Kritik Warga DIY: Pertanyakan Klasifikasi Desil yang Tak Mencerminkan Kondisi Finansial Masyarakat
Yoseph Hary W August 23, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Masyarakat dibikin cemas dan khawatir dengan rencana pemerintah membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berdasarkan desil. Pasalnya, klasifikasi desil dari pemerintah sejauh ini dinilai tidak mencerminkan kondisi riil finansial masyarakat. 

Warga Triharjo, Kabupaten Sleman, Andri, mempertanyakan klasifikasi desil yang menempatkannya pada desil 10.

Desil tidak mencerminkan kondisi finansial warga 

Menurutnya, pendataan yang dilakukan oleh petugas tidak mencerminkan kondisi finansial yang utuh karena hanya mendata barang yang dimiliki di rumah saat ini tanpa menanyakan riwayat kepemilikan, apakah dibeli secara tunai, kredit, atau berasal dari utang, warisan atau hibah orang tua.

Kekhawatirannya muncul ketika ia iseng mengecek desil ternyata masuk desil 10. Padahal finansial yang dimiliki dirasakan cukup jauh dari desil tertinggi. 

"Jadi kan itu jumat (14/8) aku di daftar. Kemudian Sabtu ngecek, loh kok masuk desil 10 aneh. Kalau misalkan aku harus mengategorikan diriku sendiri, itu mungkin antara 5 sampai 6, tengah-tengah lah, itu masih oke. Tapi kalau 7 pun enggak masuk apalagi 10, kan aneh," keluh pekerja swasta itu. 

Warga lainnya, Sari, asal Kalasan, berpandangan kebijakan tersebut dinilai gegabah dan tidak matang karena kurangnya kejelasan kriteria penilaian, sumber data, serta sosialisasi yang memadai kepada masyarakat.

"Niatnya  baik tapi gegabah, dalam artian belum siap dalam segala hal," kata dia.

Sementara klasifikasi desil masih dipertanyakan, pemerintah malah berencana membatasi pembelian BBM bersubsidi berdasarkan desil. 

Terang saja rencana itu menuai kritik dan penolakan di masyarakat.

Kebijakan pembatasan ini rencananya akan menyasar kelompok rumah tangga desil 10, termasuk dalam pembelian Pertalite.

Sebagai informasi, desil 10 merupakan kelompok rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan ekonomi paling tinggi berdasarkan pengelompokan Data Tunggal Sosial and Ekonomi Nasional (DTSEN).

Tumpang tindih dengan aturan kapasitas mesin kendaraan 

Andri menilai aturan pembatasan yang mengacu pada tingkat desil ini tidak tepat dan tumpang tindih dengan regulasi kendaraan yang ada.

Ia menilai bahwa kebijakan pembatasan BBM bersubsidi berbasis desil berpotensi tumpang tindih dengan aturan kapasitas mesin kendaraan yang sebelumnya telah ditetapkan oleh PT Pertamina.

"Artinya, kalau gitu aturannya ya tumpang tindih. Kan kemarin sudah ada aturan soal Pertalite itu untuk mobil 1.400 cc ke bawah. Kalau desil 10 tapi mobilnya cc-nya kecil, sementara yang desil 7 mobilnya Fortuner atau apa kan ya enggak adil dong," ujar Andri, Jumat (21/8/2026). 

Menurutnya, penentuan pembelian BBM bersubsidi seharusnya dipatok berdasarkan spesifikasi atau kapasitas mesin kendaraan, bukan berdasarkan tingkat desil kesejahteraan rumah tangga.

Ia menambahkan, orang yang masuk dalam kategori desil 10 belum tentu memiliki mobil mewah, melainkan kendaraan dengan kategori city car berkapasitas mesin kecil seperti mobil miliknya keluaran 2016 berkapasitas di bawah 1.400 cc.(RIF) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.