Uniknya Sepeda Roda Raksasa PSB Bandung di BGS: Replika Eropa 1890 yang Mencuri Perhatian
Muhamad Syarif Abdussalam August 22, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sepeda dengan roda depan berukuran besar yang menyerupai kendaraan dari era 1890-an mencuri perhatian di tengah keramaian Bandung Great Sale.

Bentuknya yang tak biasa bukan sekadar pajangan, melainkan replika sepeda klasik asal Eropa yang menjadi salah satu koleksi Paguyuban Sepeda Baheula (PSB) Bandung.

Di balik sepeda unik tersebut, ada komunitas yang selama 21 tahun terus menjaga keberadaan sepeda-sepeda tua di Kota Bandung. Berdiri sejak 2005, PSB Bandung kini memiliki sekitar 1.100 anggota terdaftar dan tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan.

Presiden PSB Bandung, Dadan, mengatakan keberlangsungan komunitas tidak terlepas dari rutinnya kegiatan yang digelar, baik secara mandiri maupun melalui undangan dari komunitas dan penyelenggara acara.

"Untuk PSB saat ini, dari 2005 sampai sekarang tetap eksis karena alhamdulillah anggota kita yang terdaftar lumayan cukup banyak, ada 1.100 yang terdaftar," ujar Dadan di Laswi Heritage, Jumat (21/8/2026).

Dalam Bandung Great Sale, PSB tidak hanya membawa anggota untuk memperkenalkan komunitas, tetapi juga memamerkan sekaligus menjual sejumlah sepeda tua.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali budaya sepeda baheula kepada masyarakat, terutama generasi yang mungkin tidak lagi akrab dengan kendaraan klasik tersebut.

Dadan mengatakan sejumlah anggota PSB masih menyimpan sepeda yang usianya sangat tua. Bahkan, beberapa sepeda yang dimiliki anggota berasal dari era 1930-an.

Di antara koleksi yang dipamerkan, terdapat sepeda dengan roda depan berukuran sangat besar. Sepeda tersebut merupakan replika dari model sepeda yang diproduksi pada sekitar 1890.

"Model asli sepeda berasal dari Eropa. PSB pernah melihat langsung model aslinya ketika salah seorang anggota komunitas menghadiri kegiatan di Eropa. Replika itu kemudian dibuat dengan mencontoh bentuk sepeda aslinya. Meski tampilannya dibuat menyerupai model asli, fungsi dan penggunaannya tentu berbeda," kata Dadan.

Sepeda dengan roda besar tersebut juga memiliki cara penggunaan yang berbeda dari sepeda ontel biasa. Posisi tempat duduknya tetap menyerupai sepeda pada umumnya, tetapi pengendara harus menaikkan kaki dari bagian bawah untuk mencapai pedal.

Dadan mengakui minat terhadap sepeda ontel mengalami pasang surut seiring perubahan zaman. Namun, kondisi tersebut tidak membuat PSB kehilangan anggota.

Menurutnya, salah satu cara komunitas mempertahankan eksistensi adalah dengan memastikan selalu ada kegiatan. Ketika sebagian anggota lama tidak dapat mengikuti kegiatan, anggota lain dapat menggantikan. Di saat bersamaan, anggota baru juga terus bermunculan.

Kegiatan besar juga menjadi momentum untuk kembali mempertemukan anggota lama yang sebelumnya jarang terlihat. Salah satunya Bandung Lautan Ontel (BLO) yang pada November mendatang akan memasuki penyelengaraan ke-7.

Meski berusia puluhan hingga hampir satu abad, sepeda tua menurut Dadan tidak selalu membutuhkan perawatan yang rumit.

"Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kondisi material sepeda, terutama memastikan bagian besinya tidak keropos. Jika kondisi material masih baik, perawatannya relatif sederhana mau ada cat maupun tidak ada cat gampang, tinggal dicuci saja," ujarnya.

Kecintaan terhadap sepeda tua juga berkembang menjadi aktivitas ekonomi bagi sejumlah anggota PSB.

Dalam Bandung Great Sale, beberapa sepeda yang dibawa memang sengaja dipilih untuk dijual. Harganya cukup beragam, mulai dari Rp7,5 juta hingga Rp15 juta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.