Pesawat P-8A AS Lintasi Selat Taiwan, Beijing Pakai Mode Siaga Penuh
Saifullah August 22, 2026 08:23 PM

 

Pesawat patroli AS P-8A Poseidon melintasi Selat Taiwan pada Jumat (21/8/2026), menjelang rencana pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump.

SERAMBINEWS.COM, TAIPEI – Ketegangan di kawasan Selat Taiwan kembali menjadi perhatian setelah sebuah pesawat patroli milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melintas di wilayah tersebut, Jumat (21/8/2026).

Penerbangan itu berlangsung hanya beberapa pekan sebelum rencana pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di Amerika Serikat (AS).

Pesawat yang digunakan Washington adalah P-8A Poseidon, pesawat patroli dan pengintaian maritim yang biasa digunakan untuk memantau aktivitas di kawasan laut strategis.

Armada Ketujuh AS menyatakan penerbangan dilakukan di ruang udara internasional dan sesuai dengan ketentuan hukum internasional.

Menurut Washington, aktivitas tersebut merupakan bagian dari komitmen AS dalam menjaga kebebasan navigasi dan mempertahankan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka.

“Dengan beroperasi di Selat Taiwan sesuai dengan hukum internasional, AS menegakkan hak-hak serta kebebasan bernavigasi bagi semua bangsa,” demikian pernyataan Armada Ketujuh AS.

Penerbangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa meskipun hubungan Washington dan Beijing tengah diarahkan menuju dialog, aktivitas militer AS di sekitar Taiwan tetap berlangsung.

Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone Hermes 900 Milik Israel, Pesawat Pengintai Paling Canggih Zionis

Cina Kerahkan Personel Pemantau

Langkah Amerika Serikat itu langsung mendapat perhatian dari Beijing.

Militer China disebut mengerahkan personel untuk memantau pergerakan pesawat P-8A Poseidon selama menjalankan penerbangan di Selat Taiwan.

Media Pemerintah Cina, Global Times, mengutip sumber militer yang menyebut seluruh aktivitas pesawat AS telah dipantau.

Beijing juga menyatakan situasi berada dalam kendali.

Penerbangan pesawat militer AS maupun pelayaran kapal perang Amerika di Selat Taiwan bukan hal baru.

Aktivitas serupa dilakukan secara berkala sebagai bagian dari operasi militer AS di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, setiap kehadiran militer AS di Selat Taiwan tetap sensitif bagi Cina.

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan memandang persoalan tersebut sebagai urusan dalam negeri yang tidak boleh dicampuri negara lain.

Cina juga menilai Taiwan merupakan bagian penting dari kepentingan nasionalnya.

Karena itu, aktivitas militer negara asing di sekitar pulau tersebut kerap mendapat respons keras dari Pemerintah Cina.

Di sisi lain, Taiwan menolak klaim Beijing.

Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa masa depan wilayah tersebut harus ditentukan oleh rakyat Taiwan sendiri.

Baca juga: Pesawat Pengintai AS Mendekat, Korea Utara Kerahkan Pesawat Tempur

Terjadi Menjelang Pertemuan Xi dan Trump

Waktu penerbangan P-8A Poseidon menjadi sorotan karena berdekatan dengan rencana pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump bulan depan.

Pertemuan kedua pemimpin tersebut diharapkan dapat membantu meredakan sejumlah persoalan yang selama ini membebani hubungan AS-Cina.

Selain isu Taiwan, kedua negara masih menghadapi perbedaan mengenai perdagangan, teknologi, keamanan serta berbagai persoalan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam situasi tersebut, penerbangan pesawat pengintai AS dapat menjadi sinyal bahwa Washington tetap mempertahankan aktivitas militernya meski membuka ruang diplomasi dengan Beijing.

Bagi AS, keberadaan dan operasi militernya di kawasan disebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan kebebasan navigasi.

Sementara bagi Cina, aktivitas tersebut dipandang sebagai bentuk campur tangan terhadap wilayah yang diklaim sebagai bagian dari kedaulatannya.

Dengan demikian, Selat Taiwan kembali menjadi titik sensitif hubungan dua negara besar tersebut.

Di tengah persiapan pertemuan Xi dan Trump, kedua pihak tampaknya masih berusaha menjaga keseimbangan antara dialog diplomatik dan kepentingan strategis masing-masing.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.