BANGKAPOS.COM, BANGKA – Produksi beras Kabupaten Bangka Selatan dipastikan telah mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat berdasarkan prognosis kebutuhan beras.
Meski demikian, kontribusi produksi daerah untuk memenuhi kebutuhan beras Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih berada pada kisaran 33 hingga 35 persen.
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menilai peningkatan produksi tetap menjadi pekerjaan besar agar daerah mampu menjadi penyangga swasembada beras tingkat provinsi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, bilang hasil produksi padi yang ada saat ini telah memenuhi kebutuhan masyarakat di tingkat kabupaten.
Perhitungan tersebut didasarkan pada konversi produksi gabah terhadap rata-rata kebutuhan beras per kapita penduduk.
Dengan kondisi itu, Kabupaten Bangka Selatan dinilai telah mencapai swasembada beras untuk kebutuhan wilayahnya sendiri.
“Kalau untuk produksi Bangka Selatan secara prognosis kebutuhan beras, produksinya sudah mencukupi kebutuhan masyarakat Bangka Selatan,” kata Luhung kepada Bangkapos.com, Sabtu (22/8/2026).
Namun, kapasitas produksi Kabupaten Bangka Selatan belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Saat ini produksi daerah hanya menyumbang sekitar 33 sampai 35 persen dari total kebutuhan beras provinsi. Artinya, pasokan dari Kabupaten Bangka Selatan masih belum cukup untuk mewujudkan swasembada beras di tingkat provinsi secara menyeluruh.
Luhung menjelaskan rata-rata produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan setiap tahun berada di kisaran 30 hingga 32 ribu ton.
Apabila ingin memenuhi kebutuhan beras Provinsi Bangka Belitung, produksi tersebut harus meningkat hampir tiga kali lipat.
Menurutnya, angka ideal yang perlu dicapai berada pada kisaran minimal 100 ribu ton per tahun.
“Kalau sekarang produksi padi mencapai 30.000-32.000 ton, maka untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus digenjot hingga minimal 100.000 ton per tahun,” jelas Luhung.
Sementara itu, hingga Musim Tanam (MT) II tahun 2026, produksi padi Bangka Selatan telah mencapai 18.232,95 ton.
Produktivitas rata-rata juga meningkat menjadi 4,51 ton per hektare dibandingkan tahun 2025 yang berada di angka 4,02 ton per hektare.
Kenaikan tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil panen pada sentra-sentra persawahan di daerah.
Pemerintah daerah menargetkan total produksi padi tahun 2026 mencapai 32 ribu ton.
Hingga berakhirnya MT II, realisasi produksi sudah melampaui 55 persen dari target tahunan tersebut. Karena itu, pihaknya tetap optimis sasaran produksi dapat tercapai hingga akhir tahun.
Pasalnya pola tanam di daerah ini menggunakan tiga masa tanam, yaitu MT I pada Oktober hingga Februari, MT II pada Maret hingga Mei–Juni, dan MT III pada Juni hingga Oktober.
Sebagian besar petani rata-rata menanam dua kali dalam setahun, sedangkan hasil panen MT III umumnya baru dipanen setelah memasuki tahun berikutnya.
“Sampai dengan MT II kita sebenarnya sudah berada di atas 55 persen dari target produksi tahun 2026 dan kami masih optimistis target itu tercapai,” ungkapnya.
Di tengah peningkatan produksi, sektor pertanian Bangka Selatan mulai menghadapi tantangan perubahan iklim akibat El Nino Godzilla yang melanda secara nasional.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk lahan persawahan sehingga pemerintah mulai melakukan langkah mitigasi. Fokus utama yang dilakukan adalah menjaga pasokan air agar produktivitas pada MT III tidak terganggu.
Laporan penyusutan debit air mulai diterima dari petani di Desa Pergam dan Desa Rias.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terjadinya gagal panen apabila sumber air terus berkurang selama musim kemarau.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Pertanian bersama Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) telah berkoordinasi untuk mempercepat program pompanisasi sebagai solusi penyediaan air irigasi.
“Kawan-kawan dari Desa Pergam maupun Desa Rias sudah melaporkan penyusutan kondisi air, sehingga kami mendorong percepatan pompanisasi untuk perairan,” pungkas Luhung. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)