Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penanganan kebakaran hutan di Kalimantan masih perlu mendapatkan perhatian serius.
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D., penanganan dan pencegahan karhutla perlu diperkuat melalui sistem yang berkelanjutan.
Priyono menilai Indonesia memiliki modal sosial dan kapasitas kelembagaan yang kuat dalam menghadapi karhutla.
Hal itu dibuktikan dengan adanya kerja sama berbagai pihak, mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
Namun, ia melihat gotong royong yang terjadi selama in masih sebagai respons ketika terjadi krisis.
“Gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan. Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar,” katanya, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, risiko kebakaran hutan dan lahan tidak pernah benar-benar hilang.
Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial.
Karena itu pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan.
Program pencegahan mungkin sudah terbangun, namun ekosistem penjagaan hutan harus diperbuat.
Ekosistem ini tentunya melibatkan pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, aparat penegak hukum, dan lain-lain.
Gotong royong ini memungkinkan semua pihak berada dalam satu ekosistem yang membaca adanya risiko, memonitor perubahan bentang alam, menjaga fungsi ekologis, mengembangkan pengetahuan, dan melakukan interversi dini.
“Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Di situlah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan,” terangnya.
Baca juga: DIY Masuk Kategori Awas Ancaman Karhutla, BMKG Imbau Warga Melapor Jika Ada Titik Api
Ia menyoroti soal peran penting dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).
Sebagai lembaga yang berperan menumbuhkan ekosistem pengetahuan restorasi gambut, BRGM perlu diperkuat.
Di samping itu, pengalaman kebakaran hutan mestinya menjadi memori strategis nasional yang mempu mengubah ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif.
Sebab, keberhasilan penanganan karhutla justru tercapai ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan karena bentang alam telah dijaga sebelum api datang.
“Ketangguhan tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan kebakaran besar. Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana,” imbuhnya. (*)