Harga Bahan Baku Naik, Perajin Rambak Wonogiri Pilih Tekan Keuntungan Daripada Korbankan Kualitas
Rifatun Nadhiroh August 23, 2026 11:30 AM

 

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima Sakti

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Dwi Prasetyo dalam menjalankan usaha rambak di Kedungsono RT 4 RW 6, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri.

Harga tepung, minyak goreng, hingga plastik kemasan mengalami kenaikan. Kondisi tersebut otomatis membuat biaya produksi rambak ikut membengkak.

Namun, Dwi memilih tidak langsung menaikkan harga jual produknya.

Ia justru mengambil langkah yang cukup berisiko bagi keberlangsungan usahanya.

Baca juga: Bukan Sekadar Jual Rambak, Perajin di Wonogiri ini Berdayakan Warga hingga Ciptakan Lapangan Kerja

Siasat itu yakni menekan margin keuntungan agar harga rambak tetap terjangkau bagi para pedagang dan pelanggan yang mengambil produknya.

"Harus menghitung ulang. Kualitas dipertahankan, jangan sampai mengubah rasa," ujar Dwi, Jumat (21/8/2026).

Salah satu kenaikan yang paling terasa terjadi pada harga minyak goreng. Dwi mengatakan, minyak goreng yang sebelumnya sekitar Rp190 ribu per karton kini harganya bisa mencapai Rp240 ribu.

Kenaikan tersebut membuat perhitungan biaya produksi harus kembali disesuaikan.

Meski demikian, Dwi tidak ingin kenaikan biaya produksi langsung dibebankan kepada pelanggan.

Menurutnya, para pedagang yang mengambil rambak dari rumah produksinya juga membutuhkan ruang keuntungan agar usaha mereka tetap berjalan.

"Margin mepet. Berjalan sekitar tiga bulan ternyata semakin mepet. Tapi niat saya pemberdayaan, jadi disiasati agar semuanya berjalan," katanya.

Tak Mau Korbankan Rasa

Di tengah tekanan biaya produksi, Dwi memilih mempertahankan kualitas rambak.

Baginya, menekan biaya produksi bukan berarti harus mengurangi kualitas bahan atau mengubah rasa yang selama ini menjadi salah satu kekuatan produknya.

Ia lebih memilih mengurangi keuntungan yang diperoleh daripada mengubah komposisi bahan yang bisa memengaruhi rasa rambak.

"Kualitas dipertahankan, jangan sampai mengubah rasa," tegasnya.

Rambak mentah produksi Dwi saat ini dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram. Sementara rambak yang sudah digoreng matang dibanderol sekitar Rp28 ribu per kilogram.

Harga tersebut menjadi salah satu pertimbangan Dwi agar produknya tetap bisa dijangkau para pedagang yang kemudian menjualnya kembali kepada konsumen.

Bagi Dwi, menjaga harga bukan sekadar persoalan mempertahankan pelanggan. Ada tujuan lain yang ingin ia pertahankan, yakni membuka kesempatan bagi warga untuk ikut mendapatkan penghasilan melalui usaha rambak.

Warga bisa mengambil rambak matang untuk dijual kembali menggunakan nama sendiri. Mereka juga diperbolehkan mengambil rambak mentah, kemudian menggoreng dan memasarkannya sendiri.

Menurut Dwi, pilihan mengambil rambak mentah memberikan peluang keuntungan yang lebih besar.

Bahkan, ia bersedia mengajari pelanggan cara menggoreng rambak agar bisa mengembang dengan sempurna.

"Ada yang awalnya ambil matang untuk dijual. Karena ingin mengembangkan, sekarang ambil mentah untuk digoreng sendiri dan dijual. Saya ajari dulu cara menggorengnya. Sekarang sudah jalan sendiri," ungkapnya.

Salah satu pelanggan, kata Dwi, sebelumnya bekerja di sebuah pabrik. Setiap pulang kerja, orang tersebut mengambil sekitar lima kilogram rambak matang untuk dijual.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai mengambil rambak mentah, menggoreng, dan memasarkannya sendiri.

Bahkan, pelanggan tersebut akhirnya memilih keluar dari pekerjaannya di pabrik untuk fokus mengembangkan usaha rambak.

"Artinya kan lebih menguntungkan jika usaha sendiri," ujar Dwi.

Dwi mengaku tidak takut jika semakin banyak orang mengambil rambak dari rumah produksinya lalu menjualnya kembali.

Ia justru berharap semakin banyak warga yang bisa berkembang melalui usaha tersebut.

Pembeli bahkan bebas memberikan merek atau nama sendiri pada rambak yang dijual.

Hanya saja, Dwi memberikan satu syarat. Produk tersebut harus tetap mencantumkan keterangan bahwa rambak dibuat di rumah produksinya, yakni Rambak Anisa.

"Kalau ambil tempat saya bebas mau diberi nama apa rambaknya. Tapi saya mewajibkan untuk diberi keterangan kalau diproduksi sini, Rambak Anisa, biar kalau di warung atau pasar tidak bertabrakan," jelasnya.

Saat ini, rumah produksi Dwi memiliki lima pekerja. Tiga orang bertugas menggoreng rambak, sedangkan dua lainnya menangani pengemasan.

Jumlah tersebut belum termasuk pelanggan yang mengambil rambak mentah untuk digoreng dan dijual sendiri.

"Jadi saya tidak mencari banyaknya keuntungan, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan," tegas Dwi.

Ia bahkan berharap semakin banyak pelanggan yang memilih mengambil rambak mentah.

"Saya inginnya semua ambil mentah, digoreng sendiri. Kan otomatis punya karyawan itu nanti, belum yang menjualkan," imbuhnya.

Dari Wonogiri hingga Jabodetabek

Pasar Rambak Anisa kini tidak hanya berada di Wonogiri. Pesanan datang dari berbagai kecamatan di Wonogiri, serta wilayah Sukoharjo dan Karanganyar.

Rambak produksi Dwi bahkan telah dikirim ke sejumlah daerah di Jabodetabek, seperti Jakarta, Bekasi, dan Bogor.

"Peminat rambak ternyata banyak sekali," kata Dwi.

Permintaan rambak mentah dan matang saat ini relatif seimbang. Permintaan biasanya meningkat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Kenaikannya bisa mencapai 50 hingga 60 persen.

Dalam kondisi tertentu, permintaan bahkan bisa mencapai dua kali lipat.

Dwi juga melakukan sortir terhadap rambak hasil produksinya.

Rambak yang berukuran terlalu kecil atau masuk kategori sortiran tidak langsung dibuang.

Produk tersebut tetap dijual dengan harga lebih murah.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.