Menaut Waktu, Merekam Jejak: Mengungkap Sejarah Disabilitas yang Luput dari Arsip
Yoseph Hary W August 23, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejarah disabilitas di Indonesia belum sepenuhnya tercatat. Di antara dokumen-dokumen resmi yang tersimpan di lembaga arsip, terdapat pengalaman, peristiwa, tubuh, karya seni, dan ingatan yang luput dari catatan sejarah.

Kegelisahan tersebut menjadi pijakan pameran Menaut Waktu, Merekam Jejak di Art Gallery Zona D, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta.

Pameran arsip dan kontra-arsip kolaboratif ini digagas Jay Afrisando bersama Ba(WA)yang Production, Teater Braille, SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak), serta Sedikit Terlibat. 

Pameran dibuka pada Sabtu (22/8/2026) malam dan dapat dikunjungi publik mulai 23 Agustus hingga 2 September 2026, setiap hari pukul 10.30-21.30 WIB.

Menaut Waktu, Merekam Jejak bermula dari penelitian arsip Jay Afrisando di KITLV (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia) serta penelitian lapangan di Indonesia dalam program Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025-2026.

Dari proses tersebut, Jay kemudian mengembangkan kolaborasi dengan sejumlah komunitas. Temuan arsip tidak berhenti pada upaya untuk dipamerkan, tetapi direspons dan dikembangkan menjadi kontra-arsip bersama.

Arsip pengalaman hidup yang tak tercatat

Jay mengatakan, arsip dalam pameran tersebut tidak dipahami hanya sebagai dokumen resmi yang tersimpan di institusi. Pengalaman hidup yang tidak tercatat juga dapat menjadi arsip.

“Jadi ada banyak sekali pengalaman-pengalaman tak tercatat, dan itu juga bentuknya bermacam-macam. Ada yang berupa seni, ada yang berupa ketubuhan, dan bentuk-bentuk lainnya,” ujar Jay pada Tribun Jogja ditemui pada pembukaan pameran.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah infografis Sejarah Bertumbuh Disabilitas di Indonesia. Karya hasil riset Jay Afrisando, Terry Perdanawati, Rini Rindawati, dan Slamet Thohari tersebut mencoba memetakan perjalanan disabilitas melalui berbagai peristiwa dan gerakan dalam sejarah Indonesia.

Pemetaan itu tidak hanya mencatat peristiwa yang secara langsung berkaitan dengan disabilitas, seperti perkembangan kebudayaan, medikalisasi, aktivisme, hukum, dan pendidikan. Sejumlah peristiwa umum dalam sejarah Indonesia juga dibaca kembali dari perspektif disabilitas.

Penjajahan, penindasan, penyakit, hingga pandemi menjadi bagian dari pembacaan tersebut. Perspektif ini membuka kemungkinan untuk melihat sejarah Indonesia dari pengalaman kelompok yang selama ini kerap berada di pinggir catatan utama.

Foto-foto dalam karya tersebut bersumber dari sejumlah koleksi, antara lain Hans Pols, Slamet Thohari, KITLV Universiteit Leiden, Alice Dewey, National Museum of World Cultures, serta Tim Dokumentasi Pekan Kebudayaan Difabel 2026.

Tidak berhenti pada infografis, pameran menghadirkan fotografi yang merespons arsip lama sekaligus menciptakan arsip baru. Ada pula karya yang membaca kembali arsip kolonial melalui situasi dan pengalaman pada masa kini.

Keragaman medium

Permainan papan dan kartu digunakan sebagai medium edukasi untuk membangun pengetahuan tentang disabilitas dan aksesibilitas. Sementara karya lukisan berangkat dari pengalaman teman-teman difabel sekaligus membayangkan disabilitas sebagai bagian dari masa depan.

Keragaman medium tersebut memperlihatkan bahwa pameran ini bukan semata-mata upaya menghadirkan kembali sejarah. Lebih jauh, Menaut Waktu, Merekam Jejak mempertanyakan bagaimana sejarah dibentuk, siapa yang memiliki ruang di dalamnya, serta pengalaman siapa yang selama ini tidak tercatat.

Bagi Jay, cara membaca arsip menjadi penting untuk menggeser pandangan terhadap disabilitas yang masih kerap dilekatkan dengan stigma, belas kasihan, medikalisasi, maupun anggapan bahwa kondisi tersebut harus diperbaiki.

“Pameran ini tujuannya mengajak teman-teman semua untuk membaca kembali disabilitas itu apa. Lalu membaca disabilitas dari sudut pandang dekolonialisme, anti-abelisme, dan lintas paradigma dan bidang,” katanya.

Melalui perspektif tersebut, disabilitas tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dikasihani atau diperbaiki, melainkan sebagai bagian dari keragaman dan identitas manusia. Pengalaman disabilitas pun dibaca dalam konteks sosial, politik, budaya, hingga sejarah.

Pembacaan terhadap arsip kolonial menjadi salah satu pintu masuk penting. Pameran mencoba menelisik bagaimana cara pandang kolonial terhadap tubuh dan manusia membentuk pengetahuan tentang disabilitas, sekaligus bagaimana pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

Keterlibatan banyak pihak membuat pameran berkembang menjadi ruang yang komunal. Pengalaman teman-teman difabel tidak sekadar ditempatkan sebagai objek yang dilihat, tetapi menjadi sumber pengetahuan dalam proses penciptaan karya.

Pembukaan pameran turut dimeriahkan pertunjukan tari karya koreografer Yayas Christy. Pertunjukan tersebut dibawakan Yayas Christy, Devina Lisdiyanty, Dela Puspita, dan Rika Aprinda, dengan dukungan musik Jay Afrisando, Leilani Hermiasih, Rani Jambak, dan Hario Efenur.

Pada akhirnya, Menaut Waktu, Merekam Jejak menempatkan arsip bukan sebagai catatan masa lalu yang beku. Arsip menjadi ruang untuk menautkan pengalaman yang terpinggirkan dengan sejarah yang lebih luas.

Dari sana, pameran mengajak publik membaca kembali disabilitas bukan sekadar sebagai persoalan kondisi tubuh, tetapi sebagai bagian utuh dari sejarah, kebudayaan, kehidupan manusia, sekaligus cara untuk membayangkan masa depan yang berbeda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.