Sade Dikunjungi Turis Asing Sejak 1983: Rumah Adat Berusia Ratusan Tahun Itu Ludes Dalam Semalam
Sirtupillaili August 23, 2026 11:22 AM

TRIBUNLOMBOK.COM, PRAYA - Terbakarnya rumah-rumah tradisional Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya menyisakan luka bagi korban. Tapi menjadi duka seluruh warga Suku Sasak-Lombok.  

Kobaran api pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026 itu, dengan cepat menghanguskan rumah-rumah adat tradisional yang telah dijaga selama ratusan tahun. 

Di tengah modernisasi dan pesatnya pembangunan di kawasan Mandalika, warga Sade dengan teguh memilih tetap menjaga warisan leluhur mereka. Rumah-rumah beratap ilalang dan dinding gedek bambu dengan segala keunikan itu telah menjadi simbol pertahanan identitas warga Suku Sasak. 

Dengan mempertahankan identitas lokalnya, kampung Sade justru menjelma menjadi daya tarik jutaan pelancong dari berbagai penjuru negeri. Saban hari, ribuan turis berkunjung karena ingin tahun sejarah dan akar budaya Suku Sasak. 

Sampai musibah yang tidak diduga-duga itu datang, dalam semalam, 100 lebih rumah adat itu ludes, hangus terbakar api.

Baca juga: Korban Kebakaran Desa Sade Mengungsi Sementara di Bangunan KDMP

Mengenal Desa Adat Sade

lihat foto
SADE: Desa Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB merupakan salah satu objek wisata yang bisa dinikmati di sela-sela menonton MotoGP di Mandalika.

Kampung Adat Sade sendiri merupakan salah satu dari 21 dusun yang ada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Data tahun 2025 menunjukkan, ada 90 kepala keluarga (KK) yang menempati rumah tradisonal.

Selain rumah, bangunan lain di dalam kampung berupa 1 masjid, 15 berugak, 10 lumbung padi, 1 pelonggo, 1 balen gamelan (rumah gamelan), dan  2 toilet umum yang dibangun untuk wisatawan.

Kampung ini merupakan kampung hunian yang telah berusia 15 generasi Suku Sasak. Berdasarkan catatan sejarah lokal dan pemandu wisata, desa ini sudah ada sejak sekitar abad ke-15 atau 600 tahun lalu.

Dengan perhitungan abad ke-15 Masehi mencakup rentang waktu dari tahun 1401 M hingga 1500 M.

Desa Adat Sade sendiri kini telah berkembang menjadi 9 kampung hunian di sekitarnya yaitu Sade Daye, Sade Lauk, Bontor Daye, Bontor Lauk, Panjar, Nampang, Lapuh, Kumbaq, Dan Pendong-endong.

Ketua Pokdarwis Sade, Sanah saat diwawancarai Tribun Lombok, pada Minggu (10/8/2025) lalu, menjelaskan, kampung ini dipimpin oleh seorang kepala dusun yang di sebut Jero Keliang.

Ia menyatakan, Desa Adat Sade telah dikunjungi wisatawan asing sejak 1983. Karena itu, Desa Sade bukanlah sebuah desa wisata bentukan untuk sebuah atraksi pariwisata. Lebih dari itu, Sade merupakan wajah permukiman warga Suku Sasak sejak tempo dahulu. 

Sade tetap bertahan menjadi kampung tradisional dengan bangunan yang beratap alang-alang. Dinding anyaman bambu dan lantai rumah yang pada waktu tertentu dipel atau dibersihkan menggunakan kotoran kerbau/sapi.

Lebih lanjut Sanah menyampaikan, hanya ada sekitar 100 unit bangunan rumah tua di dalam kampung. Ketika ada warga yang membangun rumah baru harus membangun di luar karena sudah tidak ada tempat untuk bangunan baru. 

Diketahui, saat ini Sade setiap harinya sangat ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan juga domestik.

Salah satu daya tarik kampung ini bagi wisatawan adalah kehidupan warga yag masih mempertahankan tradisi, bangunan dengan arsitektur jaman dulu, tari-tarian sasak, tenunan tangan serta masih banyak yg bisa dilihat. 

"Inilah yg membuat sade banyak dikunjungi, juga di sini pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, tidak ada tiket hanya bila berkenan memberikan donasi di pintu masuk," kata Sanah.

Namun secara ekonomi, lanjut Sanah, Sade memberikan manfaat bagi semua dusun di Desa Rembitan dan juga desa lain karena banyak produk mereka yang di pasarkan di Sade. 

"Semoga kami warga di sini tetap bisa mempertahankan keberadaan Sade sebagai kampung adat Sasak yang tersisa karena hampir tidak ada lagi pemukiman tradisional yang bisa dijumpai di Lombok. Inilah juga yang membuat wisatawan tetap datang ke sini sekalipun Sade sangat banyak kekurangannya," ujar Sanah, kala itu.

Kebakaran Desa Adat Sade

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.