Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk dalam memperluas akses komunikasi bagi komunitas Tuli.
Salah satu inovasi tersebut dikembangkan Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., melalui teknologi penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dapat bekerja tanpa koneksi internet.
Riset tersebut menjadi salah satu dari tiga kebaruan keilmuan yang dipaparkan Prof Esther dalam orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Artifisial Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), Sabtu (22/8/2026).
Melalui prototipe bernama SANDISAPA, Prof Esther mengembangkan sistem yang memungkinkan gerakan BISINDO diterjemahkan langsung melalui perangkat pengguna.
Teknologi tersebut dirancang dengan pendekatan komputasi yang lebih ringan, namun tetap mampu memberikan hasil penerjemahan secara cepat.
Baca juga: Momen Prabowo Bertanya ke 2.600 Guru Besar Kenapa Indonesia Belum Punya Industri Otomotif Sendiri
Berdasarkan hasil penelitian, SANDISAPA mampu mencapai akurasi hingga 87 persen pada 154 kategori isyarat. Sistem tersebut juga memiliki latensi sekitar 120 milidetik sehingga proses pengenalan gerakan dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Prof Esther menjelaskan, sistem tersebut tidak memproses seluruh informasi visual dari video. Dari video beresolusi 1280 × 720 piksel yang mengandung sekitar 2,8 juta nilai, sistem hanya mengambil 225 koordinat titik kerangka tubuh dan tangan.
Pendekatan tersebut membuat data yang diproses menjadi jauh lebih ringkas.
"Rangkaian gerakan tersebut kemudian diringkas menjadi 32 token diskrit sebelum diproses menggunakan model bahasa berukuran sekitar satu miliar parameter yang telah dikuantisasi," urainya.
Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana AI dapat dikembangkan dengan mengutamakan efisiensi komputasi tanpa harus selalu bergantung pada sistem pemrosesan berbasis server.
Salah satu keunggulan utama SANDISAPA adalah kemampuannya beroperasi secara luring atau offline.
Artinya, perangkat pengguna tidak membutuhkan koneksi internet untuk menjalankan proses penerjemahan BISINDO. Sistem memproses data langsung pada perangkat yang digunakan.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan keuntungan dari sisi keamanan data.
"Data warga tidak perlu meninggalkan perangkatnya untuk memperoleh manfaat kecerdasan artifisial," kata Prof Esther dalam orasi ilmiahnya.
Dengan pemrosesan langsung di perangkat, informasi yang diperoleh sistem tidak harus dikirim ke server eksternal. Hal tersebut menjadi bagian penting dari rancangan teknologi, terutama ketika AI digunakan untuk membaca informasi visual dari pengguna.
Prof Esther mengatakan aspek privasi tidak hanya ditempatkan sebagai kebijakan penggunaan data, tetapi juga menjadi bagian dari arsitektur teknologi SANDISAPA.
Sistem dirancang untuk membaca koordinat kerangka tubuh dan tangan, bukan wajah pengguna maupun kondisi ruangan di sekitarnya.
Dengan pendekatan tersebut, informasi visual yang tidak diperlukan dalam proses penerjemahan dapat diminimalkan sejak tahap pengolahan data.
Meski memiliki potensi untuk membantu komunikasi komunitas Tuli, Prof Esther menegaskan SANDISAPA masih berupa prototipe dan belum menjadi produk publik yang siap digunakan secara luas.
"Meski memiliki potensi untuk membantu akses komunikasi komunitas Tuli, SANDISAPA belum menjadi produk publik yang siap digunakan secara luas. Pengembangan masih dilakukan, termasuk memperluas kosakata BISINDO dan melakukan pengujian bersama komunitas Tuli," tegasnya.
Dalam penelitian tersebut, 154 kategori isyarat yang digunakan masih merupakan kosakata awal. Jumlah tersebut belum mencakup keseluruhan kosakata BISINDO yang digunakan dalam komunikasi komunitas Tuli.
Karena itu, pengembangan SANDISAPA masih membutuhkan pengujian dan penyempurnaan lebih lanjut, termasuk dengan melibatkan komunitas Tuli secara langsung.
Pelibatan pengguna menjadi penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya memiliki performa teknis yang baik, tetapi juga benar-benar sesuai dengan kebutuhan komunikasi di lapangan.
Prof Esther menilai pengembangan AI di Indonesia perlu diarahkan pada teknologi yang efisien dan mampu menjawab persoalan lokal. Di saat yang sama, aspek privasi dan aksesibilitas juga harus menjadi bagian dari proses pengembangan sejak awal.
Ia mendorong pengembangan model AI yang lebih kecil dan efisien dengan memanfaatkan korpus Bahasa Indonesia, bahasa daerah, hingga BISINDO.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari kiprah Prof Esther di bidang kecerdasan artifisial. Pada 2026, ia menerima rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai profesor perempuan termuda di bidang Kecerdasan Artifisial di Indonesia.
Selain aktif mengembangkan riset AI, Prof Esther menjabat sebagai Kepala Departemen Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis Digital ISTTS.
Riset SANDISAPA menjadi salah satu kontribusi Prof Esther dalam mendorong pemanfaatan AI untuk memperluas aksesibilitas digital.
Teknologi tersebut sekaligus menunjukkan peluang pengembangan AI lokal yang tidak hanya mengejar kemampuan teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, efisiensi perangkat, keamanan data, dan hak privasi pengguna.