TRIBUNJOGJA.COM - Kota Yogyakarta kembali menegaskan predikatnya sebagai Kota Festival melalui gelaran Festival Prawirotaman 2026 yang berlangsung di sepanjang Jalan Prawirotaman pada 22 - 23 Agustus 2026.
Event tahunan ini menjadi strategi untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sekaligus mempopulerkan batik di kalangan generasi muda.
Beragam kegiatan dihadirkan untuk memanjakan pengunjung, mulai dari bazar pernak-pernik, pakaian, kuliner lokal, hingga sajian utama yang paling dinantikan publik, yaitu Fashion on the Street.
Pada edisi kali ini, panggung jalanan tersebut mengusung sebuah tema "Contemporary Art Batik Evolution - Milenial Batik Revolution".
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggana, menuturkan, Festival Prawirotaman dirancang sebagai ruang inovasi budaya yang segar dan relevan dengan gaya anak muda modern tanpa menghilangkan akar tradisi.
"Batik hadir dengan cara yang lebih segar. Anak-anak muda mendapatkan ruang untuk berkarya. Pelaku usaha dan UMKM ikut bergerak. Demikian pula wisatawan mendapat pengalaman yang khas ketika berada di Kota Yogyakarta," ujarnya.
Ia menambahkan, rangkaian event ini merupakan bagian dari persiapan menuju peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta yang mengangkat tema "Autentik Konkret".
Menurutnya, event berbasis identitas kawasan yang merepresentasikan karakter kuat Prawirotaman, dapat memberikan dampak ekonomi nyata bagi ekosistem kepariwisataan.
"Warisan budaya kita sangat kaya. Tugas kita sekarang adalah membuat warisan itu terus produktif. Budaya harus bisa melahirkan kreativitas, membuka kesempatan kerja, menggerakkan UMKM, dan menghidupkan pariwisata sekaligus memberi ruang kepada generasi muda untuk tumbuh," tuturnya.
Kawasan Prawirotaman dinilainya sangat strategis sebagai etalase budaya dan kreativitas Kota Yogyakrta karena mempertemukan masyarakat lokal dengan wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap harinya.
Kadri berharap, event ini terus tumbuh bersama masyarakat sehingga sektor akomodasi seperti hotel, restoran, UMKM, hingga pelaku seni mendapatkan dampak positif jangka panjang.
"Ketika batik dan karya anak muda tampil di jalan-jalan Prawirotaman, sesungguhnya kita sedang memperkenalkan wajah Kota Yogyakarta langsung pada dunia," katanya.
"Sehingga hotel dan restoran dapat ikut bergerak, UMKM mendapatkan pasar, seniman dan desainer memperoleh ruang berkarya, sementara wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Kota Yogyakarta," tambahnya.
Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengatakan, Festival Prawirotaman menjadi salah satu instrumen utama dalam menggenjot angka kunjungan wisman.
Dijelaskan, Prawirotaman, bersama kawasan Sosromenduran dan Sosrowijayan, memiliki peran vital sebagai "kampung bule" atau kawasan internasional di Kota Yogyakarta.
Penyelenggaraan festival pada bulan ini pun sangat tepat momentumnya, mengingat periode Juli-Agustus merupakan puncak musim kunjungan atau peak season bagi turis asing.
"Festival Prawirotaman juga telah masuk dalam kalender event Kota Yogyakarta. Diharapkan penyelenggaraan festival dapat terus diperkuat sehingga mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun," terangnya.
Di sisi lain, Founder dan Inisiator Fashion on the Street Prawirotaman, Lia Mustofa, mengungkapkan, gelaran tersebut telah menginjak tahun ke-11.
Bermula dari tugas akhir anak didik, konsep kemudian berkembang pesat menyesuaikan karakter Prawirotaman sebagai kampung wisatawan dan pusat kerajinan batik.
"Karena mungkin vibe-nya kampung wisatawan mancanegara, kemudian punya cerita di balik itu tentang kampung batik. Itu yang membuat akhirnya ter-branding lebih baik," katanya.
Pada tahun 2026, jangkauan Fashion on the Street semakin diperluas tidak hanya di Prawirotaman 1, tetapi juga merambah ke Prawirotaman 2, dilengkapi pameran pendukung di Java Villas Hotel.
Selain melibatkan generasi muda sebagai perancang busana maupun model, sejumlah mahasiswa dan wisatawan asing asal Belanda, Jepang, hingga Korea, turut serta ambil bagian di atas catwalk jalanan.
"Kami memang mengkhususkan para desainer dan modelnya adalah generasi muda. Kami mendorong sebuah keberlanjutan," ujarnya.
Program pendampingan juga terus dilakukan, dan kini telah memasuki angkatan ketiga dengan membina sekitar 25 desainer dan pembatik muda.
Adapun dalam Fashion on the Street Festival Prawirotaman 2026, sebanyak 40 desainer ikut berpartisipasi dengan menampilkan 12 brand.
Selain desainer muda Yogyakarta seperti Rony Bilardo, Prita, Laili, Didi Warsito, dan Putri Ramadhani, festival turut mengundang perancang dari luar daerah seperti Tirsa (Denpasar), Sanet (Malang), dan Mega (Surabaya).
"Salah satu unsur yang harus dipertanggungjawabkan agar penghargaan Kota Batik untuk Yogyakarta ini tetap terjaga adalah mampu meregenerasi generasi muda. Ini mungkin adalah sumbangsih kami untuk Kota Yogyakarta," pungkas Lia. (aka)