TRIBUNLOMBOK.COM - Kampung wisata Sade adalah salah satu dari 21 dusun yg ada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok tengah, NTB. Ada 90 kepala keluarga yang menempati rumah tradisonal.
Bangunan lain selain rumah di dalam kampung adalah 1 masjid, 15 berugak , 10 lumbung padi, 1 pelonggo, 1 Balen gamelan dan 2 toilet umum untuk wisatawan.
ketua Pokdarwis Sade, Sanah menjelaskan kampung ini merupakan kampung hunian yg telah berusia 15 generasi, dan telah membesar menjadi 9 kampung hunian di sekitarnya yaitu Sade Daye, Sade Lauk, Bontor Daye, Bontor Lauk, Panjar, Nampang, Lapuh, Kumbaq, Dan Pendong-endong.
Dikatakan Sanah, kampung ini dipimpin oleh seorang kepala dusun yang di sebut Jero Keliang.
Sade telah di kunjungi wisatawan asing sejak 1983 sehingga Sade bukanlah sebuah Desa wisata bentukan untuk sebuah atraksi pariwisata, namun Sade adalah pemukiman warga suku sasak. Suku Sasak adalah suku tertua di pulau Lombok.
"Saat ini Sade masih bertahan menjadi kampung tradisional dengan bangunan yang beratap alang-alang. Dinding anyaman bambu dan lantai rumah yang pada waktu tertentu di pel atau dibersihkan menggunakan kotoran kerbau/sapi," terang Sanah.
Lebih lanjut Sanah menyampaikan, hanya ada sekitar 100 unit bangunan di dalam kampung. Ketika ada warga yang membangun rumah baru harus membangun di luar karena sudah tidak ada tempat untuk bangunan baru.
Diketahui, saat ini Sade setiap harinya sangat ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan juga domestik.
Hal menjadi daya tarik untuk wisatawan adalah kehidupan warga yag masih mempertahankan tradisi, bangunan dengan arsitektur jaman dulu, tari-tarian sasak, tenunan tangan serta masih banyak yg bisa dilihat.
"Inilah yg membuat sade banyak dikunjungi, juga di sini pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, tidak ada tiket hanya bila berkenan memberikan donasi di pintu masuk," beber Sanah.
Namun secara ekonomi, lanjut Sanah, Sade memberikan manfaat bagi semua dusun di Desa Rembitan dan juga desa lain karena banyak produk mereka yang di pasarkan di Sade.
"Semoga kami warga di sini tetap bisa mempertahankan keberadaan Sade sebagai kampung adat Sasak yang tersisa karena hampir tidak ada lagi pemukiman tradisional yang bisa dijumpai di Lombok. Inilah juga yang membuat wisatawan tetap datang ke sini sekalipun Sade sangat banyak kekurangannya," demikian Sanah.
Sayangnya, asa untuk terus melestarikan satu-satunya pemukiman tradisional Sasak yang tersisa itu kini berhadapan dengan cobaan berat.
Musibah kebakaran hebat melanda kawasan permukiman tradisional Suku Sasak di Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam, sekira pukul 20.00 WITA.
Kobaran api yang sangat cepat membesar meratakan sebagian besar bangunan rumah adat yang didominasi material alam seperti atap alang-alang dan dinding bambu.
Amaq Jery alias Anton, salah seorang warga Desa Sade mengungkapkan detik-detik api dengan cepat melahap permukiman warga.
Menurutnya, api pertama kali muncul dalam skala kecil sebelum akhirnya membesar secara cepat dan memicu serangkaian ledakan tabung gas di pemukiman padat tersebut.
"Pertama itu kecil apinya. Lama-lama jadi besar apinya. Tong gas (tabung gas LPG), ribuan tong gas yang meletup," ujar Amaq Jery saat memberikan kesaksian di lokasi kejadian, Sabtu (22/8/2026) malam.
Ia mengungkapkan bahwa cepatnya perambatan api membuat warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga maupun hewan ternak milik mereka.
"Tidak ada yang bisa diselamatkan. Tapi manusia, alhamdulillah sehat semua. Harta barang, peliharaan, habis," lanjutnya.
Meski seluruh harta benda dan bangunan rumah adat ludes terbakar, warga mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam insiden tragis ini.
Seluruh penghuni dan warga setempat berhasil menyelamatkan diri ke tempat aman saat api mulai merambat.
Penyebab pasti kemunculan awal titik api masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Insiden kebakaran ini terjadi sekira pukul 20.00 WITA. Dengan cepat api merembet ke seluruh rumah yang terdiri dari bedek bambu, kayu, lantai tanah, dan beratap ilalang.
Desa Sade merupakan salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Lombok yang terkenal dengan bangunan rumah adat.
Material bangunan yang didominasi bahan alam tersebut membuat area permukiman adat ini sangat rentan terhadap sebaran api.
Jumlah rumah di Desa Sade sekitar 150 rumah tradisional. Setiap rumah dihuni oleh satu kepala keluarga. Jumlah penduduk berkisar antara 700 hingga 750 jiwa. Luas area desa adat ini sekitar 5,5 hektare.
Sementara itu, Tohirman Hayanto, warga Desa Sade lainnya mengungkapkan kepedihannya melihat kondisi kawasan cagar budaya tersebut yang rata dengan tanah.
"Ini kondisi kampung Sasak Sade yang kita cintai. Malam ini sudah tak ada satu rumah pun yang tersisa. Tak ada barang pun yang bisa kita selamatkan karena api begitu cepat," ungkap Tohirman saat memberikan keterangan di lokasi kejadian, Sabtu malam.
Tohirman memperkirakan sekitar 250 unit rumah adat hangus tanpa menyisakan barang berharga milik warga. Konstruksi bangunan yang terbuat dari bambu serta atap alang-alang (ilalang) membuat si jago merah menyebar dengan sangat cepat dari area tengah kampung.
Akibat musibah ini, sekitar 700 Kepala Keluarga (KK) terdampak dan estimasi kerugian diproyeksikan mencapai miliaran rupiah.
Mewakili warga setempat, Tohirman berharap bantuan darurat segera menyasar para korban, baik berupa material bangunan maupun dukungan tenaga untuk proses pemulihan.
"Harapan kami semua masyarakat Kampung Sasak Sade agar bisa dibantu, yaitu dalam bentuk tenaga ataupun material. Kami sangat menunggu bantuan saudara-saudara," pungkasnya.
Baca juga: Damkar Kota Mataram Terjunkan 12 Personel Bantu Padamkan Api Desa Sade