PISPI Serahkan 100.000 Bibit Cabai untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Dwi Rizki August 23, 2026 03:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang mendapat dukungan dari Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI).

Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyerahan 100 ribu batang bibit cabai kepada Pemerintah Provinsi Riau, Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Polda Riau, Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), serta sejumlah pihak lainnya.

Program ini dinilai menjadi langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan ekonomi petani berbasis potensi lokal di Provinsi Riau.

Ketua Umum PISPI, Prof Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang tidak semestinya hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman.

Menurutnya, gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi sekaligus pembangunan ketahanan pangan yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

"Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang harus kita lihat bukan sekadar sebagai kegiatan menanam, tetapi sebagai gerakan ekonomi sekaligus gerakan ketahanan pangan. Target 100 ribu batang harus menjadi awal dari sistem produksi cabai yang terencana, terukur dan berkelanjutan di Riau," ujar Achmad dalam siaran tertulis pada Minggu (23/8/2026).

Baca juga: Libur Panjang Maulid Nabi, KAI Daop 1 Catat 38.842 Pelanggan Berangkat dari Jakarta

Achmad yang juga Guru Besar Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi penting bagi masyarakat Riau.

Karena itu, peningkatan produksi cabai perlu dilakukan secara terencana, mulai dari penyediaan benih berkualitas, pendampingan budidaya hingga pemasaran hasil produksi.

Ia berharap gerakan berbasis daerah tersebut dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas di tingkat nasional.

"Yang paling penting adalah memastikan gerakan kecil berbasis daerah menjadi gerakan nasional. Mari kita manfaatkan sekecil apa pun pekarangan rumah untuk menanam tanaman yang dibutuhkan sehari-hari seperti cabai, bawang daun, selada dan lainnya," katanya.

Achmad juga menekankan pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan budidaya cabai.

Menurut dia, keterlibatan generasi muda, pelajar, komunitas dan perguruan tinggi diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program.

Kolaborasi tersebut juga perlu dihubungkan dengan dunia usaha dan masyarakat agar terbentuk ekosistem pertanian yang lebih terintegrasi, modern dan produktif.

"Ketahanan pangan tidak mungkin dibangun oleh satu pihak. Pemerintah, petani, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan masyarakat harus berkolaborasi," tegasnya.

Ia juga mengajak para alumni insinyur pertanian dan sarjana pertanian untuk mengimplementasikan ilmu yang dimiliki dengan mendorong masyarakat menanam berbagai komoditas yang mudah dibudidayakan dan dikonsumsi sehari-hari.

PISPI Dorong Kemandirian Cabai

Sementara itu, Direktur BUMD Pangan Provinsi Riau sekaligus Ketua BPW PISPI Provinsi Riau, Ade Putra Daulay, menyambut positif Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang.

Menurut Ade, program tersebut dapat memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produksi cabai di Riau.

Dengan peningkatan produksi, Riau diharapkan secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan cabai dari daerah lain.

"Gerakan Tanam Cabe 100 Ribu Batang merupakan langkah nyata untuk memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produksi cabai di Provinsi Riau. Kita ingin Riau semakin mampu memenuhi kebutuhan cabainya sendiri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain," ujar Ade.

Ia mengatakan, program tersebut akan memberikan manfaat lebih besar apabila dilakukan secara berkelanjutan dan dalam skala yang lebih luas.

Selain meningkatkan produksi, dukungan bibit juga dinilai dapat membantu petani menekan biaya produksi dan membuka peluang peningkatan pendapatan.

"Program ini akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila dilakukan secara berkelanjutan dan masif. Bukan hanya menambah produksi, tetapi juga harus mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui dukungan bibit, pendampingan budidaya, efisiensi biaya produksi, serta akses pasar," katanya.

Ade menegaskan keberlanjutan gerakan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

"Pemerintah, BUMD, petani, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat harus mengambil peran sesuai tugas dan fungsinya. Ketahanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.