peternakan lokal kepada masyarakat.

"Temanya kali ini lebih melibatkan masyarakat umum secara langsung. Selain memperkenalkan cikar kembali, kami juga ingin menguatkan sektor peternakan di Kabupaten Kediri," tutur Tutik.

Dalam parade tahun ini, peserta tidak hanya dinilai dari kondisi sapi.

Ada tiga kategori penilaian, yakni performa sapi, kreativitas cikar, serta penggunaan aksesori dan muatan lokal, khususnya produk pertanian Kabupaten Kediri.

Tutik menjelaskan, sapi yang digunakan dalam parade mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk beberapa hasil persilangan.

Sapi-sapi tersebut telah dilatih sehingga mampu mengikuti perjalanan sekitar 5,5 kilometer.

"Ini bukan sapi ekstrem. Kalau terlalu ekstrem justru gerakannya terbatas. Yang digunakan ini ideal dan sudah sangat terlatih," jelasnya.

Sementara itu, Tutik berharap, keberadaan Parade Cikar dapat terus menjadi bagian dari upaya menguri-uri budaya Kabupaten Kediri.

Dengan semakin banyak masyarakat yang terlibat, tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus.

"Harapannya, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, supaya generasi sekarang juga tahu kebudayaan yang lampau," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.